DAS Bilah, Nasibmu Kini (Lingkungan Hidup Digerus Modernisasi)

Modernisasi memaksa terjadinya perusakan lingkungan dan eksploitasi kawasan daerah aliran sungai (DAS) yang berlebihan. Misalnya saja, DAS Bilah di kabupaten Labuhanbatu, propinsi Sumatera Utara menjadi sasaran perusakan lingkungan hidup. Baik dengan aktivitas penambangan material pasir dan bebatuan, juga diduga sebagai pembuangan limbah rumah tangga dan industrial. Dibutuhkan kepedulian bersama untuk melestarikan kawasan dan bantaran sungai Bilah yang semakin memperihatinkan. Serta, penerapan sanksi berlaku terhadap pihak yang melakukan perusakan lingkungan hidup.

Bila dikatakan kota Rantauprapat sebagai jantungnya kabupaten Labuhanbatu. Maka, tak salahkiranya jika daerah aliran sungai (DAS) Bilah disebut sebagai ‘hatinya’ daerah itu. Sebab, selain masih dijadikan sebagai prasarana transportasi air guna mengangkut warga dan berbagai material hasil pertanian dan perkebunan dan berfungsi sebagai sumber kebutuhan air keseharian bagi warga kota Rantauprapat (terlepas baik tidaknya mutu produksi air bersih) oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bina Rantauprapat, sungai Bilah yang memanjang dari hulu hingga ke hilir, membelah wilayah Rantauprapat juga sebagai sumber mata pencaharian masyarakat yang berfungsi vital bagi masyarakat nelayan tradisional dalam usaha penangkapan ikan.

DAS Bilah juga sumber eksploitasi sumber daya alam (SDA) galian C untuk bahan tambang pasir dan bebatuan. Namun, seiring kemajuan daerah dan laju pembangunan juga memiliki konsekwensi logis. Kondisi DAS Bilah, kian memprihatinkan. Apa lacur, modernisasi membawa dampak perubahan terstruktur terhadap DAS Bilah dan lingkungannya.

Selasa 26 Juli 2011 petang, penulis dan seorang rekan jurnalis ikut bersama rombongan staf Badan Pengendalian dampak Lingungan hidup Daerah (Bapedalda) Labuhanbatu. Perjalanan kali ini berniat menengok langsung kondisi kekinian yang terjadi di sepanjang DAS Bilah. Rute yang dilalui menyusuri Hulu sungai itu. Menggunakan perahu kayu bermotor sewaan milik warga setempat, perahu seakan menari diriak gelombang air. Meski mengalami penyusutan debit yang relative besar dampak kemarau yang melanda daerah itu, perahu yang dinakhodai Hasan perlahan menghantar rombongan menuju hulu sungai.

Panorama alam kawasan itu memang memiliki cerita tersendiri oleh warga dibantaran sungai. Berbagai titik memiliki kisah. Seperti halnya, pada lubuk Kura-kura. Disebut demikian karma keterdapatan batu berukuran relative besar dengan bentuk menyerupai hewan amphibi bercangkang tersebut. Namun, memasuki lokasi Batu Kodok (juga bebatuan berbentuk kodok kembar) kondisi air sudah mengalami perubahan. Terkesan berminyak dan keruh kecoklatan.

Tak jauh di hulunya, keterdapatan lokasi penambangan galian C. Kondisi ke hulu terus mengalami hal serupa seiring kian banyaknya ditemui lokasi-lokasi penambangan pasir dan kerikil yang ada. Baik ketika mendapati lokasi Batu Melintang yang konon disebut warga merupakan mitos perahu besar yang menjadi batu.

Takkurang dari enam titik yang menjadi lokasi perusahaan penambangan Galian C di DAS Bilah. Serta, masyarakat yang berprofesi sebagai penambang kerikil di DAS itu sebagai pemasok material bahan bangunan untuk Labuhanbatu, Labura dan Labusel. Bahkan, dikabarkan material endapan dasar di DAS Bilah itu juga dikirim hingga ke Propinsi Riau.

Memang, jika ditilik fungsi aktivitas perusahaan-perusahaan Galian C nya sebagai penyuplai material bahan bangunan, tentu tidak ada salahnya. Tapi, melihat secara dekat kondisi DAS Bilah yang terjadi dampak bisnis ‘penggeseran bumi’ itu, tentu kontras terlihat. Berbagai penilaian akan berseliweran dalam syaraf menyaksikan fenomena yang terjadi. Pengerukan dan Pengecilan badan sungai sangat mengkhawatirkan.

Di tiap-tiap lokasi penambangan galian C terlihat mempergunakan mesin pengeruk tanah becho, masing-masing sedikitnya dua unit. Beratus bahkan ribuan meter kubik material pasar dan kerikil didaratkan perharinya dari DAS Bilah.

Uniknya dan ironis, alat berat itu dipaksa untuk melakukan pengerukan, sembari pembendungan arus sungai. Bahkan, bendungan bukan hanya di bantaran sungai. Tapi, hingga ke tengah DAS. Pengerukan yang dilakukan tentu saja memiliki dampak terhadap ekosistem dan khususnya biota air. Juga, selain mengancam kelestarian lingkungan hidup, aktivitas tersebut juga berkonsekwensi terhadap tidak terkontrolnya lagi arus dan kedalaman air. Tentu saja, dibeberapa titik terjadi pendalaman namun di lokasi lain terjadi pendangkalan. Ini tentu menyulitkan bagi para warga yang masih melakukan perjalanan dengan menggunakan transportasi air. Misalnya saja, penulis dan rombongan. Kondisi kekinian yang terjadi, terkesan menyebabkan hilangnya kendali navigasi yang dimiliki nakhoda perahu.

