Wakil Bupati Labuhanbatu Dukung Pembangunan TPU Muslim Sumber Beji

Wakil Bupati Suhari Pane melakukan peletakan batu pertama pembangunan pagar pembatas tempat pemakaman
umum (TPU) Muslim Sumber Beji, Kelurahan Padang Bulan, Kabupaten Labuanbatu, Minggu 24 April 2011.

Suhari mengatakan, TPU Muslim Sumber Beji yang didanai sepenuhnya oleh masyarakat Sumber Beji Kelurahan Padang Bulan tersebut mendapat
perhatiannya karena kelurahan Padang Bulan merupakan tanah kelahirannya. “Jadi sudah sepantasnya saya memberikan perhatian kepada
masyarakat di tanah kelahiran saya,” ujarnya.

Tekait dengan semakain sempitnya lahan di lokasi TPU sekarang Suhari meminta kepada tokoh masyarakat, pemuka agama dan lurah untuk memikirkan pelebaran lahan atau penambahan lokasi TPU baru. “Saya melihat lahan yang ada sekaran sudah padat, jadi perlu dipikirkan pelebaran atau pemindahan lokasi baru,” kata Suhari.

TPU Muslim Sumber Berji yang berlokasi di jalan Adam Malik Rantauprapat itu terletak diatas lahan seluas lebih kurang 3 rante saat ini terlihat penuh dan perlu mendapatkan penambahan lahan. Menanggapi hal itu, kepala kelurahan Padang Bulan Ahmad Syaif,SH mengatakan, bahwa masyarakat bersama wakil bupati telah melakukan pembelian lahan TPU baru tidak jauh dari TPU sekarang.

Pembelian lahan baru yang luasnya sekitar 6 rante itu, kata Ahmad Syarif, menelan biaya tidak kurang dari Rp 210 juta. Dana sebesar itu selain diperoleh
dari swadaya masyarakat juga dibantu sepenuhnya oleh wakil bupati. Sementara pembiayaan pemagaran TPU Muslim Sumber beji tersebut, menurut Ahmad Syarif juga dibantu sepenuhnya oleh wakil bupati Suhari Pane.

“Berkaitan dengan itu saya atas nama masyarakat Padang Bulan mengucapkan terima kasih kepada Bapak Suhari Pane, kiranya bantuan tersebut mendapat berkah dan hidayah dari Allah Swt,” ujar Ahmad Syarif.(fh)

Iklan

Warga Medan Membunuh di Madina, Ditangkap di Labuhanbatu

Personil Polres Labuhanbatu berhasil menangkap seorang tersangka yang diduga pelaku pembunuhan di dusun III desa Bintungan Bejangkar Baru Kec Batahan Kab Madina, Sumatera Utara. Itu, berkat informasi yang dikirimkan pihak Polres Madina. Disebutkan, pelaku kejahatan yang disangkakan melanggar pasal 338 KUHP tersebut berhasil ditangkap di Dusun Sidorukun Simpang Pangkatan kecamatan Bilah Hulu, Labuhanbatu, Sumatera Utara, Selasa 19 April 2011 sekitar jam 01.30 oleh Sat Reskrim Labuhanbatu, pada saat tersangka sedang melarikan diri.

Setelah menerima informasi dari Polsek Batahan yang menyebutkan tersangka RCS alias MAH als Bimas, 35 warga simpang Lemon, Medan telah melukai dan menghilangkan nyawa korban Hamidah, 35, Ibu Rumah Tangga, warga Dusun III Desa Bintungan Bejangkar Baru Kec Batahan Kab Madina dan Misikem, 77, Ibu dari korban Hamidah, dan diketahui melarikan diri ke wilayah hokum Mapolres Labuhanbatu, pihak kepolisian melakukan pengejaran.

Disebutkan pula, kronoligis kejadian, tersangka bermoduskan pertengkaran mulut. Namun, dalam pertengkaran tersebut kemudian datang mertua dari sitersangka membela Hamidah (korban, red). Sehingga membuat tsk emosi dan kalap langsung mengambil sepotong kayu bakar dan memukulkannya kepada ke dua korban sehingga ke dua korban mengalami luka robek dan memar pada kepala bagian belakang serta luka lecet pada ke dua pergelangan tangan dan kaki dan meninggal dunia di TKP. Selanjutnya tersangka melarikan diri dengan membawa sepeda motor honda supra X No pol BK 3694 TY milik mertua tersangka.

Dari laporan Polsek Batahan Senin tanggal 18 April 2011 sekitar pukul 16.00 wib dan laporan pihak Polres Madina tersebut, Satuan Reskrim Labuhanbatu melakukan pengejaran tersangka. Akhirnya, tersangka RCS berhasil digagalkan melakukan pelariannya. Dan dari tangan tersangka juga berhasil diamankan beberapa barang bukti. Diantaranya, Buku nikah an TSK dan Korban, Sepeda motor Supra X BK-3694-TY, sebilah bilah keris, sebilah pisau dan BPKB sepeda motor Supra X BK-3694-TY.

Kapolres Labuhanbatu AKBP Hirbak Wahyu Setiawan melalui AKP Titok Hutauruk Kasat Reskrim Mapolres Labuhanbatu dalam rilis pers yang diterima membenarkan kejadian itu. Dan mengungkapkan tersangka kini ditahan pihak Polres Labuhanbatu untuk diamankan, guna proses selanjutnya. “Sekarang tersangka telah diamankan di Mapolres Labuhanbatu untuk menunggu penjemputan dari Polres Madina,” tegas Titok. (fdh)

Potret Buram Kemiskinan di Labuhanbatu, Berlatar Mobil Mewah Pejabat

Kepemimpinan seorang Kepala Daerah dari profesi dokter, bukan berarti kemiskinan jauh dari sendi kehidupan masyarakatnya. Longoklah ke beberapa sudut pemukiman masyarakat miskin kota di Labuhanbatu, Sumatera Utara. Kemirisan akan kemiskinan tentu akan terlihat kentara. Kemiskinan disana, kerap sebagai penyebab menurunnya kualitas kehidupan masyarakatnya. Lantas Visi yang dikultuskan tentang Labuhanbatu sejahtera masih pantas untuk diperdebatkan?


Gerimis sore itu, membasahi halaman rumah di jalan Pendidikan Kelurahan Perdamaian Rantau Selatan, Labuhanbatu. Rumah kediaman Oba Hariani (36) ini baru saja disambangi sejumlah staf PTPN3 kebun Rantauprapat.

Ketika itu, diketahui para staf perkebunan Negara tersebut membawa sejumlah bingkisan dalam bungkusan. Mungkin, itu sebagai bentuk kepedulian social sesame manusia. Sebab, dari beberapa material yang dibawa merupakan beberapa bahan pangan.

Tentu saja, diberikan kepada keluarga Oba Hariani untuk dapat menyambung kehidupannya bersama keluarganya. Oba Hariani, wanita setengah baya beranak 4 tersebut, terlihat terharu menerima ‘belai kepedulian’ itu. Tangannya kokoh memeluk kontak mie instan yang diserahkan. Tak jauh beda dengan erat rangkulannya ketika menggendong putri sulungnya, Ayu Lestari (1,4).

