DAS Bilah, Nasibmu Kini (Lingkungan Hidup Digerus Modernisasi)

Modernisasi memaksa terjadinya perusakan lingkungan dan eksploitasi kawasan daerah aliran sungai (DAS) yang berlebihan. Misalnya saja, DAS Bilah di kabupaten Labuhanbatu, propinsi Sumatera Utara menjadi sasaran perusakan lingkungan hidup. Baik dengan aktivitas penambangan material pasir dan bebatuan, juga diduga sebagai pembuangan limbah rumah tangga dan industrial. Dibutuhkan kepedulian bersama untuk melestarikan kawasan dan bantaran sungai Bilah yang semakin memperihatinkan. Serta, penerapan sanksi berlaku terhadap pihak yang melakukan perusakan lingkungan hidup.

Bila dikatakan kota Rantauprapat sebagai jantungnya kabupaten Labuhanbatu. Maka, tak salahkiranya jika daerah aliran sungai (DAS) Bilah disebut sebagai ‘hatinya’ daerah itu. Sebab, selain masih dijadikan sebagai prasarana transportasi air guna mengangkut warga dan berbagai material hasil pertanian dan perkebunan dan berfungsi sebagai sumber kebutuhan air keseharian bagi warga kota Rantauprapat (terlepas baik tidaknya mutu produksi air bersih) oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bina Rantauprapat, sungai Bilah yang memanjang dari hulu hingga ke hilir, membelah wilayah Rantauprapat juga sebagai sumber mata pencaharian masyarakat yang berfungsi vital bagi masyarakat nelayan tradisional dalam usaha penangkapan ikan.

DAS Bilah juga sumber eksploitasi sumber daya alam (SDA) galian C untuk bahan tambang pasir dan bebatuan. Namun, seiring kemajuan daerah dan laju pembangunan juga memiliki konsekwensi logis. Kondisi DAS Bilah, kian memprihatinkan. Apa lacur, modernisasi membawa dampak perubahan terstruktur terhadap DAS Bilah dan lingkungannya.

Selasa 26 Juli 2011 petang, penulis dan seorang rekan jurnalis ikut bersama rombongan staf Badan Pengendalian dampak Lingungan hidup Daerah (Bapedalda) Labuhanbatu. Perjalanan kali ini berniat menengok langsung kondisi kekinian yang terjadi di sepanjang DAS Bilah. Rute yang dilalui menyusuri Hulu sungai itu. Menggunakan perahu kayu bermotor sewaan milik warga setempat, perahu seakan menari diriak gelombang air. Meski mengalami penyusutan debit yang relative besar dampak kemarau yang melanda daerah itu, perahu yang dinakhodai Hasan perlahan menghantar rombongan menuju hulu sungai.

Panorama alam kawasan itu memang memiliki cerita tersendiri oleh warga dibantaran sungai. Berbagai titik memiliki kisah. Seperti halnya, pada lubuk Kura-kura. Disebut demikian karma keterdapatan batu berukuran relative besar dengan bentuk menyerupai hewan amphibi bercangkang tersebut. Namun, memasuki lokasi Batu Kodok (juga bebatuan berbentuk kodok kembar) kondisi air sudah mengalami perubahan. Terkesan berminyak dan keruh kecoklatan.

Tak jauh di hulunya, keterdapatan lokasi penambangan galian C. Kondisi ke hulu terus mengalami hal serupa seiring kian banyaknya ditemui lokasi-lokasi penambangan pasir dan kerikil yang ada. Baik ketika mendapati lokasi Batu Melintang yang konon disebut warga merupakan mitos perahu besar yang menjadi batu.

Takkurang dari enam titik yang menjadi lokasi perusahaan penambangan Galian C di DAS Bilah. Serta, masyarakat yang berprofesi sebagai penambang kerikil di DAS itu sebagai pemasok material bahan bangunan untuk Labuhanbatu, Labura dan Labusel. Bahkan, dikabarkan material endapan dasar di DAS Bilah itu juga dikirim hingga ke Propinsi Riau.

Memang, jika ditilik fungsi aktivitas perusahaan-perusahaan Galian C nya sebagai penyuplai material bahan bangunan, tentu tidak ada salahnya. Tapi, melihat secara dekat kondisi DAS Bilah yang terjadi dampak bisnis ‘penggeseran bumi’ itu, tentu kontras terlihat. Berbagai penilaian akan berseliweran dalam syaraf menyaksikan fenomena yang terjadi. Pengerukan dan Pengecilan badan sungai sangat mengkhawatirkan.

Di tiap-tiap lokasi penambangan galian C terlihat mempergunakan mesin pengeruk tanah becho, masing-masing sedikitnya dua unit. Beratus bahkan ribuan meter kubik material pasar dan kerikil didaratkan perharinya dari DAS Bilah.

Uniknya dan ironis, alat berat itu dipaksa untuk melakukan pengerukan, sembari pembendungan arus sungai. Bahkan, bendungan bukan hanya di bantaran sungai. Tapi, hingga ke tengah DAS. Pengerukan yang dilakukan tentu saja memiliki dampak terhadap ekosistem dan khususnya biota air. Juga, selain mengancam kelestarian lingkungan hidup, aktivitas tersebut juga berkonsekwensi terhadap tidak terkontrolnya lagi arus dan kedalaman air. Tentu saja, dibeberapa titik terjadi pendalaman namun di lokasi lain terjadi pendangkalan. Ini tentu menyulitkan bagi para warga yang masih melakukan perjalanan dengan menggunakan transportasi air. Misalnya saja, penulis dan rombongan. Kondisi kekinian yang terjadi, terkesan menyebabkan hilangnya kendali navigasi yang dimiliki nakhoda perahu.

Hasan, nakhoda perahu itu, kerap memerintahkan dua orang ABK nya untuk terjun ke arus sungai guna membantu mendorong perahu yang terjebak. Baling-baling motor perahu tersebut kandas dibebatuan. Dan tentu saja, mengakibatkan laju perahu menjadi tersendat.

Pemikiran dan kontribusi kepedulian saatnya diharap untuk melakukan analisa dampak lingkungan yang kini terjadi di DAS Bilah. Baik dalam hal mengantisipasi efek negative yang terjadi dampak kegiatan dan aktivitas perusahaan penambang Galian C, serta buangan limbah rumah tangga dan industri.

Limbah Cemari DAS Bilah

Perjalanan menyusuri hulu DAS Bilah memakan waktu takkurang dari 3 jam. Sesampai di kawasan Bukit Tanjung Medan, rombongan memilih merapatkan perahu bermotor ke tepian sungai. Para ABK menambatkan perahu dengan mengikat simpul tali ke akar sebatang pepohonan, agar perahu tidak hanyut terseret air.

Mendapati anak sungai yang mengalirkan air berwarna kecoklatan dan berbeda dengan air yang ada pada anak-anak sungai lainnya, serta beraroma yang tajam, rombongan menyusuri anak sungai dibalik semak belukar tersebut.

Takkurang dari seratus meter rombongan bertemu dengan salahseorang warga sekitar. Sebut saja, Rahmad. Dia menyambut kedatangan rombongan dan mengetahui betul tujuan para staf yang berpakaian resmi PNS dari Bapedalda.

Tentu saja, banyak informasi penting didapat darinya. Bahkan, kata dia, yang kerap dilakukan untuk jadwal pembuangan limbah adalah sekira jam 19.00 wib hingga ke jam 03.00 dini hari. Alasannya, itu waktu yang tidak terpantau. “Selambatnya mesti hingga jam 3. Sebab, pagi hari sekitar jam 07.00 wib mesin penyedot air milik PDAM Tirta Bina di Hilir Sungai Bilah akan dioperasikan. Jadi, pembuangan limbah mesti dihentikan 4 jam sebelum mesin itu dinyalakan,” ucapnya.

Dia menyebutkan, dari anak sungai tersebut kerap mengalir air kecoklatan dan kala waktu tertentu berwarna kehitaman dengan aroma yang menyegat. Diduga, cairan tersebut merupakan limbah cair dari salahsatu industri pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) PT S yang keberadaannya tidak jauh dari lokasi itu. Dicurigai, alur aliran air anak sungai itu itu merupakan saluran pembuangan limbah cair pabrik.

Kian penasaran, rombongan terus menyusuri hulu anak sungai itu. Mencapai jarak 300 meter ke dalam areal perkebunan kelapa sawit milik perusahaan PT S, rombongan juga menemukan pipa berdiameter 10 centimeter yang mengalami kebocoran dengan mengeluarkan cairan kepekatan. Diduga pipa tersebut, merupakan instalasi pembuangan limbah (IPAL) milik perusahaan itu.

Masuknya rombongan ke wilayah itu, ternyata terdeteksi oleh pihak manajemen perusahaan. Sebuah mobil berpenumpang empat orang membawa staf perusahaan. Seorang diantaranya, Sugianto yang kemudian diketahui sebagai Humas perusahaan PT S.

Bersama mereka, rombongan lalu dibawa melihat kondisi yang ada. Menyusuri lokasi-lokasi IPAL milik perusahaan itu yang berada dibalik bebukitan. Didalam empat kolam/ bak penampungan yang relative berukuran besar, Sugianto menyebut dan menyangkal perusahaan itu tidak pernah melakukan pembuangan limbah ke luar lingkungan dan areal perkebunan. Konon halnya, ke DAS Bilah.

Kabar tak enak yang sering menyebutkan perusahaan itu mengalami kebocoran IPAL dan mencemari lingkungan sekitar, terlebih lagi mencemari perairan DAS Bilah, ternyata mendapat respon dari Pemerintahan setempat. Pemkab Labuhanbatu dikabarkan akan memberikan sanksi tegas kepada perusahaan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT S bila terbukti membuang limbah cair ke sungai Bilah. Pasalnya, akibat limbah tersebut bisa berdampak buruk terhadap lingkungan hidup yang ada.

Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kabupaten Labuhanbatu Romiduk Sitompul mengatakan, terkait dengan temuan DPRD PKS PT S yang ditengarai membuang limbah cair ke Sungai Bilah Rantauprapat, pihaknya akan melakukan pengecekan ke lokasi. “Kalau memang perusahaan itu membuang limbah ke sungai, kita akan melakukan teguran peringatan pertama untuk diperbaiki kebocoran yang terjadi. Lalu teguran kedua II dan ke III dank e IV. Kalau teguran ini tidak diindahkan sampai teguran ke IV maka persoalan ini akan diajukan ke penyidik kepolisian,” kata Romiduk.

Menurutnya, perusahaan yang tidak mengindahkan peringatan pemerintah daerah sampai teguran ke IV, maka teguran I hingga ke III akan menjadi bukti-bukti bagi penyidik kepolisian untuk melanjutkan sanksi pemidanaan. “Dan ini berat ancamannya. Memang ancaman sampai proses ini belum pernah terjadi. Maunya saya sih, sampai ke proses sanksi pemidanaan. Kalau misalnya sanksi peringatan pertama itu sungai tercemar yang mengakibatkan ikan mati, padi masyarakat juga mati maka harus direhabilitasi semua kerusakan yang terjadi,” bebernya.