Hasan, nakhoda perahu itu, kerap memerintahkan dua orang ABK nya untuk terjun ke arus sungai guna membantu mendorong perahu yang terjebak. Baling-baling motor perahu tersebut kandas dibebatuan. Dan tentu saja, mengakibatkan laju perahu menjadi tersendat.

Pemikiran dan kontribusi kepedulian saatnya diharap untuk melakukan analisa dampak lingkungan yang kini terjadi di DAS Bilah. Baik dalam hal mengantisipasi efek negative yang terjadi dampak kegiatan dan aktivitas perusahaan penambang Galian C, serta buangan limbah rumah tangga dan industri.

Limbah Cemari DAS Bilah

Perjalanan menyusuri hulu DAS Bilah memakan waktu takkurang dari 3 jam. Sesampai di kawasan Bukit Tanjung Medan, rombongan memilih merapatkan perahu bermotor ke tepian sungai. Para ABK menambatkan perahu dengan mengikat simpul tali ke akar sebatang pepohonan, agar perahu tidak hanyut terseret air.

Mendapati anak sungai yang mengalirkan air berwarna kecoklatan dan berbeda dengan air yang ada pada anak-anak sungai lainnya, serta beraroma yang tajam, rombongan menyusuri anak sungai dibalik semak belukar tersebut.

Takkurang dari seratus meter rombongan bertemu dengan salahseorang warga sekitar. Sebut saja, Rahmad. Dia menyambut kedatangan rombongan dan mengetahui betul tujuan para staf yang berpakaian resmi PNS dari Bapedalda.

Tentu saja, banyak informasi penting didapat darinya. Bahkan, kata dia, yang kerap dilakukan untuk jadwal pembuangan limbah adalah sekira jam 19.00 wib hingga ke jam 03.00 dini hari. Alasannya, itu waktu yang tidak terpantau. “Selambatnya mesti hingga jam 3. Sebab, pagi hari sekitar jam 07.00 wib mesin penyedot air milik PDAM Tirta Bina di Hilir Sungai Bilah akan dioperasikan. Jadi, pembuangan limbah mesti dihentikan 4 jam sebelum mesin itu dinyalakan,” ucapnya.

Dia menyebutkan, dari anak sungai tersebut kerap mengalir air kecoklatan dan kala waktu tertentu berwarna kehitaman dengan aroma yang menyegat. Diduga, cairan tersebut merupakan limbah cair dari salahsatu industri pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) PT S yang keberadaannya tidak jauh dari lokasi itu. Dicurigai, alur aliran air anak sungai itu itu merupakan saluran pembuangan limbah cair pabrik.

Kian penasaran, rombongan terus menyusuri hulu anak sungai itu. Mencapai jarak 300 meter ke dalam areal perkebunan kelapa sawit milik perusahaan PT S, rombongan juga menemukan pipa berdiameter 10 centimeter yang mengalami kebocoran dengan mengeluarkan cairan kepekatan. Diduga pipa tersebut, merupakan instalasi pembuangan limbah (IPAL) milik perusahaan itu.

Masuknya rombongan ke wilayah itu, ternyata terdeteksi oleh pihak manajemen perusahaan. Sebuah mobil berpenumpang empat orang membawa staf perusahaan. Seorang diantaranya, Sugianto yang kemudian diketahui sebagai Humas perusahaan PT S.

Bersama mereka, rombongan lalu dibawa melihat kondisi yang ada. Menyusuri lokasi-lokasi IPAL milik perusahaan itu yang berada dibalik bebukitan. Didalam empat kolam/ bak penampungan yang relative berukuran besar, Sugianto menyebut dan menyangkal perusahaan itu tidak pernah melakukan pembuangan limbah ke luar lingkungan dan areal perkebunan. Konon halnya, ke DAS Bilah.

Kabar tak enak yang sering menyebutkan perusahaan itu mengalami kebocoran IPAL dan mencemari lingkungan sekitar, terlebih lagi mencemari perairan DAS Bilah, ternyata mendapat respon dari Pemerintahan setempat. Pemkab Labuhanbatu dikabarkan akan memberikan sanksi tegas kepada perusahaan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT S bila terbukti membuang limbah cair ke sungai Bilah. Pasalnya, akibat limbah tersebut bisa berdampak buruk terhadap lingkungan hidup yang ada.

Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kabupaten Labuhanbatu Romiduk Sitompul mengatakan, terkait dengan temuan DPRD PKS PT S yang ditengarai membuang limbah cair ke Sungai Bilah Rantauprapat, pihaknya akan melakukan pengecekan ke lokasi. “Kalau memang perusahaan itu membuang limbah ke sungai, kita akan melakukan teguran peringatan pertama untuk diperbaiki kebocoran yang terjadi. Lalu teguran kedua II dan ke III dank e IV. Kalau teguran ini tidak diindahkan sampai teguran ke IV maka persoalan ini akan diajukan ke penyidik kepolisian,” kata Romiduk.