Nanar matanya seredup tatapannya akan masa depan, sesaat sirna. Sebab, para staf perkebunan yang hadir dengan bingkisan memberi kejelasan ketersediaan pangan untuk mereka. Meski hanya untuk beberapa hari kedepan.

Kedatangan para staf tersebut di latar belakangi oleh rasa kemanusiaan ketika mendengar kabar kalau Ibu empat anak ini terpaksa mengumpulkan bantuan dari para tetangganya ketika harus berjuang memperoleh kesehatan bagi Putri bungsunya yang menderita giji buruk.

Sebelumnya selama Sepuluh hari Ayu Lestari terpaksa menjalani perawatan medis di RSUD Rantauprapat. Parahnya perjuangan untuk menyambung nyawa Ayu tak dapat lagi mengandalkan kwalitas obat generik andalan pemerintah.

Karena paramedis merekomendasikan penggunaan obat bermerek yang lebih paten dibanding obat gratis yang disediakan pemerintah daerah setempat. Tentu saja obat non generic tersebut harus ditebus dengan biaya yang bagi Oba merupakan nilai yang tinggi untuk taraf ekonominya.

Tapi meski tak melulu bergantung pada belas kasih kegratisan pemerintah, Oba masih bisa mengandalkan tetangga dan kerabat disekitarnya yang masih mau membantu biaya perobatan Putri bungsunya tersebut. “Ya, untuk menebus obat-obatan itu harus meminjam uang sanak family dan tetangga. Saya tak punya uang untuk membelinya, syukurnya masih ada yang peduli dengan kemiskinan kami,” ucapnya ketika berbincang dengan beberapa jurnalis local setempat.

Sementara, selama setahun belakangan, dia harus banting tulang dalam membiayai perekonomian keluarganya. Sebab, selama itu pula Ibrahim (39) sang suami yang diharapkan sebagai tulangpunggung keluarga tak dapat diharapkan lagi. Itu, setelah sang suami mengalami penyakit yang dilematis.

Sang suami kini terbaring lunglai dan mengalami kelumpuhan. Mengurangi beban hidup Oba, pihak mertuanya, membawa sang suami untuk menjadi tanggung jawab keluarga besar sang suami. “Suami saya sakit. Lumpuh, jadi pihak keluarga membawanya,” ucapnya. Menafkahi keluarganya, Oba harus mampu merangkap dan berperan ganda sebagai kepala keluarga dan sang ibu untuk Aldiansyah putra (11), Sony Armando (9), Nurhidayah (4) dan Ayu Lestari (1,4). Oba, harus mampu membagi waktu untuk mencurahkan kasih sayang kepada ke empat anak buah hatinya tersebut.

Demi itu, dia pun menjadi binatu untuk memperoleh uang. Dia bersedia menjadi pencuci pakaian tetangganya. Tentu saja, upah yang diterima belum sepenuhnya dapat menafkahi keluarga. Sebab, pengganti tenaga yang dikeluarkannya hanya mendapat imbal sebesar Rp150 ribu sebulan. “Ya, mencuci pakaian satu keluarga tetangga hanya mendapat upah Rp150 ribu,” ungkapnya.

Minimnya penghasilan tersebut, dia juga mesti menyambi sebagai pemulung. Barang-barang bekas yang tidak dipergunakan oranglainpun menjadi rupiah baginya. Sebagai pemulung, mengumpul plastic, besi dan benda bekas lainnya, perminggu dia hanya bisa memperoleh uang sebesar Rp35ribu. “Paling dapat Rp35ribu perminggu,” katanya.

Miris memang, ketimpangan social menjadi potret buram di daerah itu. Bagaimana tidak, penanggulangan penderita gizi buruk kerap didegungkan. Namun, realitasnya tetap masih ada warga yang menjadi penderita.

Parahnya, dikondisi demikian para pejabatnya bahkan pemimpin di daerah itu justru mampu dan berbesar hati mempergunakan keuangan daerah yang diperoleh dari kutipan dan pajak daerah untuk membeli kenderaan dinas.

Lihatlah, di kondisi Labuhanbatu yang masih memiliki angka masyarakat miskin yang tinggi dan masih menyimpan penderita gizi buruk, Bupatinya justru berseliweran dengan mobil dinas yang bernilai Rp1,69 miliar. (fdh)

5 Remaja Pelaku Curanmor, Incar Korban Remaja Pacaran

Warning keras bagi para remaja di kota Rantauprapat kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara. Pasalnya, aksi kejahatan pencurian spedamotor dan handphone bermodus mencari sasaran korban yang berpacaran dan memadu kasih dikegelapan. Bahkan, dalam aksi tersebut para pelaku juga diduga melakukan aksi asusila terhadap korban. Meski lima orang pelaku sindikasinya telah tertangkap pihak Kepolisian setempat, namun dua orang lainnya masih dalam tahap pengejaran.

Kelima pelaku yakni, MZ (19) Pelajar SMK Negeri 2 Rantau Utara, AN (17) Pelajar SMK Negri 2 Rantau Utara, AHH (17) Pelajar Madrasah Aliyah Negeri Rantauprapat, BAR (16) Pelajar SMK YAPIM Rantauprapat, AFH (20) warga Desa Bandar kumbul, Kecamatan Bilah Barat, Labuhanbatu. Sedangkan kedua pelaku lagi LHT (23) Mahasiswa Unisla Labuhanbatu dan AM (20) Warga jalan Binaraga yang diduga sebagai otak seluruh kejahatan kini sedang diburon Polisi.

Penangkapan kelima pelaku bermula ketika para perampok spesialis sepeda motor yang selalu membidik korban para remaja yang sedang berpacaran tersebut, melakukan pencurian disertai kekerasan terhadap sepasang remaja yang sedang berpacaran senin (21/20) malam lalu. Tepatnya diseputaran SMU Plus Desa Janji. Karena suasana tengah sepi tersangka MZ dan AN langsung mendatangi dan mengancam kedua korbannya dengan sebilah pisau. “Kami ancam cowoknya terus kami ikat dan kami geledah barang bawaan mereka,” ungkap kedua pelaku saat ditanyai sejumlah wartawan.

Setelah itu kedua pelaku langsung menyingkap baju remaja putri korbannya dengan dan memaksa remaja putri untuk disodomi. “Aku yang memeluk korban itu, kemudian kami raba-raba tubuhnya setelah kami tidurkan terus ku sodomi dia, dan si AN juga meraba kemaluannya terus ketika melakukanya mau di lagakan ke kemaluan korban sambil ditindih ternyata AN mengenal korban,” ungkap MZ mencoba jujur.

Setelah puas melakukan pelecehan terhadap korbannya, mereka pun meninggalkan kedua korban sambil membawa sepeda motor yamaha mio dan HP milik korban. Serta meninggalkan sepasang kekasih ini dengan posisi tangan terikat hingga diselamatkan sejumlah warga yang datang ke lokasi.