Selain penerapan sanksi dari pemerintah, juga ada kententuan dari badan yang memantau produk Pabrik Minyak Sawit yakni, RSPO dan ISO14000. Perusahan PKS harus dapat memenuhi Prinsip dan Kriteria yang ditetapkan RSPO untuk produksi minyak sawit termasuk masalah penanganan limbah PKS. “Ketentuan. RSPO ISO 14000 inilah kesepakatan dan syarat dalam pengelolaan PKS yang harus bisa menjamin lingkungan tidak rusak tapi harus berkesinambungan dan lestari. Kalau perusahaan PKS tidak mengindahkan RSPO, minyak sawit yang dihasilkan PKS tidak laku dijual dipasar eropah,” tutur Romiduk.

Dia mengatakan, limbah PKS PT S yang memakai proses land aflication sering terindikasi limbahnya bocor hingga meluber sampai ke arus Sungai Bilah Rantauprapat. Pasalanya, ada kemungkinan limbah yang bocor itu digunakan sebagai pupuk untuk lahan sawit yang ada disekitar pabrik. “Yang menjadi masalah sekarang, limbah yang mungkin dijadikan sebagai pupuk itu sampai ke sungai,” ujarnya.

Sementara ketua Komisi D DPRD Labuhanbatu Dahlan Bukhori mengatakan, pihaknya telah membuat surat pemanggilan terhadap pimpinan perusahaan PKS PT Siringo-ringo untuk mempertanyakan persoalan limbah yang bocor sampai ke Sungai Bilah. “Surat pemanggilan kepada Pimpinan PT S sudah siap kita buat, tinggal mengirimkannya saja. Mungkin beberapa hari ini akan kita adakan pertemuan, tapi karena sekarang lagi membahas LKPJ belum bisa sekarang,” tandasnya.

Sekedar diketahui, Sejumlah anggota DPRD Labuhanbatu memergoki Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT S mengalirkan limbah cair yang bermuara ke Sungai Bilah Rantauprapat, Jumat (23/7) lalu. Dewan pun mendesak pihak berkompeten segera memberi sanksi tegas.Anggota Komisi D DPRD Labuhanbatu Ahmad Jaiz Rambe mengatakan, dia bersama rekannya menemukan pembuangan limbah cair yang dilakukan pihak perusahaan PKS PT S sampai alurnya ke Sungai Bilah Rantauprapat.

Pesisir Labuhanbatu Butuh Pengembangan

Terisolir. Minimnya kwalitas infrastruktur jalan darat menjadi dosa bersama terhadap penyebab lambannya geliat pembangunan dan peningkatan ekonomi masyarakat di wilayah pesisir Labuhanbatu, propinsi Sumatera Utara. Dan, seakan terpuruk laksana jalan di tempat. Masyarakat selalu mimpi tentang tersedianya jalan darat yang menjadi urat nadi penghubung mereka ke dunia luar. Dinantikan, perhatian pemerintah memberi secercah kepedulian pada kondisi masyarakat yang mendambakan pemerataan ‘kue pembangunan’ yang adil bagi pesisir pantai Labuhanbatu.

Jumat (22/7) pagi. Cuaca masih berkabut. Di komplek perkantoran perusahaan swasta dan pemerintahan serta halaman sekolah-sekolah, tampak para karyawan, PNS dan peserta didik tengah senam pagi. Gerakannya tak jauh beda dengan tarian kupu-kupu putih yang terbang menghinggapi kembang di taman dalam menyongsong pagi.

Di beberapa areal perkebunan karet dan kelapa sawit, para karyawan pemanen tandan buah segar (TBS) Kelapa sawit dan penderes getah, beraktivitas mengalahkan malasnya burung-burung balam dan merbuk yang masih menggelayut di temali kabel listrik.

Rute perjalanan pagi itu, adalah mengunjungi Desa Sei Siarti di kecamatan Panai Tengah, Labuhanbatu. Bersama seorang rekan jurnalis, dengan mengenderai sepedamotor, rencana awal ingin menyusuri dusun-dusun di wilayah itu. Khususnya, dusun Milano yang konon merupakan daerah terisolir di wilayah pesisir Labuhanbatu. Terlebih lagi, di daerah itu keterdapatan tonggak dan bangunan yang dahulunya berbentuk dermaga. Serta, alkisah asalmuasal adanya nama Pelabuhan Batu yang akhirnya dijadikan nama Kabupaten beribukotakan Rantauprapat.

Tak gampang menuju daerah itu. Badan jalan yang hanya mendapatkan pengerasan sekadarnya itu, membuktikan infrastruktur prasarana jalan darat disana dengan kondisi masih memprihatinkan. Terindikasi luput dari perhatian pemerintah setempat. Jalan darat penghubung antar wilayah di kecamatan itu sebagai urat nadi transportasi banyak belum tersentuh pembangunan.

Pun seberkah bukti menetesnya arus modernisasi adalah masuknya fasilitas penerangan listrik milik PLN. Namun, dikondisi tanah berstektur gambut, tiang-tiang listrik yang terpancang kebanyakan berdiri dengan kemiringan-kemiringan yang nyaris tumbang.

Di penghujung jalan itu setelah memasuki gerbang dan melalui pabrik kelapa sawit (PKS) milik perusahaan swasta PT Cisadane Sawit Raya (CSR), jalanan mentok di sebuah dermaga bernama Buluh Tolang. Perjalanan selanjutnya, mesti memanfaatkan fasilitas perahu bermotor milik warga setempat untuk menyeberani daerah aliran sungai (DAS) Barumun.

Namun, sesaat menunggu penumpang lain yang juga akan dihantar ke seberang, penulis bertemu dengan sesosok pria paruh baya. Perawakannya cukup berpendidikan dengan mengenakan pola pakaian tidak menyerupai warga setempat. Sembari menyeruput segelas the hangat yang dipesannya kepada pemilik warung, pria tersebut menyapa penulis dan rekan lainnya. Kontak komunikasi dilakukan. Setelah itu, pria yang kemudian diketahui bernama Sahat Simangunsong (48) merupakan seorang kepala sekolah di SD Swasta di wilayah itu.

Dia cukup faham kelelahan penulis dan rekan setelah melalui jalanan milik perkebunan tersebut. Sejauh takkurang dari 25 kilometer dengan kondisi jalanan yang hanya mendapat pengerasan ala kadarnya. Bahkan, dibeberapa titik kondisi memprihatinkan, memaksa shockbreaker sepedamotor mesti lebih berkontraksi. “Lumayan parah jalanannya, ya,” ucapnya memulai pembicaraan dengan penulis.

Katanya, kondisi itu, katanya jika musim kemarau akan dipenuhi debu yang berterbangan dan dimusim penghujan badan jalan dipenuhi lumpur. Memang, aku dia, dominant jalanan yang dilalui itu adalah milik perkebunan swasta. Dan, kondisi yang ada relative lama ditanggungkan warga.

Titik terparah lainnya, aku dia, adalah jalan yang menembus Desa Sei Siarti, Panai Tengah menuju Tanjung Medan, Kecamatan Kampung Rakyat, Labuhanbatu Selatan. Meskipun diharap sebagai jalan pintas penghubung kecamatan Panai tengah dan sekitarnya ke Labusel, namun warga mesti ekstra hati-hati ketika melaluinya. Sebab, jalanan hanya ‘beraspalkan’ tanah liat putih. “Masih jalan perkampungan dan melalui areal perkebunan warga,” ucap Simangunsong .

Pembukaan dan peningkatan kualitas perkerasan badan jalan yang mampu menghubungkan antar wilayah di kawasan itu, sangat didambakan warga. Alasannya, akan mempermudah akses transportasi warga ketika mengangkut hasil pertanian dan perkebunan. Sehingga, biaya yang dikeluarkan warga dapat ditekan seminimalnya.

Selama ini, kata dia, warga hanya dapat mengandalkan transportasi air. Dan tentu saja, dengan ongkos yang lumayan tinggi.

Menurutnya, ada beberapa lokasi yang ideal untuk dilakukan peningkatan kwalitas jalan darat di daerah itu. Dan, menjadi penghubung antar kabupaten. Sebab, menjadi jalan penghubung antara kabupaten Labuhanbatu ke Labuhanbatu Selatan. Dan, dari Labuhanbatu Utara menuju Kecamatan Bilah Hilir, di Labuhanbatu. “Ya, jalan-jalan tersebut mampu menghubungkan antar kabupaten. Sangat keharusan saatnya untuk meningkatkan mutu dan kwalitas badan jalannya,” ucap dia.

Di daerah Desa Sijawi-jawi, Bilah hilir menuju Kampung Mesjid, Labura, kawasan itu dahulunya merupakan sentra penghasil padi dan gabah varietas kuku Balam dan Ramos. Namun, berpuluh tahun masyarakat petani sawah disana kesulitan dalam membawa hasil pertaniannya. Sehingga, rentan menjadi ‘korban’ para tengkulak. Tentu saja, minimnya ketersediaan infrastruktur jalan darat, menyebabkan penjualan hasil petanian disana tidak tertata secara baik.

—————————–

Pembangunan Terpadu Kawasan Pantai

Potensialitas dan strategisnya daerah Labuhanbatu yang dijuluki daerah ‘pedro dollar’ ini, memiliki prospek pengembangan skala nasional di propinsi Sumut. Sebagai koridor jalan lintas timur (Jalintim).

Untuk mengakomodasi rencana pengembangan itu, dibutuhkan adanya persiapan wilayah dengan intensitas memadai dan ketersediaan fasilitas pendukung. Khususnya, sarana dan prasarana transportasi yang baik.

Sebenarnya, ketika Sumatera Utara dipimpin oleh alm Raja Inal Siregar dan Labuhanbatu ketika itu masih daulat dalam satu wilayah kabupaten (Pra pemekaran menjadi Labuhanbatu, Labusel dan Labura), dan Labuhanbatu masih dipimpin bupati HT Milwan, rencana investor luar negeri sempat dikabarkan ingin menanamkan modalnya ke Labuhanbatu, khususnya pesisir pantai setempat. Yakni, pembangunan kawasan Tanjung sarang Elang (TSE) di kecamatan Panai Tengah menjadi pelabuhan perdagangan (trade port).

Itu, disusul adanya penandatanganan memory of understanding (MoU) atau nota kesepahaman antara Gubsu dan Bupati Labuhanbatu dengan para investor dari Malaysia. Masing-masing Executive Director SSC Comodities SD BHD Raja Abdul Razak bin Baharuddin dan Chairman Integrax Berhard, Harun Rosip. Itu, pada tahun 2004 lalu.

Digadang-gadang, para investor tersebut diberi kewenangan dengan memberi keizinan melakukan study kelayakan membuat rencana pembangunan pelabuhan yang kemudian ditindaklanjuti dengan perjanjian kerjasama pembentukan perusahaan patungan (joint venture) dalam pengelolaannya.

Terlepas dari tidak terdengarnya kembali lanjutan pembangunan pelabuhan itu, namun kawasan pesisir pantai Labuhanbatu yang sebelumnya samasekali tidak menerima pemerataan pembangunan, kondisinya sedkit berubah. Tercatat, ditahun itu, terjadi upaya peningkatan pembangunan infrastruktur prasarana jalan darat, walau belum maksimal.