Menurutnya, perusahaan yang tidak mengindahkan peringatan pemerintah daerah sampai teguran ke IV, maka teguran I hingga ke III akan menjadi bukti-bukti bagi penyidik kepolisian untuk melanjutkan sanksi pemidanaan. “Dan ini berat ancamannya. Memang ancaman sampai proses ini belum pernah terjadi. Maunya saya sih, sampai ke proses sanksi pemidanaan. Kalau misalnya sanksi peringatan pertama itu sungai tercemar yang mengakibatkan ikan mati, padi masyarakat juga mati maka harus direhabilitasi semua kerusakan yang terjadi,” bebernya.

Selain penerapan sanksi dari pemerintah, juga ada kententuan dari badan yang memantau produk Pabrik Minyak Sawit yakni, RSPO dan ISO14000. Perusahan PKS harus dapat memenuhi Prinsip dan Kriteria yang ditetapkan RSPO untuk produksi minyak sawit termasuk masalah penanganan limbah PKS. “Ketentuan. RSPO ISO 14000 inilah kesepakatan dan syarat dalam pengelolaan PKS yang harus bisa menjamin lingkungan tidak rusak tapi harus berkesinambungan dan lestari. Kalau perusahaan PKS tidak mengindahkan RSPO, minyak sawit yang dihasilkan PKS tidak laku dijual dipasar eropah,” tutur Romiduk.

Dia mengatakan, limbah PKS PT S yang memakai proses land aflication sering terindikasi limbahnya bocor hingga meluber sampai ke arus Sungai Bilah Rantauprapat. Pasalanya, ada kemungkinan limbah yang bocor itu digunakan sebagai pupuk untuk lahan sawit yang ada disekitar pabrik. “Yang menjadi masalah sekarang, limbah yang mungkin dijadikan sebagai pupuk itu sampai ke sungai,” ujarnya.

Sementara ketua Komisi D DPRD Labuhanbatu Dahlan Bukhori mengatakan, pihaknya telah membuat surat pemanggilan terhadap pimpinan perusahaan PKS PT Siringo-ringo untuk mempertanyakan persoalan limbah yang bocor sampai ke Sungai Bilah. “Surat pemanggilan kepada Pimpinan PT S sudah siap kita buat, tinggal mengirimkannya saja. Mungkin beberapa hari ini akan kita adakan pertemuan, tapi karena sekarang lagi membahas LKPJ belum bisa sekarang,” tandasnya.

Sekedar diketahui, Sejumlah anggota DPRD Labuhanbatu memergoki Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT S mengalirkan limbah cair yang bermuara ke Sungai Bilah Rantauprapat, Jumat (23/7) lalu. Dewan pun mendesak pihak berkompeten segera memberi sanksi tegas.Anggota Komisi D DPRD Labuhanbatu Ahmad Jaiz Rambe mengatakan, dia bersama rekannya menemukan pembuangan limbah cair yang dilakukan pihak perusahaan PKS PT S sampai alurnya ke Sungai Bilah Rantauprapat.

Pesisir Labuhanbatu Butuh Pengembangan

Terisolir. Minimnya kwalitas infrastruktur jalan darat menjadi dosa bersama terhadap penyebab lambannya geliat pembangunan dan peningkatan ekonomi masyarakat di wilayah pesisir Labuhanbatu, propinsi Sumatera Utara. Dan, seakan terpuruk laksana jalan di tempat. Masyarakat selalu mimpi tentang tersedianya jalan darat yang menjadi urat nadi penghubung mereka ke dunia luar. Dinantikan, perhatian pemerintah memberi secercah kepedulian pada kondisi masyarakat yang mendambakan pemerataan ‘kue pembangunan’ yang adil bagi pesisir pantai Labuhanbatu.

Jumat (22/7) pagi. Cuaca masih berkabut. Di komplek perkantoran perusahaan swasta dan pemerintahan serta halaman sekolah-sekolah, tampak para karyawan, PNS dan peserta didik tengah senam pagi. Gerakannya tak jauh beda dengan tarian kupu-kupu putih yang terbang menghinggapi kembang di taman dalam menyongsong pagi.

Di beberapa areal perkebunan karet dan kelapa sawit, para karyawan pemanen tandan buah segar (TBS) Kelapa sawit dan penderes getah, beraktivitas mengalahkan malasnya burung-burung balam dan merbuk yang masih menggelayut di temali kabel listrik.

Rute perjalanan pagi itu, adalah mengunjungi Desa Sei Siarti di kecamatan Panai Tengah, Labuhanbatu. Bersama seorang rekan jurnalis, dengan mengenderai sepedamotor, rencana awal ingin menyusuri dusun-dusun di wilayah itu. Khususnya, dusun Milano yang konon merupakan daerah terisolir di wilayah pesisir Labuhanbatu. Terlebih lagi, di daerah itu keterdapatan tonggak dan bangunan yang dahulunya berbentuk dermaga. Serta, alkisah asalmuasal adanya nama Pelabuhan Batu yang akhirnya dijadikan nama Kabupaten beribukotakan Rantauprapat.

Tak gampang menuju daerah itu. Badan jalan yang hanya mendapatkan pengerasan sekadarnya itu, membuktikan infrastruktur prasarana jalan darat disana dengan kondisi masih memprihatinkan. Terindikasi luput dari perhatian pemerintah setempat. Jalan darat penghubung antar wilayah di kecamatan itu sebagai urat nadi transportasi banyak belum tersentuh pembangunan.

Pun seberkah bukti menetesnya arus modernisasi adalah masuknya fasilitas penerangan listrik milik PLN. Namun, dikondisi tanah berstektur gambut, tiang-tiang listrik yang terpancang kebanyakan berdiri dengan kemiringan-kemiringan yang nyaris tumbang.