Mendapat laporan tersebut Polisi akhirnya bergerak cepat dan berhasil membekuk tersangka MZ setelah melakukan pengembangan MZ mengaku dalam melakukan aksinya dirinya didukung oleh komplotan lainnya. Akhirnya dalam melakukan pengembangan dibekuklah AN cs.

Dihadapan penyidik unit Ranmor Polres Labuhanbatu kelima pelaku mengaku sudah berungkali melakukan pencurian kenderaan bermotor dan telepon genggam dengan membidik korban yang sedang berpacaran dengan

menggunakan senjata tajam.

Kapolres Labuhanbatu AKBP Robert Kenedy melalui Kasubag Humas MT Aritonang membenarkan penangkapan tersebut. Katanya, dari tangan dua pelaku disita dua sepeda motor yakni Yamaha Mio tanpa plat nomor yang
sudah dirubah warnanya. “Diduga hasil kejahatan dan honda beat BK 4041 LJ warna hitam, juga sebilah pisau belati. Kita tangkap lima orang pelaku Rabu (2/3) malam, dan dua orang sedang kami cari dan dari pemeriksaan kelimanya terlibat dalam dua kasus,” kata Aritonang.

Ditambahkannya kalima pelaku tersebut dijerat dengan pasal berlapis yakni pencurian dengan kekerasan dan pencabulan. (fdh)

Menelisik Goa Tanggabatu

Tak sedikit orang yang tak mengenal dan pernah mengunjungi lokasi objek wisata Aek Buru di Kecamatan Bilah Barat, Labuhanbatu. Namun, tak banyak pula yang mengetahui di lokasi itu terdapat objek yang lebih unik, berupa goa. Bahkan, keterdapatan lobang di dinding bukit itu, berpotensi meninggalkan jejak sejarah yang ada. Tapi, terkesan terabaikan.

Bersama tiga orang rekan jurnalis lainnya, penulis memacu kecepatan kenderaan sepeda motor yang dikemudikan. Berjarak sekira sepuluh kilometer dari inti kota Rantauprapat, Labuhanbatu, Sumatera Utara menuju arah ke kawasan Labuhanbatu Utara, Sumut akan ditemukan persimpangtigaan di jalan lintas sumater (jalinsum). Dari sini, akan ditemukan kawasan daerah tujuan wisata (DTW) yang sejak dulu dikenal dengan nama Aek Buru.

Dipersimpangan menuju perkebunan kelapa sawit milik keluarga besar pengusaha bermarga Pardede, di dusun II Desa Batu Tunggal, kecamatan Bilah Barat, Labuhanbatu, penulis dan rekan lainnya semula ingin melihat lebih dekat eksistensi aktivitas penambangan batu bukit. Di daerah itu, warga menyebutnya dengan istilah batu padas (batu cadas).

Jalan ke lokasi cukup memprihatinkan. Dengan kondisi tanpa pengerasan, fisik jalan disana hanya bertekstur tanah liat. Sehingga, dengan tingginya curah hujan di daerah itu beberapa waktu belakangan menyebabkan jalanan dipenuhi dengan kubangan. Serta, perlu ekstra hati-hati mengenderai sepedamotor menuruni jalanan menuju lokasi penambangan.

Dua sosok pria bertubuh kekar menyambut hangat kedatangan para jurnalis ke lokasi itu. Keramahtamahan karakter masyarakat setempat tersirat dari pola yang mereka lakukan terhadap para jurnalis selaku pendatang ke lokasi itu.

Thamrin (36) salahseorangnya. Si pemilik kawasan tambang batu bukit itu cukup memberikan informasi penting kepada para jurnalis dalam niat mengenal lebih jauh kegiatan yang telah dilakoninya sejak lima tahun terakhir.

Bahkan, melihat kehausan informasi yang ada di dalam diri para jurnalis, Thamrin mengajak penulis dan rekan lainnya untuk melihat lebih dekat keberadaan goa yang tak jauh dari lokasi penambangan batu miliknya. Sepintas tak ada yang unik dari sebuah lobang dinding bukit dengan diameter ketinggian sekira 2 meter dan lebar dua meter itu. Dari lobang itu, tak hentinya mengalir air dari celah batu bukit. Namun, ketika sudah memasuki di kedalaman sepuluh meter akan ditemui lorong panjang yang gelap.

Namun, terlepas dari suasana mistis yang ada. Penulis seakan terdorong keluar dari lorong tersebut dan seakan ada larangan untuk memasuki lebih dalam lorong itu. Bahkan, seorang rekan jurnalis lainnya yang lebih memiliki ketajaman mata batin sejak awal tidak memiliki niat memasuki lorong goa itu. Dampaknya, penulis dan beberapa rekan lainnya yang sempat masuk ke dalam goa, sontak mengalami rasa sakit dan pening di kepala.

Mendapatkan perasaan dan suasana hati seperti itu, rencana menelusuri lorong goa akhirnya dibatalkan. Dan, Thamrin mengusulkan kepada penulis dan rekan lainnya untuk menemui warga lainnya jika ingin mengetahui lebih jauh tentang keberadaan goa tersebut.

Rosul (45) warga Desa Batu Tunggal yang disarankan Thamrin untuk menjelaskan lebih jauh tentang goa itu, memang pria yang pernah memasuki goa tersebut. Ketika disambangi dikediamannya bersama beberapa warga desa lainnya menjelaskan tentang sosok goa itu. Rosul mengakui kalau bersama lima orang warga desa setempat pernah memasuki goa itu. Itu, ketika mencari seorang warga yang hilang dan tak pulang ke rumah selama lima hari. Mereka, aku Rosul menyusuri daerah-daerah yang diduga tempat potensial sosok warga yang hilang. Bahkan, sampai kedalam lorong goa. “Itu sekira 25 tahun silam,” paparnya.

Tapi, ketika menyusuri lorong-lorong goa itu justru tak menemukan warga yang hilang. Bahkan, sosok yang dicari setelah sedarkan diri kembali secara sendirinya kekediamannya tanpa kurang suatu apapun. “Dia hanya kesasar. Dan, setelah siuman dari pingsannya kembali ke rumah. Bahkan, keberadaannya saat itu di luar goa,” ungkapnya.

Rosul membeberkan, warga sekitar sudah lama mengetahui keberadaan goa itu. Tapi, tak banyak diantara mereka yang pernah memasukinya. “Lagian, untuk apa masuk ke dalam. Ga ada yang bisa diambil,” ujarnya.

Dia menambahkan, seseorang yang awalnya pernah memasuki goa itu adalah almarhum Haji Lobe. Ketika itu, Haji Lobe, kata Rosul keperogok sama komplotan pemberontak pemerintah di tahun 50-an. Karena merasa ketakutan Haji Lobe lari menyelamatkan diri. Sehingga, dalam pelariannya menemukan Lobang di dinding Goa. “Ya, cerita almarhum orangtua saya yang pertama menemukan Goa itu adalah Haji Lobe. Tapi sudah lama. Sekira tahun 50-an,” ungkapnya.