Sebagai sarana dan fasilitas pendukung rencana pembangunan kawasan pesisir Labuhanbatu secara terpadu, direncanakan pembangunan infrastruktur jalan darat yang memadai dengan upaya pengaspalan jalan hotmix di lima kecamatan. Masing-masing dari Desa Sei Siarti kecamatan Panai tengah, tembus ke kecamatan Tanjung Medan, Labuhanbatu Selatan. Jalan Sei Pinang kecamatan Panai Tengah menuju Desa Asam Jawa, kecamatan Torgamba, Labusel dan Desa Perkebunan HSJ di kecamatan Bilah Hilir menuju Desa Kampung Mesjid, kecamatan Kualuh Hilir, Labuhanbatu Utara.

Sepantasnyalah, wacana rencana peningkatan mutu jalan itu kembali dibahas dan digagas untuk direalisasikan. Tujuan utamanya, untuk membuka daerah-daerah yang selama ini terisolasi. Sinergi dan kebersamaan ketiga pimpinan daerah disana (Labuhanbatu, Labura dan Labusel) sudah saatnya dinanti.

Komitmen bersama untuk mensejahterakan masyarakat, tidak hanya mimpi bagi warga yang terbelakang di daerah tersebut. Dan, sebagai jawaban sisi positif pemekaran Labuhanbatu yang dahulunya diharapkan mampu memeratakan pelayanan public dan pemerataan pembangunan.

—————–
Bilah Hilir, Butuhkan Pembukaan Kota Satelit

Pengembangan kecamatan Bilah Hilir, Labuhanbatu membutuhkan pembukaan akses kawasan baru. Bahkan idealnya, dengan membangun jalan-jalan yang mampu menembus dan mengatasi daerah terisolir di daerah itu.

“Ya, salahsatu solusi dengan membuka akses kawasan baru,” ujar Jumirin, warga Bilah Hilir Jumat kemarin.

Ditambahkannya, hal itu dapat dilakukan dengan membuka akses jalan baru di kawasan itu. Yakni, mulai dari Simpang PT Bilah menuju PT Daya Labuhan Indah (DLI) Wonosari. Selanjutnya tembus ke kawasan PT Cisadane Sawit Raya (CSR) menuju kawasan PTPN4 A Jamu. Dan, akses jalan menuju Sei Rakyat yang mampu menghubungkan ke Kecamatan Panai Tengah, Labuhan Bilik hingga ke Kampung Rakyat, Labuhanbatu Selatan (Labusel).

Jika itu dapat terealisasi, kata Jumirin, maka akan tercipta minimal 3 kota Satelit. Tentu saja, akunya selain kian mengembangkan wilayah pedalaman di kecamatan itu, juga semakin mempermudah akses transportasi dari dan ke Negeri Lama sebagai ibukota kecamatan Bilah Hilir. “Bahkan, dapat menjadi akses jalan menuju Kabupaten Labusel,” paparnya.

Konseptual untuk itu, tambahnya dapat dilakukan dengan perencanaan yang matang. Diantaranya, dengan pola jangka menengah, yakni dalam 10 tahun ke depan guna pelepasan dan upaya ganti rugi lahan-lahan masyarakat dan perkebunan yang terkena proyek tersebut. Selanjutnya, jangka panjangnya membangun dan meningkatkan mutu infrastruktur jalan darat di kawasan itu. “Ya, jangka menengahnya 10 tahun kedepan mesti upaya pembebasan lahan,” imbuhnya.

Ditambahkannya, dinamika ditengah masyarakat setempat kian berwarna pasca beredarnya rencana pemekaran wilayah Kabupaten Labuhanbatu menjadi 2 wilayah. Diantaranya, meningkatkan status Labuhanbatu menjadi Kotamadya. Sementara, untuk pesisir yakni, di 3 kecamatan Bilah Hilir, Panai Hulu, Panai Tengah dan Panai Hilir menjadi kabupaten Labuhanbatu. “Opini itu menjadi wacana ditengah masyarakat,” paparnya.

Sesuai wacana yang berkembang, rencana pemekaran wilayah, khususnya menjadikan wilayah pesisir sebagai Kabupaten Labuhanbatu dengan rencana menjadikan Negeri Lama sebagai Ibukota Labuhanbatu. Memang, menurut sejarah berdirinya kabupaten Labuhanbatu, asal kata daerah itu sendiri berawal dari adanya Pelabuhan Batu di kawasan Panai Tengah. Dokumentasi daerah yang ada menyatakan itu berasal dari adanya tempat penyandaran kapal-kapal yang berlabuh ketika itu. Dan, sejak itu Pelabuhan Batu lebih akrab disebut sebagai Labuhanbatu.

Wisjnu Amat Sastro Minta Kapolres Dukung Program Bupati

Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Kapoldasu) Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro meminta semua Kapolres beserta jajarannya untuk mendukung sepenuhnya program kerja bupati.

Penegasan tersebut disampaikan Kapoldasu Irjen Wisnu Amat Sastro ketika memberikan sambutannya pada acara temu ramah di Pendopo kabupaten Labuhanbatu, Senin 25 April 2011. Program bupati dalam membangun daerahnya bukanlah pekerjan yang ringan. “Syarat majunya suatu daerah dalam membangun adalah keamanan dan ketertiban yang kondusif,” katanya.

Di sinilah peran serta Kapolres dalam mendukung program bupati tersebut sehingga akan tercipta suatu sinergi yang harmonis antar Muspida di daerah tersebut. “Bangun kerja sama yang baik engan semua unsur termasuk Jajaran Kodim, Kompi, tokoh masyarakat, pemuda dan pemuka agama,” ujar Wisnu.

Pada bagian lain Irjen Wisjnu Amat Sastro menjelaskan, bahwa maraknya kasus terorisme saat ini pelu mendapatkan perhatian kita semua. Demikian juga penyakit masyarakat (pekat) tidak bisa dipandang sebelah mata, karena telah menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat. “Oleh sebab itu kita tidak bisa main-mai lagi, hukum dan tindakan tegas harus kita tegakkan,” katanya.

Demikian juga dengan penyakit masyarakat seperti judi, prostitusi dan narkoba harus diberantas tuntas. “Saya minta kepada masyarakat, untuk melaporkan langsung kepada saya apabila ada oknum polisi yang membacking judi, postitusi dan narkoba. Catat namanya dan
laporkan pasti akan saya tindak tegas,” tegasnya sambil meminta kepada pelapor jangan membuat laporan fitnah dengan memberikan data palsu tanpa bukti yang kuat.

Menanggapi banyaknya permintaan masyarakat dalam memberantas pekat tersebut, Kapoldasu dengan tegas mengatakan, bahwa jabatan Kapolda menjadi taruhannya apabila kasus pekat tidak bisa diatasi di Sumatera Utara.

Pada kesempatan itu, Kapoldasu juga memberian apresiasi positif terhadap Kapolres AKBP Hirbak Wisnu Setiawan atas dukungan yang diberikan masyarakat Labuhanbatu walau bertugas masih dalam hitungan minggu. “Saya menyampaikan apresiasi kepada Kapolres Labuhanbatu yang mendapat sambutan positif dari masyarakat,” ujar Wisnu.

Hadir pada acara termu ramah tersebut Wakil Bupati Labuhanbatu Suhari Pane, bupati Labusel Wildan Aswin Tanjung, Sekdakab Labura Amran, unsur Muspida, para kepala SKPD, Camat dan undangan lainnya.(fh)

Polisi Tangkap Lima Perampok Toke Karet di Labuhanbatu

Lima pelaku tindak kejahatan pencurian dengan kekerasan (curas) yang meresahkan warga di kawasan Labuhanbatu utara (Labura) dan Labuhanbatu, berhasil dicokok jajaran Mapolres Labuhanbatu.

Penangkapan itu sendiri dilakukan dari dua tempat berbeda, Minggu 24 April 2011 malam di Jalinsum Bandar Durian, Labura dan di Jalinsum SM
Raja, Rantauprapat. Di antara para tersangka, DP,36, warga Dusun Terang Bulan, Kecamatan Aek Natas, Labuhanbatu Utara. AIP, 32, warga Dusun Paliah Desa Gunung Melayu Kec Kualuh Selatan, Labura. ATT,21, warga Jalinsum Desa Terang Bulan Kec Aek Natas, Labura. HS Als Uban, 30, warga jalan Sialang Kendi Desa Terang Bulan Kec Aek Natas, Labura. Dan, NS alias Udin, warga Lubuk Nornor Kec Bilah barat Kab Labuhanbatu.

Alasan kelimanya ditangkap polisi atas laporan korban Martogu Harahap, korban curas kelima tersangka pada 15 Maret 2011 lalu. Dalam kasus
ini, korban mengalami kerugian 1 truk colt diesel NoPol BB 8242 KA, 4 ton getah karet senilai Rp320.000.000. Juga, atas laporan korban Heri
Alam Siregar, korban pencurian dengan kekerasan 24 Maret 2011 lalu.

Korban mengalami kerugian uang sebesar Rp2 juta dan HP Merk Kapone, serta SIM B1 Umum atas nama korban. Selain itu, atas laporan korban Salmansyah Pane, korban curas 24 Maret 2011 lalu, dengan kerugian uang sebesar Rp6 juta, HP Nokia, SIM dan STNK. Dari tangan para tersangka, pihak kepolisian berhasil menyita barang bukti. Di antaranya, uang tunai Rp 679.000, satu unit HP merk Mito, satu unit mobil Daihatsu Terrios BK 1310 YL, satu Hp K-Fone, satu unit Hp Nokia N73, Hp Nokia 1208 dan satu unit mobil Xenia BK 1948 YK.

Dalam modus operandi kejahatan kelima tersangka dilakukan dengan cara memberhentikan kenderaan para korban dan menyekap. Lalu, merampas benda-benda berharga milik korban. “Tersangka memberhentikan kendaraan korban menyekap korban di kendaraan tersangka. Lalu mengambil truk dan isi berupa getah karet sebanyak 4 ton kerugian ditaksir Rp320.000.000,” ungkap Kapolres Labuhanbatu AKBP Hirbak WS melalui Kasat Reskrim AKP Tito Hutauruk, Senin 25 April 2011 di Mapolres Labuhanbatu.

Selain itu, kata Tito, dalam modus kejahatannya para tersangka juga memepet kendaraan korban dan mengancam dengan pisau dan senpi dan mengambil barang barang milik korban. Serta tak segan-segan melukai korban dengan sejam dan senpi. “Para tersangka mengambil sejumlah uang dan HP dan tas milik korban seraya mengancam sehingga korban mengalami luka dibagian kepala,” ujarnya.

Selain itu, ucap Tito, pihaknya masih memburu setidaknya tiga orang lainnya yang diduga terlibat dalam aksi kejahatan serupa. “Untuk sementara masih tahap pengembangan. Terhadap tiga orang tersangka lainnya,” ujarnya.(fh)

Kapolda Sumut Malah Minta Data Korupsi APBD Labuhanatu Dari Wartawan

Kapoldasu justru menantang kalangan media untuk mengumpulkan data dugaan tindak pidana korupsi APBD Labuhanbatu TA 2005 senilai Rp 30 miliar semasa bupati HTM, dan pengadaan Alat Kesehatan (Alkes) di RSUD Rantauprapat ketika TPS Bupati Labuhanbatu menjabat sebagai kepala RSUD Rantauprapat.

Irjen Pol Wisjnu Ahmad Sastro tidak terbuka perkembangan penyidikan yang dilakukan dalam indikasi dugaan pelanggaran penggunaan keuangan negara tersebut. Padahal, sebelumnya sejumlah aktivis dari Forum Mahasiswa dan Masyarakat Bersatu Anti Korupsi (FM2B-AK) sempat melakukan unjukrasa ke Mapoldasu mendesak kepolisian mengusut tuntas dugaan korupsi terkait hal itu.