Di penghujung jalan itu setelah memasuki gerbang dan melalui pabrik kelapa sawit (PKS) milik perusahaan swasta PT Cisadane Sawit Raya (CSR), jalanan mentok di sebuah dermaga bernama Buluh Tolang. Perjalanan selanjutnya, mesti memanfaatkan fasilitas perahu bermotor milik warga setempat untuk menyeberani daerah aliran sungai (DAS) Barumun.

Namun, sesaat menunggu penumpang lain yang juga akan dihantar ke seberang, penulis bertemu dengan sesosok pria paruh baya. Perawakannya cukup berpendidikan dengan mengenakan pola pakaian tidak menyerupai warga setempat. Sembari menyeruput segelas the hangat yang dipesannya kepada pemilik warung, pria tersebut menyapa penulis dan rekan lainnya. Kontak komunikasi dilakukan. Setelah itu, pria yang kemudian diketahui bernama Sahat Simangunsong (48) merupakan seorang kepala sekolah di SD Swasta di wilayah itu.

Dia cukup faham kelelahan penulis dan rekan setelah melalui jalanan milik perkebunan tersebut. Sejauh takkurang dari 25 kilometer dengan kondisi jalanan yang hanya mendapat pengerasan ala kadarnya. Bahkan, dibeberapa titik kondisi memprihatinkan, memaksa shockbreaker sepedamotor mesti lebih berkontraksi. “Lumayan parah jalanannya, ya,” ucapnya memulai pembicaraan dengan penulis.

Katanya, kondisi itu, katanya jika musim kemarau akan dipenuhi debu yang berterbangan dan dimusim penghujan badan jalan dipenuhi lumpur. Memang, aku dia, dominant jalanan yang dilalui itu adalah milik perkebunan swasta. Dan, kondisi yang ada relative lama ditanggungkan warga.

Titik terparah lainnya, aku dia, adalah jalan yang menembus Desa Sei Siarti, Panai Tengah menuju Tanjung Medan, Kecamatan Kampung Rakyat, Labuhanbatu Selatan. Meskipun diharap sebagai jalan pintas penghubung kecamatan Panai tengah dan sekitarnya ke Labusel, namun warga mesti ekstra hati-hati ketika melaluinya. Sebab, jalanan hanya ‘beraspalkan’ tanah liat putih. “Masih jalan perkampungan dan melalui areal perkebunan warga,” ucap Simangunsong .

Pembukaan dan peningkatan kualitas perkerasan badan jalan yang mampu menghubungkan antar wilayah di kawasan itu, sangat didambakan warga. Alasannya, akan mempermudah akses transportasi warga ketika mengangkut hasil pertanian dan perkebunan. Sehingga, biaya yang dikeluarkan warga dapat ditekan seminimalnya.

Selama ini, kata dia, warga hanya dapat mengandalkan transportasi air. Dan tentu saja, dengan ongkos yang lumayan tinggi.

Menurutnya, ada beberapa lokasi yang ideal untuk dilakukan peningkatan kwalitas jalan darat di daerah itu. Dan, menjadi penghubung antar kabupaten. Sebab, menjadi jalan penghubung antara kabupaten Labuhanbatu ke Labuhanbatu Selatan. Dan, dari Labuhanbatu Utara menuju Kecamatan Bilah Hilir, di Labuhanbatu. “Ya, jalan-jalan tersebut mampu menghubungkan antar kabupaten. Sangat keharusan saatnya untuk meningkatkan mutu dan kwalitas badan jalannya,” ucap dia.

Di daerah Desa Sijawi-jawi, Bilah hilir menuju Kampung Mesjid, Labura, kawasan itu dahulunya merupakan sentra penghasil padi dan gabah varietas kuku Balam dan Ramos. Namun, berpuluh tahun masyarakat petani sawah disana kesulitan dalam membawa hasil pertaniannya. Sehingga, rentan menjadi ‘korban’ para tengkulak. Tentu saja, minimnya ketersediaan infrastruktur jalan darat, menyebabkan penjualan hasil petanian disana tidak tertata secara baik.

—————————–

Pembangunan Terpadu Kawasan Pantai

Potensialitas dan strategisnya daerah Labuhanbatu yang dijuluki daerah ‘pedro dollar’ ini, memiliki prospek pengembangan skala nasional di propinsi Sumut. Sebagai koridor jalan lintas timur (Jalintim).

Untuk mengakomodasi rencana pengembangan itu, dibutuhkan adanya persiapan wilayah dengan intensitas memadai dan ketersediaan fasilitas pendukung. Khususnya, sarana dan prasarana transportasi yang baik.

Sebenarnya, ketika Sumatera Utara dipimpin oleh alm Raja Inal Siregar dan Labuhanbatu ketika itu masih daulat dalam satu wilayah kabupaten (Pra pemekaran menjadi Labuhanbatu, Labusel dan Labura), dan Labuhanbatu masih dipimpin bupati HT Milwan, rencana investor luar negeri sempat dikabarkan ingin menanamkan modalnya ke Labuhanbatu, khususnya pesisir pantai setempat. Yakni, pembangunan kawasan Tanjung sarang Elang (TSE) di kecamatan Panai Tengah menjadi pelabuhan perdagangan (trade port).