Dia menambahkan, menurut ceritanya, Haji Lobe masuk ke Goa itu dari pintu Goa sebelah sisi bukit Barisan lainnya. “Goa itu tembus ke dinding bukit lainnya. Jadi, goa itu bisa dijadikan jalan ke sebelah dinding lainnya,” ujarnya tanpa menjelaskan pintu goa tersebut.

Katanya, mereka ketika memasuki lobang goa itu sudah sampai di kedalam sekira 60-an meter. Di Dalam tambah dia, akan terdapat lorong sempit dan rendah. “Didalam ada dinding sempit. Sehingga untuk memasukinya posisi tubuh mesti miring. Selain itu, disisi lainnya juga tubuh mesti bungkuk karena rendahnya lobang goa,” paparnya.

Tapi, setelah melalui sisi dinding dimaksud, lanjut Rosul maka akan ditemui sebuah ruangan luas dengan diameter kelebaran 15 meter dan panjang 10 meter. “Didalam ada ruangan yang cukup luas,” ungkapnya.

Katanya lagi, dalam ruangan itu akan terdapat susunan batu alam sebanyak tujuh tingkat. Dan, mirip seperti tangga. Namun disisi atasnya, kata dia, terdapat batu yang datar dengan kelebaran sekira 4 meter. “Jadi, mirip altar,” tegasnya.

Selanjutnya, disisi lain terdapat tiga lorong yang diduga merupakan pintu menuju lorong lainnya. “Mungkin dari salahsatu pintu itulah dapat tembus ke dinding bukit lainnya,” imbuhnya.

Sayangnya, kata dia, mereka yang memasuki ruang goa itu tidak melihat secara rinci keterdapatan hal-hal lainnya. Sebab, ketika itu, penerangan yang mereka pergunakan kurang memadai untuk dapat melihat kesegala penjuru dinding Goa.

Namun, sepintas goa itu, katanya merupakan lobang dinding bukit yang sengaja dibuat oleh tangan manusia. Sebab, akunya, didalam goa tidak ada keterdapatan batu-batu goa yang berbentuk stalaktit dan stalakmit yang menggantung di atas goa. “Ga ada bebatuan seperti itu,” lanjutnya.

Dihuni Jin Berkepala Ular

Namun, warga setempat selain kurang berminat memasuki goa tanggabatu, juga disebabkan masih dipercayai dihuni oleh makhluk halus. Sebab, beberapa diantara warga memiliki pengalaman unik dengan goa itu. Sebab, sebelumnya, warga kerap sakit jika mendekati sisi lobang goa. Selain itu, beberapa diantaranya pernah menemukan penampakan makhluk aneh. Serta, beberapa warga juga pernah memimpikan sosok makhluk serupa. “Iya, aku pernah mimpi ketemu makhluk aneh dalam goa itu,” ujar Thamrin. Katanya, sosok tersebut bertubuh manusia dengan postur tubuh tinggi besar. Tapi, lanjutnya, sosok tersebut berkepala aneh. Seperti mirip kepala ular. Dalam mimpi tersebut, lanjutnya, sosok itu meminta sesuatu kepadanya. Tapi, dia menolak memberikannya. “Saya tidak bersedia memenuhi apa kemauannya,” katanya lagi.

Senada dengan Thamrin, Rosul juga mengatakan hal serupa. Beberapa warga pernah bertemu dengan sosok Jin penunggu Goa itu. Dan, tubuhnya mirip berkepala ular. “Saya dengar juga seperti itu,” katanya.

Butuhkan Perhatian Pemerintah

Terlepas dari cerita mistis yang ada. Dan, dibarengi pengalaman warga tentang goa itu, sebenarnya pihak pemerintah setempat laik untuk melestarikannya. Terlebih posisi Goa yang kini berdekatan dengan usaha penambangan batu bukit milik warga setempat. Hal itu berpotensi penyebab terjadinya kerusakan disertai potensi longsornya dinding bukit.

Bahkan, eksistensi Goa yang diduga merupakan buatan manusia itu, juga memiliki kemungkinan peninggalan-peninggalan sejarah yang terkandung didalamnya. Sehingga, dibutuhkan adanya penelitian terkait keberadaan goa tersebut untuk menambah khazanah dan ilmu sejarah tentang daerah setempat dalam mendukung kearifan budaya lokal. (fdh)

Reog Ponorogo Menciptakan Tontonan jadi Tuntunan

Melestarikan budaya asli Indonesia bukanlah hal mudah. Tak jarang mesti menonjolkan jiwa sosial. Salahsatunya, Kesenian Reog Ponorogo. Pagelarannya, terkadang justru hanya dinilai sebatas ’selayang pandang’.

IRONIS memang, ketika kesenian daerah Jawa Timur ini sempat jadi wacana perdebatan antara Indonesia dengan jiran tetangga. Tari Reog Ponorogo jadi bahan rebutan.

Tentu, masih segar dalam ingatan kita. Ketika Malaysia mengakui tarian itu sebagai budaya asli negara beribukotakan Kualalumpur itu. Sontak, Indonesia berontak.

Dengan tegas mengakuinya sebagai budaya negara bermottokan *Bhineka Tunggal Ika.

Tapi, apakah kelestariannya disetiap daerah benar-benar telah dipupuk dan dibina dikalangan masyarakat secara berkelanjutan?

Memang, Labuhanbatu bukanlah berpenduduk asli suku Jawa. Tapi, dari sekian grafik jumlah masyarakatnya, sesuai sensus dan cacah statistik kependudukannya selama beberapa tahun belakangan dominan dihuni warga yang memegang teguh falsafah sedulur papat kalima pancer.

Dalam artian, eksistensi warga suku Jawa, kini sudah cukup diperhitungkan dengan suku-suku lainnya.

Terlebih-lebih, sejak hadirnya paguyuban putra jawa kelahiran sumatera (Pujakesuma).

Memasuki usia wadah kerukunan warga Jawa itu yang ke 28. Kini, telah banyak muncul pemimpin dan tokoh dari etnis itu yang duduk didepan dalam segala bidang. Baik ditata pemerintahan, politik, sosial dan lainnya.

Seiring perkembangannya, ternyata belum sebanding dengan upaya melestarikan seluruh kebudayaan dan kesenian yang sengaja di import dari pulau aslinya.

Misalnya saja, kesenian tari jaranan pegon,reog ponorogo atau reog prajuritan.

Paduan kesenian ini, boleh dibilang cukup langka dan jarang ditemukan. Pun adakalanya dan waktu-waktu tertentu terlihat.

Dapat dijamin, tidak seluruh etnis Jawa di daerah ini mengetahui lokasi pelestariannya. Namun, jika memang ingin menyaksikan dan ingin mengenal lebih dekat kebudayaan ini, hanya dapat ditemui di Dusun Suka Mulia, Desa Pondok Batu, Kecamatan Bilah Hulu, Labuhanbatu.

Sebab, untuk daerah ini, kelompok kesenian Reog Suko Budoyo lah satu-satunya yang ada dan tetap eksis.