Kapoldasu ketika dikonfirmasi wartawan di Mapolres Labuhanbatu, Senin 25 April 2011 pada kunjungannya mengatakan tidak ingin didesak. Sebab Kepolisian, kata dia menunggu kalangan media menyerahkan data pembuktian dugaan korupsi tersebut. “Tidak usah harus didesak-desak. Sepanjang ada bukti wajib hukumnya ditindak,” kata Kapoldasu.

Untuk itu, tambahnya, dia menunggu laporan kalangan media jika ada yang memiliki data terkait hal itu. “Sekarang, jika media punya bukti, kita tunggu. Yang salah kita tindak,” tegasnya. Kepolisian, kata dia, tetap komitmen menangani kasus korupsi.

“Korupsi kita tindak tegas. Kalau ada data kita tunggu audiensi di Mapoldasu,” ucapnya.

Menyikapi komentar Kapoldasu tersebut, pihak Indonesia Police Watch (IPW), Lembaga pemantau kinerja Polisi mengakui sebaiknya polisi yang melakukan penyelidikan.

“Tapi lebih baik lagi masyarakat yang memiliki data-data membantu polisi dengan cara memberikan data tersebut,” tulis Direktur IPW Neta S Pane dalam pesan singkat ponselnya. Kata Neta lagi, jika masyarakat merasa tidak puas atas kinerja polisi dalam penyelidikan kasus itu, maka menyarankan untuk melaporkannya ke pihak KPK.

“Jika masyarakat tidak puas sebaiknya kasus itu dilapor ke KPK,” ujarnya. Sebelumnya, puluhan aktivis yang tergabung dalam massa Forum Mahasiswa dan Masyarakat Bersatu Anti Korupsi (FM2B-AK), melakukan aksi unjuk rasa di Markas Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Mapoldasu).

Mereka meminta pihak kepolisian segera memeriksa mantan bupati Labuhanbatu, HTM dan menetapkannya sebagai tersangka terkait dugaan korupsi dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2005 senilai Rp30 miliar. Puluhan massa FM2B-AK, Senin 28 Maret 2011 lalu juga meminta TPS Bupati Labuhanbatu diperiksa, terkait pembelian dan pengadaan alat kesehatan (Alkes) di RSUD Rantauprapat ketika masih
menjabat sebagai kepala rumkit tersebut.(fh)

Bupati Berharap SMA Plus Rantauprapat Lulus UN Di Atas 95 Persen

Janganlah berfikir besar, tetapi mulailah dari langkah dan kegiatan kecil untuk meraih yang lebih besar. Demikian dikatan bupati Dr H Tigor Panusunan Siregar ketika menyampaikan sambutan dan arahannya pada acara perpisahan SMA Negeri 3 Plus Rantauprapat di halaman sekolah tersebut, Sabtu 23 April 2011. Alumni SMA Plus saat ini telah banyak memenuhi lapangan pekerjaan di berbagai bidang profesi, seperti polisi, tentara, dokter dan lain-lain.

Mereka itu, menurut Tigor, pada awalnya hanyalah seorang pelajar yang berfikir dari yang kecil-kecil sehingga pada akhirnya mereka menuai hasil yang cukup besar. Bupati juga mengungkapkan, bahwa di zaman teknologi informasi saat ini kebutuhan akan perangkat komputer sudah sangat mendesak.

Oleh sebab itu Pemkab Labuhanbatu telah mengadakan 40 unit komputer untuk dimanfaatkan oleh pelajar di SMA Negeri 3 Plus Rantauprapat ini.
Pesatnya teknologi informasi saat ini telah membawa kita kepada pergaulan yang mengglobal. Apa yang terjadi di luar negeri langsung dapat kita ketahui di rumah kita pada saat yang bersamaan. Peluang ini tentunya harus dapat kita manfaatkan, khususnya bagi para pelajar karena setiap pelajaran yang kita butuhkan telah dapat diakses di internet.

Komputer dengan jaringan internet akan menambah wawasan dan ilmu kita, sehingga kita tidak tertinggal oleh pelajar lain di luar Labuhanbatu. “Pelajaran apa yang kita butuhkan semua tersedia di internet, tetapi jangan hanya digunakan untuk chating, facebook saja,” kata Tigor.

Pada bagian lain Tigor meminta pelajar di Labuhanbatu agar memiliki cita-cita setinggi mungkin. Seandainya tidak tercapai tidak apa-apa, tetapi yang penting kita memiliki cita cita karena cita-cita merupakan harapan kita untuk terus bergairah menapaki kehidupan ini.

Pada kesempatan itu Tigor meminta kepada komite sekolah untuk dapat melakukan terobosan-terobosan dalam pengelolaan keuangan sekolah,
karena dana yang dimiliki oleh Pemkab Labuhanbatu sangat terbatas. Kepada dewan guru Tigor berharap dapat meningkatkan mutu pendidikan
dengan melakukan langkah-langkah kecil yang bermanfaat bagi perkembangan SMA Negeri 3 Plus ke depan. “Saya berharap SMA Negeri 3
Plus dapat meluluskan lebih dari 95 % pada UN tahun ini dan dapat masuk PTN jauh lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya,” harap Tigor.

Sementara itu Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Plus Rantauprapat Maramuda Tambunan ketika ditanya wartawan program yang dilaksanakan meyahuti
permintaan bupati itu mengatakan, program 100 hari kepala sekolah dalam waktu dekat adalah mengadakan green school (sekolah hijau,
sejuk) dengan menanam pohon pelindung di kompleks sekolah. Disamping itu juga beliau merencanakan pembuatan laboratorium alam
berupa kolam ikan yang dapat dimanfaatkan untuk penelitian bagi siswa jurusaan biologi. Dengan demikian siswa-siswi di sini akan semakin
mudah untuk mengenal alam di lingkungannya.(fh)

Suhari Buka Sepeda Santai di Rantauprapat

Perubahan yang kita harapkan dan dambakan selama ini tidak akan mungkin dapat tercipta kalau kita sendiri tidak
memulainya. Oleh sebab itu marilah kita memulainya dengan kegiatan-kegiatan kecil terlebih dahulu baru kemudian melangkah kepada kegiatan yang lebih besar.

“Tidak ada sejuta langkah tanpa diawali dari satu langkah, ”kata wakil bupati Labuhanbatu Suhari Pane ketika memberikan arahan dan bimbingan pada acara sepeda santai di lapangan Ika Bina Rantauprapat, Minggu pagi 24 April 2011.

Suhari mengatakan, apa yang dilakukan oleh Konsorsium sejumlah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) peduli lingkungan yang diketuai Tatang
Hidayat Msi merupakan langkah kecil namun berdampak besar kepada masyarakat.

Memang, kata Suhari, apa yang dilakukan oleh konsorsium LSM peduli lingkungan ini terlihat kecil, tetapi ketahuilah bahwa dalam beberapa
tahun ke depan kita semua akan merasakan manfaatnya. Pada kesempatan itu Wakil Bupati mengajak seluruh peserta yang didominasi oleh generasi muda dan pelajar itu untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih dan sehat. Mulailah dari yang kecil seperti membuang sampah pada tempat yang telah disediakan. “Jangan buang sampah sembarangan, buanglah di tempat-tempat yang disediakan untuk itu,” katanya.

Kota Rantauprapat sebagai ibukota kabupaten Labuhanbatu, jelas Suhari, setiap datang hujan lebih dari 1 jam akan digenangi air hampir di
setiap badan jalan. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata penyebab utamanya adalah banyaknya sampah yang menyumbat parit terseut.
Ini menggambarkan, bahwa prilaku kita sebagai warga Rantauprapat belum berpihak kepada penataan lingkungan yang bersih dan sehat. Kita masih
sering membuang sampah sembarangan, sehingga tidak mengherankan kalau hujan datang akan datang pula banjir.

Pada bagian lain Suhari menjelaskan, bahwa pada tahun anggaran 2011 ini Pemkab Labuhanbatu dibawah Tigor-Suhari akan mengalokasikan dana
sebesar Rp 4 milyar untuk pembangunan penerangan jalan di kota Rantauprapat. Berkaitan dengan itu, masyarakat diminta berperan aktif untuk menjaga dan memelihara pembangunan penerangan jalan tersebut.

“Pemerintah bukan segalanya, tetapi peran serta masyarakatlah yang lebih utama dalam menjaga dan memelihara apa yang telah dibangun oleh
Pemkab Labuhanbatu itu,” tegas Suhari. Dia meminta para pedagang yang berjualan di komplek lapangan Ika Bina Rantauprapat untuk dapat menjaga
kebersihan dan keindahan lingkungan tempat tersebut.(fh)

Wakil Bupati Labuhanbatu Dukung Pembangunan TPU Muslim Sumber Beji

Wakil Bupati Suhari Pane melakukan peletakan batu pertama pembangunan pagar pembatas tempat pemakaman
umum (TPU) Muslim Sumber Beji, Kelurahan Padang Bulan, Kabupaten Labuanbatu, Minggu 24 April 2011.

Suhari mengatakan, TPU Muslim Sumber Beji yang didanai sepenuhnya oleh masyarakat Sumber Beji Kelurahan Padang Bulan tersebut mendapat
perhatiannya karena kelurahan Padang Bulan merupakan tanah kelahirannya. “Jadi sudah sepantasnya saya memberikan perhatian kepada
masyarakat di tanah kelahiran saya,” ujarnya.

Tekait dengan semakain sempitnya lahan di lokasi TPU sekarang Suhari meminta kepada tokoh masyarakat, pemuka agama dan lurah untuk memikirkan pelebaran lahan atau penambahan lokasi TPU baru. “Saya melihat lahan yang ada sekaran sudah padat, jadi perlu dipikirkan pelebaran atau pemindahan lokasi baru,” kata Suhari.

TPU Muslim Sumber Berji yang berlokasi di jalan Adam Malik Rantauprapat itu terletak diatas lahan seluas lebih kurang 3 rante saat ini terlihat penuh dan perlu mendapatkan penambahan lahan. Menanggapi hal itu, kepala kelurahan Padang Bulan Ahmad Syaif,SH mengatakan, bahwa masyarakat bersama wakil bupati telah melakukan pembelian lahan TPU baru tidak jauh dari TPU sekarang.

Pembelian lahan baru yang luasnya sekitar 6 rante itu, kata Ahmad Syarif, menelan biaya tidak kurang dari Rp 210 juta. Dana sebesar itu selain diperoleh
dari swadaya masyarakat juga dibantu sepenuhnya oleh wakil bupati. Sementara pembiayaan pemagaran TPU Muslim Sumber beji tersebut, menurut Ahmad Syarif juga dibantu sepenuhnya oleh wakil bupati Suhari Pane.