Itu, disusul adanya penandatanganan memory of understanding (MoU) atau nota kesepahaman antara Gubsu dan Bupati Labuhanbatu dengan para investor dari Malaysia. Masing-masing Executive Director SSC Comodities SD BHD Raja Abdul Razak bin Baharuddin dan Chairman Integrax Berhard, Harun Rosip. Itu, pada tahun 2004 lalu.

Digadang-gadang, para investor tersebut diberi kewenangan dengan memberi keizinan melakukan study kelayakan membuat rencana pembangunan pelabuhan yang kemudian ditindaklanjuti dengan perjanjian kerjasama pembentukan perusahaan patungan (joint venture) dalam pengelolaannya.

Terlepas dari tidak terdengarnya kembali lanjutan pembangunan pelabuhan itu, namun kawasan pesisir pantai Labuhanbatu yang sebelumnya samasekali tidak menerima pemerataan pembangunan, kondisinya sedkit berubah. Tercatat, ditahun itu, terjadi upaya peningkatan pembangunan infrastruktur prasarana jalan darat, walau belum maksimal.

Sebagai sarana dan fasilitas pendukung rencana pembangunan kawasan pesisir Labuhanbatu secara terpadu, direncanakan pembangunan infrastruktur jalan darat yang memadai dengan upaya pengaspalan jalan hotmix di lima kecamatan. Masing-masing dari Desa Sei Siarti kecamatan Panai tengah, tembus ke kecamatan Tanjung Medan, Labuhanbatu Selatan. Jalan Sei Pinang kecamatan Panai Tengah menuju Desa Asam Jawa, kecamatan Torgamba, Labusel dan Desa Perkebunan HSJ di kecamatan Bilah Hilir menuju Desa Kampung Mesjid, kecamatan Kualuh Hilir, Labuhanbatu Utara.

Sepantasnyalah, wacana rencana peningkatan mutu jalan itu kembali dibahas dan digagas untuk direalisasikan. Tujuan utamanya, untuk membuka daerah-daerah yang selama ini terisolasi. Sinergi dan kebersamaan ketiga pimpinan daerah disana (Labuhanbatu, Labura dan Labusel) sudah saatnya dinanti.

Komitmen bersama untuk mensejahterakan masyarakat, tidak hanya mimpi bagi warga yang terbelakang di daerah tersebut. Dan, sebagai jawaban sisi positif pemekaran Labuhanbatu yang dahulunya diharapkan mampu memeratakan pelayanan public dan pemerataan pembangunan.

—————–
Bilah Hilir, Butuhkan Pembukaan Kota Satelit

Pengembangan kecamatan Bilah Hilir, Labuhanbatu membutuhkan pembukaan akses kawasan baru. Bahkan idealnya, dengan membangun jalan-jalan yang mampu menembus dan mengatasi daerah terisolir di daerah itu.

“Ya, salahsatu solusi dengan membuka akses kawasan baru,” ujar Jumirin, warga Bilah Hilir Jumat kemarin.

Ditambahkannya, hal itu dapat dilakukan dengan membuka akses jalan baru di kawasan itu. Yakni, mulai dari Simpang PT Bilah menuju PT Daya Labuhan Indah (DLI) Wonosari. Selanjutnya tembus ke kawasan PT Cisadane Sawit Raya (CSR) menuju kawasan PTPN4 A Jamu. Dan, akses jalan menuju Sei Rakyat yang mampu menghubungkan ke Kecamatan Panai Tengah, Labuhan Bilik hingga ke Kampung Rakyat, Labuhanbatu Selatan (Labusel).

Jika itu dapat terealisasi, kata Jumirin, maka akan tercipta minimal 3 kota Satelit. Tentu saja, akunya selain kian mengembangkan wilayah pedalaman di kecamatan itu, juga semakin mempermudah akses transportasi dari dan ke Negeri Lama sebagai ibukota kecamatan Bilah Hilir. “Bahkan, dapat menjadi akses jalan menuju Kabupaten Labusel,” paparnya.

Konseptual untuk itu, tambahnya dapat dilakukan dengan perencanaan yang matang. Diantaranya, dengan pola jangka menengah, yakni dalam 10 tahun ke depan guna pelepasan dan upaya ganti rugi lahan-lahan masyarakat dan perkebunan yang terkena proyek tersebut. Selanjutnya, jangka panjangnya membangun dan meningkatkan mutu infrastruktur jalan darat di kawasan itu. “Ya, jangka menengahnya 10 tahun kedepan mesti upaya pembebasan lahan,” imbuhnya.

Ditambahkannya, dinamika ditengah masyarakat setempat kian berwarna pasca beredarnya rencana pemekaran wilayah Kabupaten Labuhanbatu menjadi 2 wilayah. Diantaranya, meningkatkan status Labuhanbatu menjadi Kotamadya. Sementara, untuk pesisir yakni, di 3 kecamatan Bilah Hilir, Panai Hulu, Panai Tengah dan Panai Hilir menjadi kabupaten Labuhanbatu. “Opini itu menjadi wacana ditengah masyarakat,” paparnya.

Sesuai wacana yang berkembang, rencana pemekaran wilayah, khususnya menjadikan wilayah pesisir sebagai Kabupaten Labuhanbatu dengan rencana menjadikan Negeri Lama sebagai Ibukota Labuhanbatu. Memang, menurut sejarah berdirinya kabupaten Labuhanbatu, asal kata daerah itu sendiri berawal dari adanya Pelabuhan Batu di kawasan Panai Tengah. Dokumentasi daerah yang ada menyatakan itu berasal dari adanya tempat penyandaran kapal-kapal yang berlabuh ketika itu. Dan, sejak itu Pelabuhan Batu lebih akrab disebut sebagai Labuhanbatu.