Tapi, apakah dengan upaya pelestarian budaya itu, dibarengi lestarinya perhatian dan kecintaan terhadap seni itu? Dan, apakah awak-awak yang tetap mencintainya juga lestari dalam perekonomian?

Jumat siang kemaren, seorang pria tua kelahiran Tulung Agung, Jawa Timur, 68 tahun silam tampak meniup sebuah alat musik.

Kurang jelas terdengar intonasi alunan dari alat musik itu. Tapi, kental terdengar mewakili kegundahan hatinya akan kelestarian budaya asli Indonesia yang kian tergerus oleh modernisasi jaman. Pasalnya, kini lebih condong mengadopsi budaya western.

Karmin, nama pria yang kala itu duduk diserambi rumahnya mengenakan baju warna hitam dan memakai penutup kepala yang identik disebut dengan nama blangkon.

Raut tua wajahnya kian mencerminkan gundah hatinya. Ketika disambangi, sontak membuyarkan imajinasinya. Tapi, Karmin lantas mengaku kalau lagi menajamkan hafalan tembang-tembang yang dilantunkan manakala sedang pementasan. “Ngak koq. Cuma terus mengafal bait-bait tembang untuk pementasan mendatang,” ujarnya memulai pembicaraan.

Memang, dia adalah pemimpin grup kesenian Reog Suko Budoyo. Selaku dirijent music di kelompok itu, dia katanya berperan utama memimpin. Dia, akunya dengan Tompret (sejenis alat musik tiup) memandu pementasan.

Dengan nada musik yang tak jarang mengandung tembang Jawa mengajak para penonton untuk lebih memaknai hal-hal yang baik.

“Bait-baitnya dominan mengajak orang lain untuk lebih mengentalkan rasa persatuan bernegara,” paparya.

Khususnya, kata dia, untuk mengerti makna Pancasila. Katanya, sejarah berdirinya kelompok Reog Suko Budoyo sudah relatif lama.

Tak kurang dari 37 tahun silam. “Ya, awalnya sejak saya datang ke Labuhanbatu ditahun 1963 lalu, mencoba mendirikan kelompok ini. Mulanya, untuk melepas rindu ke kampung asal. “Karena, dengan kesenian itu dapat mengingatkan akan daerah asal,” imbuhnya seraya membuka sejarah.

Dasar itulah, Karmin dengan peralatan pendukung seadanya bermotivasi mempertahankan budaya dan kerinduan daerah kelahirannya.

Seiring perkembangan jaman, kelompoknya yang terus regenerasi juga turut bertahan. Kini, perpaduan didalam kelompok itu telah memiliki jenis kesenian Jaranan Pegon, Reog Ponorogo dan Reog Prajuritan.

“Ya, itu satu perpaduan. Ketiganya tak jarang dilakonkan dalam satu pementasan,” bebernya.

Kini, kelompok itu memiliki anggota sebanyak 25 orang. Masing-masing memiliki peran penting setiap pementasan. “Untuk memainkan gendang ada 3 orang. Tipung 2 orang. Angklung 3 orang. Kenong 2 orang. Tompret sebanyak 1 orang dan Gong 2 orang.

“Selebihnya merupakan penari reog, dan jajaran pegon,” urainya.

Meski, tetap mampu bertahan dalam hitungan jangka waktu lama. Namun, eksistensinya hanya sekedar mampu bertahan hidup.

Soalnya, berbagai peralatan pendukungpun kian rusak dimakan jaman. Alhasil, untuk tetap memiliki peralatan pengganti, tak jarang dirinya mesti ‘putar otak’.

Sebab, mendapatkan peralatan yang standart untuk manggunghanya dapat dipesan ke pulau Jawa. Makanya, bila ada peralatan yang dapat diperbaiki sendiri, dia lebih sering melakukan inovasi.

“Ya, kadang kita mesti kreatif. Jika ada alat yang dibutuhkan kita mesti bisa membuat sendiri. semisal, topeng Barongan. Kita mesti memiliki kepandaian memahat kayu. Dan, memiliki imajinasi tersendiri memunculkan tampilan wajah dan perwatakannya,” tukasnya.

Tak sedikit alat pelengkap kesenian itu dicipta oleh Karmin. Malah, untuk jenis gendang dan lainnya, kepiawaiannya dalam pertukangan kayu memberi arti tersendiri.

“Kadang untuk gendang juga memanfaatkan drum kaleng dan kulit kerbau,” katanya.

Sebab, untuk alat yang standart mesti menyediakan dana tak kurang dari Rp70 juta. Konon hal itu didapat melakukan pemesanan ke pulau Jawa. Terlebih lagi, lanjutnya, kian sukarnya menemukan beberapa jenis peralatannya.

“Malah, untuk mendapatkan bulu-bulu burung Merak untuk topeng reog ponorogo terpaksa pesan ke luar daerah. Itupun mesti jenis Merak Lumut. Karena jenis ini, bulunya lebih berkilat,” sambungnya.

Tak jarang, dalam melengkapi alat-alat itu, mereka membutuhkan waktu lama. “Soalnya, mesti ngumpul kan duit dulu. Patungan hasil pementasan. Setiap selesai manggung mesti disisihkan untuk membeli alat,” paparnya.

Lantas, kapan moment dilakukan pementasan dan nilai pendapatan setiap pesanan manggung. Karmin dengan lirih mengaku prihatin. Soalnya, rata-rata jadwal pementasan itu relatif rendah. Sementara, nilai yang diperoleh juga terkesan belum sebanding.

“Ya, palingan kalau ada yang ngundanguntuk acara mantenan atau sunatan rasul. Kalau upah, juga ngak tentu. Kisaran Rp1 juta hingga Rp2 juta. Lihat lama manggungnya,” tuturnya.

Malah, katanya, tak jarang mereka juga hanya sekedar sosial dalam pagelaran. Itu, kerap terlihat sewaktu peringatan hari-hari besar kenegaraan. “Malah kalau perayaan 17-an tak jarang kita hanya ikut partisipasi arak-arakan barisan pawai,” paparnya.

Padahal, lanjut dia, para anggotanya juga rata-rata merupakan karyawan dibeberapa tempat usaha. Tak ayal, setiap ada pesanan manggung terpaksa absen dari pekerjaan.

“Dari semula sudah saya tanamkan kepada anggota agar mampu menentukan sikap. Kelompok Reog adalah pagelaran seni yang diharap sebagai tontonan agar menjadi tuntunan,” tandasnya.
KARMIN – Pendiri kelompok kesenian Reog Suko Budoyo

——————————————————————————————-

Reog Ponorogo Aksi tanpa Klenik?

Meliuk-liuk. Kilauan pantulan warna Bulu Burung Merak yang disisip pada topeng raksasa Reog Ponorogo memang indah. Kian mengundang minat untuk terus menyaksikannya. Konon halnya, topeng relatif berat itu hanya diangkat oleh penarinya dengan mempergunakan gigi. Sontak, para penonton berdecak kagum.Malah, tak sedikit yang berasumsi peragaan itu turut disertai magis. Lantas, benarkah klenik turut membantu pagelaran Reog Ponorogo?