“Berkaitan dengan itu saya atas nama masyarakat Padang Bulan mengucapkan terima kasih kepada Bapak Suhari Pane, kiranya bantuan tersebut mendapat berkah dan hidayah dari Allah Swt,” ujar Ahmad Syarif.(fh)

Warga Medan Membunuh di Madina, Ditangkap di Labuhanbatu

Personil Polres Labuhanbatu berhasil menangkap seorang tersangka yang diduga pelaku pembunuhan di dusun III desa Bintungan Bejangkar Baru Kec Batahan Kab Madina, Sumatera Utara. Itu, berkat informasi yang dikirimkan pihak Polres Madina. Disebutkan, pelaku kejahatan yang disangkakan melanggar pasal 338 KUHP tersebut berhasil ditangkap di Dusun Sidorukun Simpang Pangkatan kecamatan Bilah Hulu, Labuhanbatu, Sumatera Utara, Selasa 19 April 2011 sekitar jam 01.30 oleh Sat Reskrim Labuhanbatu, pada saat tersangka sedang melarikan diri.

Setelah menerima informasi dari Polsek Batahan yang menyebutkan tersangka RCS alias MAH als Bimas, 35 warga simpang Lemon, Medan telah melukai dan menghilangkan nyawa korban Hamidah, 35, Ibu Rumah Tangga, warga Dusun III Desa Bintungan Bejangkar Baru Kec Batahan Kab Madina dan Misikem, 77, Ibu dari korban Hamidah, dan diketahui melarikan diri ke wilayah hokum Mapolres Labuhanbatu, pihak kepolisian melakukan pengejaran.

Disebutkan pula, kronoligis kejadian, tersangka bermoduskan pertengkaran mulut. Namun, dalam pertengkaran tersebut kemudian datang mertua dari sitersangka membela Hamidah (korban, red). Sehingga membuat tsk emosi dan kalap langsung mengambil sepotong kayu bakar dan memukulkannya kepada ke dua korban sehingga ke dua korban mengalami luka robek dan memar pada kepala bagian belakang serta luka lecet pada ke dua pergelangan tangan dan kaki dan meninggal dunia di TKP. Selanjutnya tersangka melarikan diri dengan membawa sepeda motor honda supra X No pol BK 3694 TY milik mertua tersangka.

Dari laporan Polsek Batahan Senin tanggal 18 April 2011 sekitar pukul 16.00 wib dan laporan pihak Polres Madina tersebut, Satuan Reskrim Labuhanbatu melakukan pengejaran tersangka. Akhirnya, tersangka RCS berhasil digagalkan melakukan pelariannya. Dan dari tangan tersangka juga berhasil diamankan beberapa barang bukti. Diantaranya, Buku nikah an TSK dan Korban, Sepeda motor Supra X BK-3694-TY, sebilah bilah keris, sebilah pisau dan BPKB sepeda motor Supra X BK-3694-TY.

Kapolres Labuhanbatu AKBP Hirbak Wahyu Setiawan melalui AKP Titok Hutauruk Kasat Reskrim Mapolres Labuhanbatu dalam rilis pers yang diterima membenarkan kejadian itu. Dan mengungkapkan tersangka kini ditahan pihak Polres Labuhanbatu untuk diamankan, guna proses selanjutnya. “Sekarang tersangka telah diamankan di Mapolres Labuhanbatu untuk menunggu penjemputan dari Polres Madina,” tegas Titok. (fdh)

Potret Buram Kemiskinan di Labuhanbatu, Berlatar Mobil Mewah Pejabat

Kepemimpinan seorang Kepala Daerah dari profesi dokter, bukan berarti kemiskinan jauh dari sendi kehidupan masyarakatnya. Longoklah ke beberapa sudut pemukiman masyarakat miskin kota di Labuhanbatu, Sumatera Utara. Kemirisan akan kemiskinan tentu akan terlihat kentara. Kemiskinan disana, kerap sebagai penyebab menurunnya kualitas kehidupan masyarakatnya. Lantas Visi yang dikultuskan tentang Labuhanbatu sejahtera masih pantas untuk diperdebatkan?


Gerimis sore itu, membasahi halaman rumah di jalan Pendidikan Kelurahan Perdamaian Rantau Selatan, Labuhanbatu. Rumah kediaman Oba Hariani (36) ini baru saja disambangi sejumlah staf PTPN3 kebun Rantauprapat.

Ketika itu, diketahui para staf perkebunan Negara tersebut membawa sejumlah bingkisan dalam bungkusan. Mungkin, itu sebagai bentuk kepedulian social sesame manusia. Sebab, dari beberapa material yang dibawa merupakan beberapa bahan pangan.

Tentu saja, diberikan kepada keluarga Oba Hariani untuk dapat menyambung kehidupannya bersama keluarganya. Oba Hariani, wanita setengah baya beranak 4 tersebut, terlihat terharu menerima ‘belai kepedulian’ itu. Tangannya kokoh memeluk kontak mie instan yang diserahkan. Tak jauh beda dengan erat rangkulannya ketika menggendong putri sulungnya, Ayu Lestari (1,4).

Nanar matanya seredup tatapannya akan masa depan, sesaat sirna. Sebab, para staf perkebunan yang hadir dengan bingkisan memberi kejelasan ketersediaan pangan untuk mereka. Meski hanya untuk beberapa hari kedepan.

Kedatangan para staf tersebut di latar belakangi oleh rasa kemanusiaan ketika mendengar kabar kalau Ibu empat anak ini terpaksa mengumpulkan bantuan dari para tetangganya ketika harus berjuang memperoleh kesehatan bagi Putri bungsunya yang menderita giji buruk.

Sebelumnya selama Sepuluh hari Ayu Lestari terpaksa menjalani perawatan medis di RSUD Rantauprapat. Parahnya perjuangan untuk menyambung nyawa Ayu tak dapat lagi mengandalkan kwalitas obat generik andalan pemerintah.

Karena paramedis merekomendasikan penggunaan obat bermerek yang lebih paten dibanding obat gratis yang disediakan pemerintah daerah setempat. Tentu saja obat non generic tersebut harus ditebus dengan biaya yang bagi Oba merupakan nilai yang tinggi untuk taraf ekonominya.

Tapi meski tak melulu bergantung pada belas kasih kegratisan pemerintah, Oba masih bisa mengandalkan tetangga dan kerabat disekitarnya yang masih mau membantu biaya perobatan Putri bungsunya tersebut. “Ya, untuk menebus obat-obatan itu harus meminjam uang sanak family dan tetangga. Saya tak punya uang untuk membelinya, syukurnya masih ada yang peduli dengan kemiskinan kami,” ucapnya ketika berbincang dengan beberapa jurnalis local setempat.

Sementara, selama setahun belakangan, dia harus banting tulang dalam membiayai perekonomian keluarganya. Sebab, selama itu pula Ibrahim (39) sang suami yang diharapkan sebagai tulangpunggung keluarga tak dapat diharapkan lagi. Itu, setelah sang suami mengalami penyakit yang dilematis.

Sang suami kini terbaring lunglai dan mengalami kelumpuhan. Mengurangi beban hidup Oba, pihak mertuanya, membawa sang suami untuk menjadi tanggung jawab keluarga besar sang suami. “Suami saya sakit. Lumpuh, jadi pihak keluarga membawanya,” ucapnya. Menafkahi keluarganya, Oba harus mampu merangkap dan berperan ganda sebagai kepala keluarga dan sang ibu untuk Aldiansyah putra (11), Sony Armando (9), Nurhidayah (4) dan Ayu Lestari (1,4). Oba, harus mampu membagi waktu untuk mencurahkan kasih sayang kepada ke empat anak buah hatinya tersebut.

Demi itu, dia pun menjadi binatu untuk memperoleh uang. Dia bersedia menjadi pencuci pakaian tetangganya. Tentu saja, upah yang diterima belum sepenuhnya dapat menafkahi keluarga. Sebab, pengganti tenaga yang dikeluarkannya hanya mendapat imbal sebesar Rp150 ribu sebulan. “Ya, mencuci pakaian satu keluarga tetangga hanya mendapat upah Rp150 ribu,” ungkapnya.

Minimnya penghasilan tersebut, dia juga mesti menyambi sebagai pemulung. Barang-barang bekas yang tidak dipergunakan oranglainpun menjadi rupiah baginya. Sebagai pemulung, mengumpul plastic, besi dan benda bekas lainnya, perminggu dia hanya bisa memperoleh uang sebesar Rp35ribu. “Paling dapat Rp35ribu perminggu,” katanya.

Miris memang, ketimpangan social menjadi potret buram di daerah itu. Bagaimana tidak, penanggulangan penderita gizi buruk kerap didegungkan. Namun, realitasnya tetap masih ada warga yang menjadi penderita.

Parahnya, dikondisi demikian para pejabatnya bahkan pemimpin di daerah itu justru mampu dan berbesar hati mempergunakan keuangan daerah yang diperoleh dari kutipan dan pajak daerah untuk membeli kenderaan dinas.

Lihatlah, di kondisi Labuhanbatu yang masih memiliki angka masyarakat miskin yang tinggi dan masih menyimpan penderita gizi buruk, Bupatinya justru berseliweran dengan mobil dinas yang bernilai Rp1,69 miliar. (fdh)

5 Remaja Pelaku Curanmor, Incar Korban Remaja Pacaran

Warning keras bagi para remaja di kota Rantauprapat kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara. Pasalnya, aksi kejahatan pencurian spedamotor dan handphone bermodus mencari sasaran korban yang berpacaran dan memadu kasih dikegelapan. Bahkan, dalam aksi tersebut para pelaku juga diduga melakukan aksi asusila terhadap korban. Meski lima orang pelaku sindikasinya telah tertangkap pihak Kepolisian setempat, namun dua orang lainnya masih dalam tahap pengejaran.

Kelima pelaku yakni, MZ (19) Pelajar SMK Negeri 2 Rantau Utara, AN (17) Pelajar SMK Negri 2 Rantau Utara, AHH (17) Pelajar Madrasah Aliyah Negeri Rantauprapat, BAR (16) Pelajar SMK YAPIM Rantauprapat, AFH (20) warga Desa Bandar kumbul, Kecamatan Bilah Barat, Labuhanbatu. Sedangkan kedua pelaku lagi LHT (23) Mahasiswa Unisla Labuhanbatu dan AM (20) Warga jalan Binaraga yang diduga sebagai otak seluruh kejahatan kini sedang diburon Polisi.

Penangkapan kelima pelaku bermula ketika para perampok spesialis sepeda motor yang selalu membidik korban para remaja yang sedang berpacaran tersebut, melakukan pencurian disertai kekerasan terhadap sepasang remaja yang sedang berpacaran senin (21/20) malam lalu. Tepatnya diseputaran SMU Plus Desa Janji. Karena suasana tengah sepi tersangka MZ dan AN langsung mendatangi dan mengancam kedua korbannya dengan sebilah pisau. “Kami ancam cowoknya terus kami ikat dan kami geledah barang bawaan mereka,” ungkap kedua pelaku saat ditanyai sejumlah wartawan.

Setelah itu kedua pelaku langsung menyingkap baju remaja putri korbannya dengan dan memaksa remaja putri untuk disodomi. “Aku yang memeluk korban itu, kemudian kami raba-raba tubuhnya setelah kami tidurkan terus ku sodomi dia, dan si AN juga meraba kemaluannya terus ketika melakukanya mau di lagakan ke kemaluan korban sambil ditindih ternyata AN mengenal korban,” ungkap MZ mencoba jujur.

Setelah puas melakukan pelecehan terhadap korbannya, mereka pun meninggalkan kedua korban sambil membawa sepeda motor yamaha mio dan HP milik korban. Serta meninggalkan sepasang kekasih ini dengan posisi tangan terikat hingga diselamatkan sejumlah warga yang datang ke lokasi.