Wisjnu Amat Sastro Minta Kapolres Dukung Program Bupati

Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Kapoldasu) Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro meminta semua Kapolres beserta jajarannya untuk mendukung sepenuhnya program kerja bupati.

Penegasan tersebut disampaikan Kapoldasu Irjen Wisnu Amat Sastro ketika memberikan sambutannya pada acara temu ramah di Pendopo kabupaten Labuhanbatu, Senin 25 April 2011. Program bupati dalam membangun daerahnya bukanlah pekerjan yang ringan. “Syarat majunya suatu daerah dalam membangun adalah keamanan dan ketertiban yang kondusif,” katanya.

Di sinilah peran serta Kapolres dalam mendukung program bupati tersebut sehingga akan tercipta suatu sinergi yang harmonis antar Muspida di daerah tersebut. “Bangun kerja sama yang baik engan semua unsur termasuk Jajaran Kodim, Kompi, tokoh masyarakat, pemuda dan pemuka agama,” ujar Wisnu.

Pada bagian lain Irjen Wisjnu Amat Sastro menjelaskan, bahwa maraknya kasus terorisme saat ini pelu mendapatkan perhatian kita semua. Demikian juga penyakit masyarakat (pekat) tidak bisa dipandang sebelah mata, karena telah menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat. “Oleh sebab itu kita tidak bisa main-mai lagi, hukum dan tindakan tegas harus kita tegakkan,” katanya.

Demikian juga dengan penyakit masyarakat seperti judi, prostitusi dan narkoba harus diberantas tuntas. “Saya minta kepada masyarakat, untuk melaporkan langsung kepada saya apabila ada oknum polisi yang membacking judi, postitusi dan narkoba. Catat namanya dan
laporkan pasti akan saya tindak tegas,” tegasnya sambil meminta kepada pelapor jangan membuat laporan fitnah dengan memberikan data palsu tanpa bukti yang kuat.

Menanggapi banyaknya permintaan masyarakat dalam memberantas pekat tersebut, Kapoldasu dengan tegas mengatakan, bahwa jabatan Kapolda menjadi taruhannya apabila kasus pekat tidak bisa diatasi di Sumatera Utara.

Pada kesempatan itu, Kapoldasu juga memberian apresiasi positif terhadap Kapolres AKBP Hirbak Wisnu Setiawan atas dukungan yang diberikan masyarakat Labuhanbatu walau bertugas masih dalam hitungan minggu. “Saya menyampaikan apresiasi kepada Kapolres Labuhanbatu yang mendapat sambutan positif dari masyarakat,” ujar Wisnu.

Hadir pada acara termu ramah tersebut Wakil Bupati Labuhanbatu Suhari Pane, bupati Labusel Wildan Aswin Tanjung, Sekdakab Labura Amran, unsur Muspida, para kepala SKPD, Camat dan undangan lainnya.(fh)

Polisi Tangkap Lima Perampok Toke Karet di Labuhanbatu

Lima pelaku tindak kejahatan pencurian dengan kekerasan (curas) yang meresahkan warga di kawasan Labuhanbatu utara (Labura) dan Labuhanbatu, berhasil dicokok jajaran Mapolres Labuhanbatu.

Penangkapan itu sendiri dilakukan dari dua tempat berbeda, Minggu 24 April 2011 malam di Jalinsum Bandar Durian, Labura dan di Jalinsum SM
Raja, Rantauprapat. Di antara para tersangka, DP,36, warga Dusun Terang Bulan, Kecamatan Aek Natas, Labuhanbatu Utara. AIP, 32, warga Dusun Paliah Desa Gunung Melayu Kec Kualuh Selatan, Labura. ATT,21, warga Jalinsum Desa Terang Bulan Kec Aek Natas, Labura. HS Als Uban, 30, warga jalan Sialang Kendi Desa Terang Bulan Kec Aek Natas, Labura. Dan, NS alias Udin, warga Lubuk Nornor Kec Bilah barat Kab Labuhanbatu.

Alasan kelimanya ditangkap polisi atas laporan korban Martogu Harahap, korban curas kelima tersangka pada 15 Maret 2011 lalu. Dalam kasus
ini, korban mengalami kerugian 1 truk colt diesel NoPol BB 8242 KA, 4 ton getah karet senilai Rp320.000.000. Juga, atas laporan korban Heri
Alam Siregar, korban pencurian dengan kekerasan 24 Maret 2011 lalu.

Korban mengalami kerugian uang sebesar Rp2 juta dan HP Merk Kapone, serta SIM B1 Umum atas nama korban. Selain itu, atas laporan korban Salmansyah Pane, korban curas 24 Maret 2011 lalu, dengan kerugian uang sebesar Rp6 juta, HP Nokia, SIM dan STNK. Dari tangan para tersangka, pihak kepolisian berhasil menyita barang bukti. Di antaranya, uang tunai Rp 679.000, satu unit HP merk Mito, satu unit mobil Daihatsu Terrios BK 1310 YL, satu Hp K-Fone, satu unit Hp Nokia N73, Hp Nokia 1208 dan satu unit mobil Xenia BK 1948 YK.