Indah, itu yang tersirat ketika topeng raksasa Reog Ponorogo sedang dipentaskan. Bulu-bulu burung Merak Lumut yang terselip kian memantulkan kilauan keindahan ketika meliuk-liuk diterpa cahaya mentari.

Tapi, perpaduan kepala Harimau dan Bulu Merak yang memiliki kisah tersendiri dalam lakon sejarah antah berantah itu, kini kian sulit ditemukan eksistensinya.

Pun, adakalanya terlihat hanya pada masa-masa tertentu. Sebab, boleh jadi kelestariannya yang kian tergerus oleh perkembangan modernisasi jaman ataupun semakin sedikitnya kelompok-kelompok pelestariannya.

Menjadi hal unik. Topeng yang ditaksir mencapai puluhan kilogram bahkan hingga kisaran 30 kg itu hanya diangkat sang penari dengan mempergunakan cengkraman gigitan.

Itu, belum termasuk penambahan beban naiknya sosok bocah kecil. Atau, ketika pementasan berhembusnya angin yang sedikit banyak kian menambah kesukaran menggerakkan topeng Reog.

Belum lama ini, warga kota Rantauprapat dibuat kagum oleh aksi tarian Reog. Bertepatan pelaksanaan resepsi HUT Pujakesuma Labuhanbatu ke 28 di lapangan Ika Bina Rantauprapat, kelompok Seni Reog Suko Budoyo ambil bagian dalam kemeriahan acara etnis suku Jawa itu.

Terselip satu pertanyaan dari penonton. Apakah atraksi Reog Ponorogo juga dibarengi bantuan dunia klenik. Soalnya, dengan beban seberat yang dimiliki topeng itu, menjadi hal yang diluar nalar penonton untuk dapat mengangkatnya, hanya dengan mempergunakan gigi sang penari. “Ah, itu mungkin sudah memakai bantuan ilmu kebatinan. Soalnya, sukar diterima akal secara logika, mengangkatnya hanya mempergunakan gigi. Bisa-bisa gigi penarinya rontok semua. Konon lagi, relatif lama dan meliuk-liuk,” tuding salahseorang penonton.

Jumat siang kemaren, Subali salahseorang tokoh penting dibalik lakonan Reog Ponorogo itu berujar.Dia membantah jika kelompok Reog itu dibarengi bantuan ilmu-ilmu klinik. Apalagi jika pementasan Reog itu melibatkan bantuan bangsa Jin dan lelembut.

Tapi, katanya, semua itu hanyalah kepiawaian dan kemahiran penari yang melakukannya dengan trik-trik tertentu. “Tidak benar kita meminta bantuan makhluk halus. Reog Ponorogo tidak ada melibatkan ilmu klinik. Khususnya lagi bagi kelompok Reog Suko Budoyo. Itu semua adalah perpaduan seni tari dan seni beladiri,” ujarnya.

Dari sebanyak 25 orang anggota kelompok seni itu, Subali salahsatu tokoh penting dan juga salahseorang penari topeng Reog. Makanya, dia wajar membantah dan mengetahui pasti cara dan tehnik yang mesti dilakukan. “Hanya butuh latihan. Dan, jangan pernah sepele dengan trik yang diajarkan. Sebab, kunci keseluruhannya adalah bagaimana cara melaksanakan panduannya,” bebernya.

Dalam prakteknya, kata dia, di topeng raksasa itu memiliki tempat untuk cenkeraman gigi. Serta, tali yang dililitkan ketengkuk untuk membagi beban ke leher penari. Selanjutnya, penari mesti memperhatikan situasi dengan kekuatan seni beladiri. “Kita mesti memiliki kemampuan seni beladiri. Khususnya tentang kuda-kuda/pertahanan tubuh. Sebab, itu berfungsi utama menahan tubuh menanggung beban topeng Reog,” ulasnya.

Hal lainnya, kata dia adalah mengerti dengan kondisi cuaca dan udara lokasi pementasan. Karena, katanya, hembusan angin juga patut untuk dicermati. Sebab, sangat mempengaruhi dengan topeng Reog yang telah didirikan. “Jika ketepatan angin berhembus, maka sang penari secapatnya mesti mampu merubah posisi. Baik itu memalingkan wajah kekiri atau kekanan. Ataupun, menghindari posisi yang berlawanan dengan arah hembusan angin. Sebab, makin kencang angin berhembus, maka makin menambah berat beban yang ditanggung,” jelasnya.

Jika tidak, kata dia, maka tubuh akan ikut diseret angin. Kemudian, secara pasti leher sang penari akan mengalami rasa sakit yang keras. Malah, berpotensi terjadinya keseleo berat diotot leher. Selain itu, dampak yang timbul juga bisa fatal. Rontoknya gigi-gigi dirahang akan mungkin terjadi. “Makanya, disini fungsi mematuhi pedoman dan trik yang ada. Meski postur tubuh seseorang kekar, bukan berarti mampu memainkan tarian Reog. Tapi, meski tubuh tanggung namun menguasai teknik dan pertahanan tubuh. Maka, bukan tidak mungkin dengan seringnya melakukan latihan akan dapat memainkan tarian Reog,” ungkapnya.

Dibalik itu, tambah Subali, ada hal yang sangat bermanfaat bagi sang penari. Makin seringnya berlatih, selain menambah kemampuan juga secara tidak langsung juga telah melakukan olahraga. Sehingga, peredaran darah di kepala makin lebih lancar. Dan, pada gilirannya akan mampu menghindari terjadinya sakit kepala. “Penari Reog itu jarang, bahkan tidak pernah terserang sakit kepala. Sebab, seringnya memperagakan tarian Reog, juga telah adanya proses pelancaran peredaran darah di kepala,” tukasnya.

Tapi, apapun ceritanya, seni etnis Jawa yang kian langka ditemukan itu juga akan kian sirna seiring perkembangan kebudayaan luar yang terus masuk dan mempengaruhi jiwa para generasi muda.

Alhasil, Subali dan sosok-sosok pelakon seni budaya asli Indonesia kian khawatir dengan kondisi kekinian yang terjadi. Selain berdampak pada perubahan mentalitas pada generasi muda yang kian luntur mengenal dan mencintai budaya ke timuran, juga turut mempengaruhi perekonomian mereka.

Bagaimana tidak, kelompok seni Reog Ponorogo yang selama ini sedikit membantu prekonomian keluarga akan sirna selamanya. Dari itu, Subali tetap merindukan dan menanti perhatian pelbagai kalangan untuk tetap berupaya menyusun program-program pelestarian seluruh adat dan seni budaya yang ada.