Mendapat laporan tersebut Polisi akhirnya bergerak cepat dan berhasil membekuk tersangka MZ setelah melakukan pengembangan MZ mengaku dalam melakukan aksinya dirinya didukung oleh komplotan lainnya. Akhirnya dalam melakukan pengembangan dibekuklah AN cs.

Dihadapan penyidik unit Ranmor Polres Labuhanbatu kelima pelaku mengaku sudah berungkali melakukan pencurian kenderaan bermotor dan telepon genggam dengan membidik korban yang sedang berpacaran dengan

menggunakan senjata tajam.

Kapolres Labuhanbatu AKBP Robert Kenedy melalui Kasubag Humas MT Aritonang membenarkan penangkapan tersebut. Katanya, dari tangan dua pelaku disita dua sepeda motor yakni Yamaha Mio tanpa plat nomor yang
sudah dirubah warnanya. “Diduga hasil kejahatan dan honda beat BK 4041 LJ warna hitam, juga sebilah pisau belati. Kita tangkap lima orang pelaku Rabu (2/3) malam, dan dua orang sedang kami cari dan dari pemeriksaan kelimanya terlibat dalam dua kasus,” kata Aritonang.

Ditambahkannya kalima pelaku tersebut dijerat dengan pasal berlapis yakni pencurian dengan kekerasan dan pencabulan. (fdh)

Menelisik Goa Tanggabatu

Tak sedikit orang yang tak mengenal dan pernah mengunjungi lokasi objek wisata Aek Buru di Kecamatan Bilah Barat, Labuhanbatu. Namun, tak banyak pula yang mengetahui di lokasi itu terdapat objek yang lebih unik, berupa goa. Bahkan, keterdapatan lobang di dinding bukit itu, berpotensi meninggalkan jejak sejarah yang ada. Tapi, terkesan terabaikan.

Bersama tiga orang rekan jurnalis lainnya, penulis memacu kecepatan kenderaan sepeda motor yang dikemudikan. Berjarak sekira sepuluh kilometer dari inti kota Rantauprapat, Labuhanbatu, Sumatera Utara menuju arah ke kawasan Labuhanbatu Utara, Sumut akan ditemukan persimpangtigaan di jalan lintas sumater (jalinsum). Dari sini, akan ditemukan kawasan daerah tujuan wisata (DTW) yang sejak dulu dikenal dengan nama Aek Buru.

Dipersimpangan menuju perkebunan kelapa sawit milik keluarga besar pengusaha bermarga Pardede, di dusun II Desa Batu Tunggal, kecamatan Bilah Barat, Labuhanbatu, penulis dan rekan lainnya semula ingin melihat lebih dekat eksistensi aktivitas penambangan batu bukit. Di daerah itu, warga menyebutnya dengan istilah batu padas (batu cadas).

Jalan ke lokasi cukup memprihatinkan. Dengan kondisi tanpa pengerasan, fisik jalan disana hanya bertekstur tanah liat. Sehingga, dengan tingginya curah hujan di daerah itu beberapa waktu belakangan menyebabkan jalanan dipenuhi dengan kubangan. Serta, perlu ekstra hati-hati mengenderai sepedamotor menuruni jalanan menuju lokasi penambangan.

Dua sosok pria bertubuh kekar menyambut hangat kedatangan para jurnalis ke lokasi itu. Keramahtamahan karakter masyarakat setempat tersirat dari pola yang mereka lakukan terhadap para jurnalis selaku pendatang ke lokasi itu.

Thamrin (36) salahseorangnya. Si pemilik kawasan tambang batu bukit itu cukup memberikan informasi penting kepada para jurnalis dalam niat mengenal lebih jauh kegiatan yang telah dilakoninya sejak lima tahun terakhir.

Bahkan, melihat kehausan informasi yang ada di dalam diri para jurnalis, Thamrin mengajak penulis dan rekan lainnya untuk melihat lebih dekat keberadaan goa yang tak jauh dari lokasi penambangan batu miliknya. Sepintas tak ada yang unik dari sebuah lobang dinding bukit dengan diameter ketinggian sekira 2 meter dan lebar dua meter itu. Dari lobang itu, tak hentinya mengalir air dari celah batu bukit. Namun, ketika sudah memasuki di kedalaman sepuluh meter akan ditemui lorong panjang yang gelap.

Namun, terlepas dari suasana mistis yang ada. Penulis seakan terdorong keluar dari lorong tersebut dan seakan ada larangan untuk memasuki lebih dalam lorong itu. Bahkan, seorang rekan jurnalis lainnya yang lebih memiliki ketajaman mata batin sejak awal tidak memiliki niat memasuki lorong goa itu. Dampaknya, penulis dan beberapa rekan lainnya yang sempat masuk ke dalam goa, sontak mengalami rasa sakit dan pening di kepala.

Mendapatkan perasaan dan suasana hati seperti itu, rencana menelusuri lorong goa akhirnya dibatalkan. Dan, Thamrin mengusulkan kepada penulis dan rekan lainnya untuk menemui warga lainnya jika ingin mengetahui lebih jauh tentang keberadaan goa tersebut.

Rosul (45) warga Desa Batu Tunggal yang disarankan Thamrin untuk menjelaskan lebih jauh tentang goa itu, memang pria yang pernah memasuki goa tersebut. Ketika disambangi dikediamannya bersama beberapa warga desa lainnya menjelaskan tentang sosok goa itu. Rosul mengakui kalau bersama lima orang warga desa setempat pernah memasuki goa itu. Itu, ketika mencari seorang warga yang hilang dan tak pulang ke rumah selama lima hari. Mereka, aku Rosul menyusuri daerah-daerah yang diduga tempat potensial sosok warga yang hilang. Bahkan, sampai kedalam lorong goa. “Itu sekira 25 tahun silam,” paparnya.

Tapi, ketika menyusuri lorong-lorong goa itu justru tak menemukan warga yang hilang. Bahkan, sosok yang dicari setelah sedarkan diri kembali secara sendirinya kekediamannya tanpa kurang suatu apapun. “Dia hanya kesasar. Dan, setelah siuman dari pingsannya kembali ke rumah. Bahkan, keberadaannya saat itu di luar goa,” ungkapnya.

Rosul membeberkan, warga sekitar sudah lama mengetahui keberadaan goa itu. Tapi, tak banyak diantara mereka yang pernah memasukinya. “Lagian, untuk apa masuk ke dalam. Ga ada yang bisa diambil,” ujarnya.

Dia menambahkan, seseorang yang awalnya pernah memasuki goa itu adalah almarhum Haji Lobe. Ketika itu, Haji Lobe, kata Rosul keperogok sama komplotan pemberontak pemerintah di tahun 50-an. Karena merasa ketakutan Haji Lobe lari menyelamatkan diri. Sehingga, dalam pelariannya menemukan Lobang di dinding Goa. “Ya, cerita almarhum orangtua saya yang pertama menemukan Goa itu adalah Haji Lobe. Tapi sudah lama. Sekira tahun 50-an,” ungkapnya.

Dia menambahkan, menurut ceritanya, Haji Lobe masuk ke Goa itu dari pintu Goa sebelah sisi bukit Barisan lainnya. “Goa itu tembus ke dinding bukit lainnya. Jadi, goa itu bisa dijadikan jalan ke sebelah dinding lainnya,” ujarnya tanpa menjelaskan pintu goa tersebut.

Katanya, mereka ketika memasuki lobang goa itu sudah sampai di kedalam sekira 60-an meter. Di Dalam tambah dia, akan terdapat lorong sempit dan rendah. “Didalam ada dinding sempit. Sehingga untuk memasukinya posisi tubuh mesti miring. Selain itu, disisi lainnya juga tubuh mesti bungkuk karena rendahnya lobang goa,” paparnya.

Tapi, setelah melalui sisi dinding dimaksud, lanjut Rosul maka akan ditemui sebuah ruangan luas dengan diameter kelebaran 15 meter dan panjang 10 meter. “Didalam ada ruangan yang cukup luas,” ungkapnya.

Katanya lagi, dalam ruangan itu akan terdapat susunan batu alam sebanyak tujuh tingkat. Dan, mirip seperti tangga. Namun disisi atasnya, kata dia, terdapat batu yang datar dengan kelebaran sekira 4 meter. “Jadi, mirip altar,” tegasnya.

Selanjutnya, disisi lain terdapat tiga lorong yang diduga merupakan pintu menuju lorong lainnya. “Mungkin dari salahsatu pintu itulah dapat tembus ke dinding bukit lainnya,” imbuhnya.

Sayangnya, kata dia, mereka yang memasuki ruang goa itu tidak melihat secara rinci keterdapatan hal-hal lainnya. Sebab, ketika itu, penerangan yang mereka pergunakan kurang memadai untuk dapat melihat kesegala penjuru dinding Goa.

Namun, sepintas goa itu, katanya merupakan lobang dinding bukit yang sengaja dibuat oleh tangan manusia. Sebab, akunya, didalam goa tidak ada keterdapatan batu-batu goa yang berbentuk stalaktit dan stalakmit yang menggantung di atas goa. “Ga ada bebatuan seperti itu,” lanjutnya.

Dihuni Jin Berkepala Ular

Namun, warga setempat selain kurang berminat memasuki goa tanggabatu, juga disebabkan masih dipercayai dihuni oleh makhluk halus. Sebab, beberapa diantara warga memiliki pengalaman unik dengan goa itu. Sebab, sebelumnya, warga kerap sakit jika mendekati sisi lobang goa. Selain itu, beberapa diantaranya pernah menemukan penampakan makhluk aneh. Serta, beberapa warga juga pernah memimpikan sosok makhluk serupa. “Iya, aku pernah mimpi ketemu makhluk aneh dalam goa itu,” ujar Thamrin. Katanya, sosok tersebut bertubuh manusia dengan postur tubuh tinggi besar. Tapi, lanjutnya, sosok tersebut berkepala aneh. Seperti mirip kepala ular. Dalam mimpi tersebut, lanjutnya, sosok itu meminta sesuatu kepadanya. Tapi, dia menolak memberikannya. “Saya tidak bersedia memenuhi apa kemauannya,” katanya lagi.

Senada dengan Thamrin, Rosul juga mengatakan hal serupa. Beberapa warga pernah bertemu dengan sosok Jin penunggu Goa itu. Dan, tubuhnya mirip berkepala ular. “Saya dengar juga seperti itu,” katanya.

Butuhkan Perhatian Pemerintah

Terlepas dari cerita mistis yang ada. Dan, dibarengi pengalaman warga tentang goa itu, sebenarnya pihak pemerintah setempat laik untuk melestarikannya. Terlebih posisi Goa yang kini berdekatan dengan usaha penambangan batu bukit milik warga setempat. Hal itu berpotensi penyebab terjadinya kerusakan disertai potensi longsornya dinding bukit.

Bahkan, eksistensi Goa yang diduga merupakan buatan manusia itu, juga memiliki kemungkinan peninggalan-peninggalan sejarah yang terkandung didalamnya. Sehingga, dibutuhkan adanya penelitian terkait keberadaan goa tersebut untuk menambah khazanah dan ilmu sejarah tentang daerah setempat dalam mendukung kearifan budaya lokal. (fdh)

Reog Ponorogo Menciptakan Tontonan jadi Tuntunan

Melestarikan budaya asli Indonesia bukanlah hal mudah. Tak jarang mesti menonjolkan jiwa sosial. Salahsatunya, Kesenian Reog Ponorogo. Pagelarannya, terkadang justru hanya dinilai sebatas ’selayang pandang’.