Dalam modus operandi kejahatan kelima tersangka dilakukan dengan cara memberhentikan kenderaan para korban dan menyekap. Lalu, merampas benda-benda berharga milik korban. “Tersangka memberhentikan kendaraan korban menyekap korban di kendaraan tersangka. Lalu mengambil truk dan isi berupa getah karet sebanyak 4 ton kerugian ditaksir Rp320.000.000,” ungkap Kapolres Labuhanbatu AKBP Hirbak WS melalui Kasat Reskrim AKP Tito Hutauruk, Senin 25 April 2011 di Mapolres Labuhanbatu.

Selain itu, kata Tito, dalam modus kejahatannya para tersangka juga memepet kendaraan korban dan mengancam dengan pisau dan senpi dan mengambil barang barang milik korban. Serta tak segan-segan melukai korban dengan sejam dan senpi. “Para tersangka mengambil sejumlah uang dan HP dan tas milik korban seraya mengancam sehingga korban mengalami luka dibagian kepala,” ujarnya.

Selain itu, ucap Tito, pihaknya masih memburu setidaknya tiga orang lainnya yang diduga terlibat dalam aksi kejahatan serupa. “Untuk sementara masih tahap pengembangan. Terhadap tiga orang tersangka lainnya,” ujarnya.(fh)

Kapolda Sumut Malah Minta Data Korupsi APBD Labuhanatu Dari Wartawan

Kapoldasu justru menantang kalangan media untuk mengumpulkan data dugaan tindak pidana korupsi APBD Labuhanbatu TA 2005 senilai Rp 30 miliar semasa bupati HTM, dan pengadaan Alat Kesehatan (Alkes) di RSUD Rantauprapat ketika TPS Bupati Labuhanbatu menjabat sebagai kepala RSUD Rantauprapat.

Irjen Pol Wisjnu Ahmad Sastro tidak terbuka perkembangan penyidikan yang dilakukan dalam indikasi dugaan pelanggaran penggunaan keuangan negara tersebut. Padahal, sebelumnya sejumlah aktivis dari Forum Mahasiswa dan Masyarakat Bersatu Anti Korupsi (FM2B-AK) sempat melakukan unjukrasa ke Mapoldasu mendesak kepolisian mengusut tuntas dugaan korupsi terkait hal itu.

Kapoldasu ketika dikonfirmasi wartawan di Mapolres Labuhanbatu, Senin 25 April 2011 pada kunjungannya mengatakan tidak ingin didesak. Sebab Kepolisian, kata dia menunggu kalangan media menyerahkan data pembuktian dugaan korupsi tersebut. “Tidak usah harus didesak-desak. Sepanjang ada bukti wajib hukumnya ditindak,” kata Kapoldasu.

Untuk itu, tambahnya, dia menunggu laporan kalangan media jika ada yang memiliki data terkait hal itu. “Sekarang, jika media punya bukti, kita tunggu. Yang salah kita tindak,” tegasnya. Kepolisian, kata dia, tetap komitmen menangani kasus korupsi.

“Korupsi kita tindak tegas. Kalau ada data kita tunggu audiensi di Mapoldasu,” ucapnya.

Menyikapi komentar Kapoldasu tersebut, pihak Indonesia Police Watch (IPW), Lembaga pemantau kinerja Polisi mengakui sebaiknya polisi yang melakukan penyelidikan.

“Tapi lebih baik lagi masyarakat yang memiliki data-data membantu polisi dengan cara memberikan data tersebut,” tulis Direktur IPW Neta S Pane dalam pesan singkat ponselnya. Kata Neta lagi, jika masyarakat merasa tidak puas atas kinerja polisi dalam penyelidikan kasus itu, maka menyarankan untuk melaporkannya ke pihak KPK.

“Jika masyarakat tidak puas sebaiknya kasus itu dilapor ke KPK,” ujarnya. Sebelumnya, puluhan aktivis yang tergabung dalam massa Forum Mahasiswa dan Masyarakat Bersatu Anti Korupsi (FM2B-AK), melakukan aksi unjuk rasa di Markas Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Mapoldasu).

Mereka meminta pihak kepolisian segera memeriksa mantan bupati Labuhanbatu, HTM dan menetapkannya sebagai tersangka terkait dugaan korupsi dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2005 senilai Rp30 miliar. Puluhan massa FM2B-AK, Senin 28 Maret 2011 lalu juga meminta TPS Bupati Labuhanbatu diperiksa, terkait pembelian dan pengadaan alat kesehatan (Alkes) di RSUD Rantauprapat ketika masih
menjabat sebagai kepala rumkit tersebut.(fh)

Bupati Berharap SMA Plus Rantauprapat Lulus UN Di Atas 95 Persen

Janganlah berfikir besar, tetapi mulailah dari langkah dan kegiatan kecil untuk meraih yang lebih besar. Demikian dikatan bupati Dr H Tigor Panusunan Siregar ketika menyampaikan sambutan dan arahannya pada acara perpisahan SMA Negeri 3 Plus Rantauprapat di halaman sekolah tersebut, Sabtu 23 April 2011. Alumni SMA Plus saat ini telah banyak memenuhi lapangan pekerjaan di berbagai bidang profesi, seperti polisi, tentara, dokter dan lain-lain.

Mereka itu, menurut Tigor, pada awalnya hanyalah seorang pelajar yang berfikir dari yang kecil-kecil sehingga pada akhirnya mereka menuai hasil yang cukup besar. Bupati juga mengungkapkan, bahwa di zaman teknologi informasi saat ini kebutuhan akan perangkat komputer sudah sangat mendesak.