Malah, upaya terus menarik perhatian kalangan muda, setidaknya mengenalkan seni Reog, tak jarang mereka melakukan pementasan secara sosial. “Tidak masalah. Kita meninggalkan pekerjaan untuk turut melestarikan budaya. Ketika ada tawaran manggung, juga kita masih memberi toleransi antara bisnis dengan kesosialan. Makanya, tak heran kita juga sering ikut acara-acara tanpa meminta bayaran. Dan, ketika ada tawaran pementasan, kita juga tidak akan memaksakan tarif. Meski terkadang pendapatan yang diterima setiap anggota relatif tidak setimpal lagi dengan kondisi perekonomian disaat sekarang ini,” tandasnya.
REOG – Meliuk-liuk. Kilauan pantulan warna Bulu Burung Merak yang disisip pada topeng raksasa Reog Ponorogo memang indah. Kian mengundang minat untuk terus menyaksikannya. Konon halnya, topeng relatif berat itu hanya diangkat oleh penarinya dengan mempergunakan gigi. Sontak, para penonton berdecak kagum.Malah, tak sedikit yang berasumsi peragaan itu turut disertai magis. Lantas, benarkah klenik turut membantu pagelaran Reog Ponorogo? (fdh)

Petani Kencur Butuhkan Perhatian Pemerintah

Ketika para petani kencur di beberapa Dusun di Kecamatan Panai Hilir, Labuhanbatu mengharapkan komoditi pertanian tersebut sebagai ‘penyanggah’ prekonomian para keluarga nelayan yang tak dapat menyandarkan hasil melaut untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, harga jual tanaman kencur justru melorot. Itu, dikarenakan minimnya pengetahuan dalam olah tani dan lemahnya penguasaan pasar. Padahal, tanaman kencur lebih menguntungkan jika dibanding budidaya komoditi kelapa sawit

Puluhan bahkan ratusan wanita yang dominan sebagai istri para nelayan di Kecamatan Panai Hilir, Labuhanbatu selama bertahun-tahun belakangan ini berperan ganda. Disatu sisi, mereka sebagai istri dari suami yang berstatus nelayan. Kaum hawa disana juga ternyata rata-rata menjadi petani tanaman kencur.

Selama ini, harga kencur cukup menggiurkan untuk dibudidayakan. Sehingga, hasil penjualannya dapat membantu keuangan keluarga. Untuk itu, kaum wanita disana sangat merindukan bantuan Pemerintah. Sebab, dalam olah pertanian komoditi tanaman tersebut dilakukan secara manual. Dan, tanpa pernah mendapatkan kucuran bantuan guna pengembangan usaha budidaya pertaniannya. Padahal, beberapa dusun yang menjadi sentra tanaman kencur di kecamatan itu merupakan ‘pertahanan prekonomian di Panai Hilir. Diantara lokasi yang menjadi sentra penanaman kencur itu adalah, Dusun Pertemuan Desa Sungai Sakat, Dusun Telaga Suka dan Dusun Suka Maju.

Seperti halnya di Dusun Pertemuan, puluhan warga mengkelola perladangan kencurnya secara tradisional. Puluhan bahkan ratusan hektar lahan pertanian kencur yang ada hanya dikelola tanpa adanya pembinaan dari pihak dinas pertanian setempat. Padahal, Kencur dari kecamatan Panai Hulu ini, dikenal pemasarannya hingga ke kota Rantauprapat, Medan bahkan menembus ke ibukota Jakarta. Ironisnya, teknik pemasaran juga terkesan masih memanfaatkan jasa para tengkulak yang selalu mematok harga sekenanya.

Petani kencur yang ada di kecamatan itu relatif dilakukan para wanita dan ibu rumahtangga. Itu, dilakukan guna membantu perekonomian keluarga yang dominan hidup sebagai keluarga nelayan.

Rukiyah (45) misalnya. Ibu rumahtangga yang tinggal di Desa Sei Baru kecamatan itu, sudah sepuluh tahun terakhir beraktivitas sebagai petani Kencur. Itu, dilakukannya disela-sela kewajiban sebagai ibu rumahtangga. Dalam aktivitas olahtani berbudidaya tanaman kencur, dia hanya mengandalkan kemampuan secara tradisional. Sebab, sebagai wanita Desa dirinya tidak pernah mendapatkan pembekalan pengetahuan secara akademisi dalam membudidayakan tanaman itu. “Belum pernah ada bantuan dari pemerintah untuk kami,” ujarnya ketika disambangi akhir pecan lalu, di areal pertaniannya di dusun Pertemuan itu.

Pola tanam Mereka sebagai petani kencur dalam mengolah tanah memanfaatkan lahan perkebunan komoditi kelapa sawit milik masyarakat setempat. Itu dilakukan dengan meminjam lahan. Dan, memanfaatkan sela-sela tanah diantara tanaman Kelapa Sawit yang ada. Identiknya, kerjasama yang dilakukan antara petani dan pemilik kebun sawit hanya saling percaya.

Dimana, petani melakukan perawatan tanah dengan menanami pohon kencur dan menyemai tanah. “Iya, kami meminjam lahan secara gratis dari pemilik kebun sawit,” ungkap Rukiyah yang juga diaminin beberapa wanita petani kencur lainnya.

Mereka yang ketika itu melakukan pemanenan lahan kencur juga menambahkan, di daerah Dusun Pertemuan seratusan hektar lahan kebun kelapa sawit juga merangkap sebagai lahan pertanian kencur.

Setiap jengkal tanah diantara tanaman sawit yang masih berumur muda menjadi tempat penanaman kencur. Pola tumpangsari tanaman pertanian itu sudah lama mereka lakukan. Bahkan, sudah mencapai sepuluh tahun terakhir. Namun, itu dilakukan dengan berpindah-pindah dari lahan kebun sawit ke lahan lainnya. Sebab, ketika usia tanaman sawit sudah mencapai 3 tahun lebih, maka pemilik kebun tersebut tidak lagi mengijinkan areal itu ditanami kencur. Selain itu, kencur juga tidak mampu tumbuh berkembang dan bertahan diantara pepohonan sawit yang semakin membutuhkan air dengan jumlah banyak. “Khususnya, panas matahari sudah jauh berkurang dibawah pohon sawit,” tambah Rukiyah.

Karena, katanya, kencur merupakan tanaman yang membutuhkan pencahayaan matahari serta debit air dengan kelembaban tekstur tanah yang memadai. Tak ayal, daerah yang memiliki tekstur tanah dammar (gambut, red) menjadi lokasi yang serasi dan ideal untuk budidaya kencur. Bertani kencur, ungkapnya cukup sederhana. Sebab, tidak terlalu membutuhkan penyitaan waktu yang lama. Karena, dalam olah tanahnya hanya memerlukan peralatan yang seadanya. Serta, bibit benihan kencur juga terkesan mudah didapat. Bahkan, tak jarang memanfaatkan benihan sisa pemanenan sebelumnya. Pun, jika bagi petani yang baru mengawali bercocok tanam dapat memperoleh bibit dengan meminta kepada petani lainnya. “Sangat mudah menanam kencur. Tanah yang sudah bersih dari rerumputan lalu diberi lobang dengan kedalam 15 centimeter. Kemudian, ditanam bibit kencur yang telah diberi taburan debu bakaran tanah damar( gambut, red) sebagai pupuknya,” ulasnya.