IRONIS memang, ketika kesenian daerah Jawa Timur ini sempat jadi wacana perdebatan antara Indonesia dengan jiran tetangga. Tari Reog Ponorogo jadi bahan rebutan.

Tentu, masih segar dalam ingatan kita. Ketika Malaysia mengakui tarian itu sebagai budaya asli negara beribukotakan Kualalumpur itu. Sontak, Indonesia berontak.

Dengan tegas mengakuinya sebagai budaya negara bermottokan *Bhineka Tunggal Ika.

Tapi, apakah kelestariannya disetiap daerah benar-benar telah dipupuk dan dibina dikalangan masyarakat secara berkelanjutan?

Memang, Labuhanbatu bukanlah berpenduduk asli suku Jawa. Tapi, dari sekian grafik jumlah masyarakatnya, sesuai sensus dan cacah statistik kependudukannya selama beberapa tahun belakangan dominan dihuni warga yang memegang teguh falsafah sedulur papat kalima pancer.

Dalam artian, eksistensi warga suku Jawa, kini sudah cukup diperhitungkan dengan suku-suku lainnya.

Terlebih-lebih, sejak hadirnya paguyuban putra jawa kelahiran sumatera (Pujakesuma).

Memasuki usia wadah kerukunan warga Jawa itu yang ke 28. Kini, telah banyak muncul pemimpin dan tokoh dari etnis itu yang duduk didepan dalam segala bidang. Baik ditata pemerintahan, politik, sosial dan lainnya.

Seiring perkembangannya, ternyata belum sebanding dengan upaya melestarikan seluruh kebudayaan dan kesenian yang sengaja di import dari pulau aslinya.

Misalnya saja, kesenian tari jaranan pegon,reog ponorogo atau reog prajuritan.

Paduan kesenian ini, boleh dibilang cukup langka dan jarang ditemukan. Pun adakalanya dan waktu-waktu tertentu terlihat.

Dapat dijamin, tidak seluruh etnis Jawa di daerah ini mengetahui lokasi pelestariannya. Namun, jika memang ingin menyaksikan dan ingin mengenal lebih dekat kebudayaan ini, hanya dapat ditemui di Dusun Suka Mulia, Desa Pondok Batu, Kecamatan Bilah Hulu, Labuhanbatu.

Sebab, untuk daerah ini, kelompok kesenian Reog Suko Budoyo lah satu-satunya yang ada dan tetap eksis.

Tapi, apakah dengan upaya pelestarian budaya itu, dibarengi lestarinya perhatian dan kecintaan terhadap seni itu? Dan, apakah awak-awak yang tetap mencintainya juga lestari dalam perekonomian?

Jumat siang kemaren, seorang pria tua kelahiran Tulung Agung, Jawa Timur, 68 tahun silam tampak meniup sebuah alat musik.

Kurang jelas terdengar intonasi alunan dari alat musik itu. Tapi, kental terdengar mewakili kegundahan hatinya akan kelestarian budaya asli Indonesia yang kian tergerus oleh modernisasi jaman. Pasalnya, kini lebih condong mengadopsi budaya western.

Karmin, nama pria yang kala itu duduk diserambi rumahnya mengenakan baju warna hitam dan memakai penutup kepala yang identik disebut dengan nama blangkon.

Raut tua wajahnya kian mencerminkan gundah hatinya. Ketika disambangi, sontak membuyarkan imajinasinya. Tapi, Karmin lantas mengaku kalau lagi menajamkan hafalan tembang-tembang yang dilantunkan manakala sedang pementasan. “Ngak koq. Cuma terus mengafal bait-bait tembang untuk pementasan mendatang,” ujarnya memulai pembicaraan.

Memang, dia adalah pemimpin grup kesenian Reog Suko Budoyo. Selaku dirijent music di kelompok itu, dia katanya berperan utama memimpin. Dia, akunya dengan Tompret (sejenis alat musik tiup) memandu pementasan.

Dengan nada musik yang tak jarang mengandung tembang Jawa mengajak para penonton untuk lebih memaknai hal-hal yang baik.

“Bait-baitnya dominan mengajak orang lain untuk lebih mengentalkan rasa persatuan bernegara,” paparya.

Khususnya, kata dia, untuk mengerti makna Pancasila. Katanya, sejarah berdirinya kelompok Reog Suko Budoyo sudah relatif lama.

Tak kurang dari 37 tahun silam. “Ya, awalnya sejak saya datang ke Labuhanbatu ditahun 1963 lalu, mencoba mendirikan kelompok ini. Mulanya, untuk melepas rindu ke kampung asal. “Karena, dengan kesenian itu dapat mengingatkan akan daerah asal,” imbuhnya seraya membuka sejarah.

Dasar itulah, Karmin dengan peralatan pendukung seadanya bermotivasi mempertahankan budaya dan kerinduan daerah kelahirannya.

Seiring perkembangan jaman, kelompoknya yang terus regenerasi juga turut bertahan. Kini, perpaduan didalam kelompok itu telah memiliki jenis kesenian Jaranan Pegon, Reog Ponorogo dan Reog Prajuritan.

“Ya, itu satu perpaduan. Ketiganya tak jarang dilakonkan dalam satu pementasan,” bebernya.

Kini, kelompok itu memiliki anggota sebanyak 25 orang. Masing-masing memiliki peran penting setiap pementasan. “Untuk memainkan gendang ada 3 orang. Tipung 2 orang. Angklung 3 orang. Kenong 2 orang. Tompret sebanyak 1 orang dan Gong 2 orang.

“Selebihnya merupakan penari reog, dan jajaran pegon,” urainya.

Meski, tetap mampu bertahan dalam hitungan jangka waktu lama. Namun, eksistensinya hanya sekedar mampu bertahan hidup.

Soalnya, berbagai peralatan pendukungpun kian rusak dimakan jaman. Alhasil, untuk tetap memiliki peralatan pengganti, tak jarang dirinya mesti ‘putar otak’.

Sebab, mendapatkan peralatan yang standart untuk manggunghanya dapat dipesan ke pulau Jawa. Makanya, bila ada peralatan yang dapat diperbaiki sendiri, dia lebih sering melakukan inovasi.

“Ya, kadang kita mesti kreatif. Jika ada alat yang dibutuhkan kita mesti bisa membuat sendiri. semisal, topeng Barongan. Kita mesti memiliki kepandaian memahat kayu. Dan, memiliki imajinasi tersendiri memunculkan tampilan wajah dan perwatakannya,” tukasnya.

Tak sedikit alat pelengkap kesenian itu dicipta oleh Karmin. Malah, untuk jenis gendang dan lainnya, kepiawaiannya dalam pertukangan kayu memberi arti tersendiri.

“Kadang untuk gendang juga memanfaatkan drum kaleng dan kulit kerbau,” katanya.

Sebab, untuk alat yang standart mesti menyediakan dana tak kurang dari Rp70 juta. Konon hal itu didapat melakukan pemesanan ke pulau Jawa. Terlebih lagi, lanjutnya, kian sukarnya menemukan beberapa jenis peralatannya.

“Malah, untuk mendapatkan bulu-bulu burung Merak untuk topeng reog ponorogo terpaksa pesan ke luar daerah. Itupun mesti jenis Merak Lumut. Karena jenis ini, bulunya lebih berkilat,” sambungnya.

Tak jarang, dalam melengkapi alat-alat itu, mereka membutuhkan waktu lama. “Soalnya, mesti ngumpul kan duit dulu. Patungan hasil pementasan. Setiap selesai manggung mesti disisihkan untuk membeli alat,” paparnya.

Lantas, kapan moment dilakukan pementasan dan nilai pendapatan setiap pesanan manggung. Karmin dengan lirih mengaku prihatin. Soalnya, rata-rata jadwal pementasan itu relatif rendah. Sementara, nilai yang diperoleh juga terkesan belum sebanding.

“Ya, palingan kalau ada yang ngundanguntuk acara mantenan atau sunatan rasul. Kalau upah, juga ngak tentu. Kisaran Rp1 juta hingga Rp2 juta. Lihat lama manggungnya,” tuturnya.

Malah, katanya, tak jarang mereka juga hanya sekedar sosial dalam pagelaran. Itu, kerap terlihat sewaktu peringatan hari-hari besar kenegaraan. “Malah kalau perayaan 17-an tak jarang kita hanya ikut partisipasi arak-arakan barisan pawai,” paparnya.

Padahal, lanjut dia, para anggotanya juga rata-rata merupakan karyawan dibeberapa tempat usaha. Tak ayal, setiap ada pesanan manggung terpaksa absen dari pekerjaan.

“Dari semula sudah saya tanamkan kepada anggota agar mampu menentukan sikap. Kelompok Reog adalah pagelaran seni yang diharap sebagai tontonan agar menjadi tuntunan,” tandasnya.
KARMIN – Pendiri kelompok kesenian Reog Suko Budoyo

——————————————————————————————-

Reog Ponorogo Aksi tanpa Klenik?

Meliuk-liuk. Kilauan pantulan warna Bulu Burung Merak yang disisip pada topeng raksasa Reog Ponorogo memang indah. Kian mengundang minat untuk terus menyaksikannya. Konon halnya, topeng relatif berat itu hanya diangkat oleh penarinya dengan mempergunakan gigi. Sontak, para penonton berdecak kagum.Malah, tak sedikit yang berasumsi peragaan itu turut disertai magis. Lantas, benarkah klenik turut membantu pagelaran Reog Ponorogo?

Indah, itu yang tersirat ketika topeng raksasa Reog Ponorogo sedang dipentaskan. Bulu-bulu burung Merak Lumut yang terselip kian memantulkan kilauan keindahan ketika meliuk-liuk diterpa cahaya mentari.

Tapi, perpaduan kepala Harimau dan Bulu Merak yang memiliki kisah tersendiri dalam lakon sejarah antah berantah itu, kini kian sulit ditemukan eksistensinya.

Pun, adakalanya terlihat hanya pada masa-masa tertentu. Sebab, boleh jadi kelestariannya yang kian tergerus oleh perkembangan modernisasi jaman ataupun semakin sedikitnya kelompok-kelompok pelestariannya.

Menjadi hal unik. Topeng yang ditaksir mencapai puluhan kilogram bahkan hingga kisaran 30 kg itu hanya diangkat sang penari dengan mempergunakan cengkraman gigitan.

Itu, belum termasuk penambahan beban naiknya sosok bocah kecil. Atau, ketika pementasan berhembusnya angin yang sedikit banyak kian menambah kesukaran menggerakkan topeng Reog.

Belum lama ini, warga kota Rantauprapat dibuat kagum oleh aksi tarian Reog. Bertepatan pelaksanaan resepsi HUT Pujakesuma Labuhanbatu ke 28 di lapangan Ika Bina Rantauprapat, kelompok Seni Reog Suko Budoyo ambil bagian dalam kemeriahan acara etnis suku Jawa itu.