Oleh sebab itu Pemkab Labuhanbatu telah mengadakan 40 unit komputer untuk dimanfaatkan oleh pelajar di SMA Negeri 3 Plus Rantauprapat ini.
Pesatnya teknologi informasi saat ini telah membawa kita kepada pergaulan yang mengglobal. Apa yang terjadi di luar negeri langsung dapat kita ketahui di rumah kita pada saat yang bersamaan. Peluang ini tentunya harus dapat kita manfaatkan, khususnya bagi para pelajar karena setiap pelajaran yang kita butuhkan telah dapat diakses di internet.

Komputer dengan jaringan internet akan menambah wawasan dan ilmu kita, sehingga kita tidak tertinggal oleh pelajar lain di luar Labuhanbatu. “Pelajaran apa yang kita butuhkan semua tersedia di internet, tetapi jangan hanya digunakan untuk chating, facebook saja,” kata Tigor.

Pada bagian lain Tigor meminta pelajar di Labuhanbatu agar memiliki cita-cita setinggi mungkin. Seandainya tidak tercapai tidak apa-apa, tetapi yang penting kita memiliki cita cita karena cita-cita merupakan harapan kita untuk terus bergairah menapaki kehidupan ini.

Pada kesempatan itu Tigor meminta kepada komite sekolah untuk dapat melakukan terobosan-terobosan dalam pengelolaan keuangan sekolah,
karena dana yang dimiliki oleh Pemkab Labuhanbatu sangat terbatas. Kepada dewan guru Tigor berharap dapat meningkatkan mutu pendidikan
dengan melakukan langkah-langkah kecil yang bermanfaat bagi perkembangan SMA Negeri 3 Plus ke depan. “Saya berharap SMA Negeri 3
Plus dapat meluluskan lebih dari 95 % pada UN tahun ini dan dapat masuk PTN jauh lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya,” harap Tigor.

Sementara itu Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Plus Rantauprapat Maramuda Tambunan ketika ditanya wartawan program yang dilaksanakan meyahuti
permintaan bupati itu mengatakan, program 100 hari kepala sekolah dalam waktu dekat adalah mengadakan green school (sekolah hijau,
sejuk) dengan menanam pohon pelindung di kompleks sekolah. Disamping itu juga beliau merencanakan pembuatan laboratorium alam
berupa kolam ikan yang dapat dimanfaatkan untuk penelitian bagi siswa jurusaan biologi. Dengan demikian siswa-siswi di sini akan semakin
mudah untuk mengenal alam di lingkungannya.(fh)

Suhari Buka Sepeda Santai di Rantauprapat

Perubahan yang kita harapkan dan dambakan selama ini tidak akan mungkin dapat tercipta kalau kita sendiri tidak
memulainya. Oleh sebab itu marilah kita memulainya dengan kegiatan-kegiatan kecil terlebih dahulu baru kemudian melangkah kepada kegiatan yang lebih besar.

“Tidak ada sejuta langkah tanpa diawali dari satu langkah, ”kata wakil bupati Labuhanbatu Suhari Pane ketika memberikan arahan dan bimbingan pada acara sepeda santai di lapangan Ika Bina Rantauprapat, Minggu pagi 24 April 2011.

Suhari mengatakan, apa yang dilakukan oleh Konsorsium sejumlah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) peduli lingkungan yang diketuai Tatang
Hidayat Msi merupakan langkah kecil namun berdampak besar kepada masyarakat.

Memang, kata Suhari, apa yang dilakukan oleh konsorsium LSM peduli lingkungan ini terlihat kecil, tetapi ketahuilah bahwa dalam beberapa
tahun ke depan kita semua akan merasakan manfaatnya. Pada kesempatan itu Wakil Bupati mengajak seluruh peserta yang didominasi oleh generasi muda dan pelajar itu untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih dan sehat. Mulailah dari yang kecil seperti membuang sampah pada tempat yang telah disediakan. “Jangan buang sampah sembarangan, buanglah di tempat-tempat yang disediakan untuk itu,” katanya.

Kota Rantauprapat sebagai ibukota kabupaten Labuhanbatu, jelas Suhari, setiap datang hujan lebih dari 1 jam akan digenangi air hampir di
setiap badan jalan. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata penyebab utamanya adalah banyaknya sampah yang menyumbat parit terseut.
Ini menggambarkan, bahwa prilaku kita sebagai warga Rantauprapat belum berpihak kepada penataan lingkungan yang bersih dan sehat. Kita masih
sering membuang sampah sembarangan, sehingga tidak mengherankan kalau hujan datang akan datang pula banjir.

Pada bagian lain Suhari menjelaskan, bahwa pada tahun anggaran 2011 ini Pemkab Labuhanbatu dibawah Tigor-Suhari akan mengalokasikan dana
sebesar Rp 4 milyar untuk pembangunan penerangan jalan di kota Rantauprapat. Berkaitan dengan itu, masyarakat diminta berperan aktif untuk menjaga dan memelihara pembangunan penerangan jalan tersebut.

“Pemerintah bukan segalanya, tetapi peran serta masyarakatlah yang lebih utama dalam menjaga dan memelihara apa yang telah dibangun oleh
Pemkab Labuhanbatu itu,” tegas Suhari. Dia meminta para pedagang yang berjualan di komplek lapangan Ika Bina Rantauprapat untuk dapat menjaga
kebersihan dan keindahan lingkungan tempat tersebut.(fh)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.