Dalam ukuran tanah satu rante, tambahnya, akan menghasilkan lobang sebanyak lebih kurang 3000-an dan tentu saja membutuhkan bibit kencur setara dengan banyak lobang semaian tersebut. Dalam hal perawatannya, katanya, hanya membutuhkan beberapa jenis pupuk ketika memasuki usia tanaman berumur 3 bulan. “Usia 3 bulan butuh pupuk urea,” ujarnya.

Dan, memasuki usia tanaman enam bulan sesekali diberi taburan pupuk NPK. “Hanya agar umbi kencur dapat lebih besar,” katanya. Bahkan, tambahnya, beberapa petani justru tanpa melakukan pemupukan. Namun, hasil panen akan berbeda dengan lahan yang mendapat perawatan terlebih dengan pemberian pupuk. “Ya berbeda hasilnya. Bahkan, sebaiknya diberi pupuk perangsang pengembangan umbi. Itu lebih baik,” jelasnya.

Setiap tanah seukuran satu rante, tambahnya akan menghasilkan umbi kencur sebanyak 2 ton. Bahkan, jika perawatan lebih baik, tidak tertutup kemungkinan akan mencapai lebih banyak. “Ada juga kencur yang baik itu menghasilkan kencur 1 Kg perlobangnya,” imbuhnya. Namun, tambahnya dengan tingginya harga nilai beli pupuk di daerah itu menyebabkan banyaknya tanaman kencur yang tak memperoleh pupuk. Sehingga, ketika hasil panenan yang dilakukan akan memprihatinkan. Panen yang dilakukan, tamb ahnya terkesan sesuai keinginan petani. Tapi, idealnya sepuluh bulan usia tanam. “Semakin lama usia tanam justru lebih baik,” paparnya.

Namun, melihat kondisi penghasilan kaum pria sebagai nelayan di daerah itu yang kian memperihatinkan pasca semakin banyaknya kapal-kapal penangkap ikan dengan ukuran besar, membuat hasil tangkapan semakin kecil. Tak ayal, untuk mencukupi kebutuhan keluarga, hasil panen tanaman kencur dijadikan sebagai penopang keuangan keluarga. “Walau harga jual turun, namun mesti tetap dijual untuk mencukupi keuangan keluarga,” ujarnya.

Butuh Perhatian Pemerintah

Rukiyah mengakui peran sebagai petani kencur sudah relative lama digelutinya. Disela-sela sebagai ibu rumahtangga, dirinya sudah berperan dalam budidaya kencur selama sepuluh tahun belakangan.

Namun, sepanjang rentang waktu yang telah dilaluinya, dirinya serta para petani kencur lainnya belum pernah menerima bantuan dari pihak Pemerintah setempat. Padahal mereka, tambahnya sangat mendambakan hal itu.

Mereka membutuhkan suntikan penyediaan pupuk dan sarana pertanian lainnya. Bahkan, mengharapkan penambahan wawasan dalam olah tanah budidaya tanaman kencur. Dan,khususnya dalam hal pemasaran hasil panen yang lebih dapat menjamin harga pasar relative tinggi. Sehingga, menunggu peran pihak terkait untuk dapat memberikan perhatian dan pembinaan terhadap mereka. “Tidak pernah sekalipun kami mendapatkan bantuan pemerintah,” paparnya. Untuk itu, katanya, mereka bersedia membentuk kelompok jika memang dibutuhkan.

Apalagi, ujarnya nilai jual tanaman itu mengalami kemerosotan yang signifikan disbanding penjualan sebelumnya. Sebab, untuk harga penolakan kepada para sub agen di kawasan itu, mereka hanya mendapatkan Rp2000 hingga Rp2200 perkilogramnya. Sedangkan sebelumnya, harga kencur tersebut sempat menembus level Rp5000 perkilogramnya. Dia katanya tidak mengetahui permasalahan penyebab penurunan harga itu. Bahkan, mereka kurang mengetahui secara pasti pangsa pasar perdagangan kencur. “Memang kabarnya kencur kami dijual ke Rantauprapat dan kota Medan. Tapi, kalau ternyata sampai ke kota Jakarta, itu diluar pengetahuan kami,” ujarnya. Sehingga, keterbatasan wawasan penyebab para petani setempat tidak mampu membaca pangsa pasar dan upaya yang dibutuhkan dalam mempertahankan kestabilan harga jual.

Bahkan, ujarnya, mereka bakal terancam tidak dapat lagi berprofesi sebagai petani kencur ketika lahan yang dijadikan sebagai areal kebun sawit telah habis keseluruhannya se kecamatan Panai Hilir itu.

Sebab, pengalihfungsian lahan hutan menjadi areal perkebunan sawit terus terjadi di kawasan itu. “Ya, begitu tanaman sawit sudah beranjak besar, maka penanaman kencur diberhentikan. Tak bisa lagi,” ungkapnya.

Kencur Lebih Menjanjikan Dibanding Sawit

Sepanjang adanya budidaya tanaman kencur di daerah itu, jumlah luasan areal perkebunan sawit yang terbakar menurun drastic. Bahkan sama sekali tidak pernah terjadi. Sebab, selain terjadinya proses pemeliharaan lahan yang dilakukan petani kencur, juga tanaman kencur sendiri mampu mengurangi kebakaran lahan perkebunan sawit. Padahal, tekstur tanah gambut yang notabene mudah terbakar ketika musim kemarau.

Rukiyah menyebutkan, nihilnya kebakaran lahan di tanah gambut dikawasan itu factor utamanya karena tanaman kencur. Sebab, tanaman tersebut relative basah dan mengandung air. Sehingga, menjadi penghambat rambatan api di lahan perkebunan sawit dan pertanian kencur. “Daun kencur basah dan umbinya juga mengandung air. Sehingga tidak mudah terbakar. Serta, petani kencur juga menjaga lahan tersebut,” paparnya.

Tidak hanya itu, katanya potensialitas tanaman kencur sebenarnya relative lebih menjanjikan untung disbanding budidaya komoditi kelapa sawit. Sebab, dalam perhektar tanah yang menurut kalkulasinya menghasilkan sebanyak 25 rante ukuran tanah akan lebih menjanjikan prekonomian. Asumsinya, dengan lahan seluas satu hektar dengan pola tanam perbulannya sebanyak dua rante tanaman kencur, maka dalam perbulannya akan menghasilkan dua rante kebun kencur. Dan, kalkulasinya, perbulan akan menghasilkan minimal 4 ton kencur. “Jika perrante mampu menghasilkan dua ton, maka perbulan akan mendapatkan empat ton kencur,” ulasnya.

Jika dibanding dengan harga jual belakangan ini, katanya mereka menjual dengan harga Rp2ribu perkilo, maka setiap rante akan menghasilkan Rp2juta. “Pertahun akan mendapatkan hasil kotor Rp44 juta perhektar. Hanya saja untuk tanaman kencur lebih butuh jumlah tenaga kerja yang relative banyak,” tambahnya.
(fdh)