Terselip satu pertanyaan dari penonton. Apakah atraksi Reog Ponorogo juga dibarengi bantuan dunia klenik. Soalnya, dengan beban seberat yang dimiliki topeng itu, menjadi hal yang diluar nalar penonton untuk dapat mengangkatnya, hanya dengan mempergunakan gigi sang penari. “Ah, itu mungkin sudah memakai bantuan ilmu kebatinan. Soalnya, sukar diterima akal secara logika, mengangkatnya hanya mempergunakan gigi. Bisa-bisa gigi penarinya rontok semua. Konon lagi, relatif lama dan meliuk-liuk,” tuding salahseorang penonton.

Jumat siang kemaren, Subali salahseorang tokoh penting dibalik lakonan Reog Ponorogo itu berujar.Dia membantah jika kelompok Reog itu dibarengi bantuan ilmu-ilmu klinik. Apalagi jika pementasan Reog itu melibatkan bantuan bangsa Jin dan lelembut.

Tapi, katanya, semua itu hanyalah kepiawaian dan kemahiran penari yang melakukannya dengan trik-trik tertentu. “Tidak benar kita meminta bantuan makhluk halus. Reog Ponorogo tidak ada melibatkan ilmu klinik. Khususnya lagi bagi kelompok Reog Suko Budoyo. Itu semua adalah perpaduan seni tari dan seni beladiri,” ujarnya.

Dari sebanyak 25 orang anggota kelompok seni itu, Subali salahsatu tokoh penting dan juga salahseorang penari topeng Reog. Makanya, dia wajar membantah dan mengetahui pasti cara dan tehnik yang mesti dilakukan. “Hanya butuh latihan. Dan, jangan pernah sepele dengan trik yang diajarkan. Sebab, kunci keseluruhannya adalah bagaimana cara melaksanakan panduannya,” bebernya.

Dalam prakteknya, kata dia, di topeng raksasa itu memiliki tempat untuk cenkeraman gigi. Serta, tali yang dililitkan ketengkuk untuk membagi beban ke leher penari. Selanjutnya, penari mesti memperhatikan situasi dengan kekuatan seni beladiri. “Kita mesti memiliki kemampuan seni beladiri. Khususnya tentang kuda-kuda/pertahanan tubuh. Sebab, itu berfungsi utama menahan tubuh menanggung beban topeng Reog,” ulasnya.

Hal lainnya, kata dia adalah mengerti dengan kondisi cuaca dan udara lokasi pementasan. Karena, katanya, hembusan angin juga patut untuk dicermati. Sebab, sangat mempengaruhi dengan topeng Reog yang telah didirikan. “Jika ketepatan angin berhembus, maka sang penari secapatnya mesti mampu merubah posisi. Baik itu memalingkan wajah kekiri atau kekanan. Ataupun, menghindari posisi yang berlawanan dengan arah hembusan angin. Sebab, makin kencang angin berhembus, maka makin menambah berat beban yang ditanggung,” jelasnya.

Jika tidak, kata dia, maka tubuh akan ikut diseret angin. Kemudian, secara pasti leher sang penari akan mengalami rasa sakit yang keras. Malah, berpotensi terjadinya keseleo berat diotot leher. Selain itu, dampak yang timbul juga bisa fatal. Rontoknya gigi-gigi dirahang akan mungkin terjadi. “Makanya, disini fungsi mematuhi pedoman dan trik yang ada. Meski postur tubuh seseorang kekar, bukan berarti mampu memainkan tarian Reog. Tapi, meski tubuh tanggung namun menguasai teknik dan pertahanan tubuh. Maka, bukan tidak mungkin dengan seringnya melakukan latihan akan dapat memainkan tarian Reog,” ungkapnya.

Dibalik itu, tambah Subali, ada hal yang sangat bermanfaat bagi sang penari. Makin seringnya berlatih, selain menambah kemampuan juga secara tidak langsung juga telah melakukan olahraga. Sehingga, peredaran darah di kepala makin lebih lancar. Dan, pada gilirannya akan mampu menghindari terjadinya sakit kepala. “Penari Reog itu jarang, bahkan tidak pernah terserang sakit kepala. Sebab, seringnya memperagakan tarian Reog, juga telah adanya proses pelancaran peredaran darah di kepala,” tukasnya.

Tapi, apapun ceritanya, seni etnis Jawa yang kian langka ditemukan itu juga akan kian sirna seiring perkembangan kebudayaan luar yang terus masuk dan mempengaruhi jiwa para generasi muda.

Alhasil, Subali dan sosok-sosok pelakon seni budaya asli Indonesia kian khawatir dengan kondisi kekinian yang terjadi. Selain berdampak pada perubahan mentalitas pada generasi muda yang kian luntur mengenal dan mencintai budaya ke timuran, juga turut mempengaruhi perekonomian mereka.

Bagaimana tidak, kelompok seni Reog Ponorogo yang selama ini sedikit membantu prekonomian keluarga akan sirna selamanya. Dari itu, Subali tetap merindukan dan menanti perhatian pelbagai kalangan untuk tetap berupaya menyusun program-program pelestarian seluruh adat dan seni budaya yang ada.

Malah, upaya terus menarik perhatian kalangan muda, setidaknya mengenalkan seni Reog, tak jarang mereka melakukan pementasan secara sosial. “Tidak masalah. Kita meninggalkan pekerjaan untuk turut melestarikan budaya. Ketika ada tawaran manggung, juga kita masih memberi toleransi antara bisnis dengan kesosialan. Makanya, tak heran kita juga sering ikut acara-acara tanpa meminta bayaran. Dan, ketika ada tawaran pementasan, kita juga tidak akan memaksakan tarif. Meski terkadang pendapatan yang diterima setiap anggota relatif tidak setimpal lagi dengan kondisi perekonomian disaat sekarang ini,” tandasnya.
REOG – Meliuk-liuk. Kilauan pantulan warna Bulu Burung Merak yang disisip pada topeng raksasa Reog Ponorogo memang indah. Kian mengundang minat untuk terus menyaksikannya. Konon halnya, topeng relatif berat itu hanya diangkat oleh penarinya dengan mempergunakan gigi. Sontak, para penonton berdecak kagum.Malah, tak sedikit yang berasumsi peragaan itu turut disertai magis. Lantas, benarkah klenik turut membantu pagelaran Reog Ponorogo? (fdh)

Petani Kencur Butuhkan Perhatian Pemerintah

Ketika para petani kencur di beberapa Dusun di Kecamatan Panai Hilir, Labuhanbatu mengharapkan komoditi pertanian tersebut sebagai ‘penyanggah’ prekonomian para keluarga nelayan yang tak dapat menyandarkan hasil melaut untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, harga jual tanaman kencur justru melorot. Itu, dikarenakan minimnya pengetahuan dalam olah tani dan lemahnya penguasaan pasar. Padahal, tanaman kencur lebih menguntungkan jika dibanding budidaya komoditi kelapa sawit

Puluhan bahkan ratusan wanita yang dominan sebagai istri para nelayan di Kecamatan Panai Hilir, Labuhanbatu selama bertahun-tahun belakangan ini berperan ganda. Disatu sisi, mereka sebagai istri dari suami yang berstatus nelayan. Kaum hawa disana juga ternyata rata-rata menjadi petani tanaman kencur.

Selama ini, harga kencur cukup menggiurkan untuk dibudidayakan. Sehingga, hasil penjualannya dapat membantu keuangan keluarga. Untuk itu, kaum wanita disana sangat merindukan bantuan Pemerintah. Sebab, dalam olah pertanian komoditi tanaman tersebut dilakukan secara manual. Dan, tanpa pernah mendapatkan kucuran bantuan guna pengembangan usaha budidaya pertaniannya. Padahal, beberapa dusun yang menjadi sentra tanaman kencur di kecamatan itu merupakan ‘pertahanan prekonomian di Panai Hilir. Diantara lokasi yang menjadi sentra penanaman kencur itu adalah, Dusun Pertemuan Desa Sungai Sakat, Dusun Telaga Suka dan Dusun Suka Maju.

Seperti halnya di Dusun Pertemuan, puluhan warga mengkelola perladangan kencurnya secara tradisional. Puluhan bahkan ratusan hektar lahan pertanian kencur yang ada hanya dikelola tanpa adanya pembinaan dari pihak dinas pertanian setempat. Padahal, Kencur dari kecamatan Panai Hulu ini, dikenal pemasarannya hingga ke kota Rantauprapat, Medan bahkan menembus ke ibukota Jakarta. Ironisnya, teknik pemasaran juga terkesan masih memanfaatkan jasa para tengkulak yang selalu mematok harga sekenanya.

Petani kencur yang ada di kecamatan itu relatif dilakukan para wanita dan ibu rumahtangga. Itu, dilakukan guna membantu perekonomian keluarga yang dominan hidup sebagai keluarga nelayan.

Rukiyah (45) misalnya. Ibu rumahtangga yang tinggal di Desa Sei Baru kecamatan itu, sudah sepuluh tahun terakhir beraktivitas sebagai petani Kencur. Itu, dilakukannya disela-sela kewajiban sebagai ibu rumahtangga. Dalam aktivitas olahtani berbudidaya tanaman kencur, dia hanya mengandalkan kemampuan secara tradisional. Sebab, sebagai wanita Desa dirinya tidak pernah mendapatkan pembekalan pengetahuan secara akademisi dalam membudidayakan tanaman itu. “Belum pernah ada bantuan dari pemerintah untuk kami,” ujarnya ketika disambangi akhir pecan lalu, di areal pertaniannya di dusun Pertemuan itu.

Pola tanam Mereka sebagai petani kencur dalam mengolah tanah memanfaatkan lahan perkebunan komoditi kelapa sawit milik masyarakat setempat. Itu dilakukan dengan meminjam lahan. Dan, memanfaatkan sela-sela tanah diantara tanaman Kelapa Sawit yang ada. Identiknya, kerjasama yang dilakukan antara petani dan pemilik kebun sawit hanya saling percaya.

Dimana, petani melakukan perawatan tanah dengan menanami pohon kencur dan menyemai tanah. “Iya, kami meminjam lahan secara gratis dari pemilik kebun sawit,” ungkap Rukiyah yang juga diaminin beberapa wanita petani kencur lainnya.

Mereka yang ketika itu melakukan pemanenan lahan kencur juga menambahkan, di daerah Dusun Pertemuan seratusan hektar lahan kebun kelapa sawit juga merangkap sebagai lahan pertanian kencur.

Setiap jengkal tanah diantara tanaman sawit yang masih berumur muda menjadi tempat penanaman kencur. Pola tumpangsari tanaman pertanian itu sudah lama mereka lakukan. Bahkan, sudah mencapai sepuluh tahun terakhir. Namun, itu dilakukan dengan berpindah-pindah dari lahan kebun sawit ke lahan lainnya. Sebab, ketika usia tanaman sawit sudah mencapai 3 tahun lebih, maka pemilik kebun tersebut tidak lagi mengijinkan areal itu ditanami kencur. Selain itu, kencur juga tidak mampu tumbuh berkembang dan bertahan diantara pepohonan sawit yang semakin membutuhkan air dengan jumlah banyak. “Khususnya, panas matahari sudah jauh berkurang dibawah pohon sawit,” tambah Rukiyah.

Karena, katanya, kencur merupakan tanaman yang membutuhkan pencahayaan matahari serta debit air dengan kelembaban tekstur tanah yang memadai. Tak ayal, daerah yang memiliki tekstur tanah dammar (gambut, red) menjadi lokasi yang serasi dan ideal untuk budidaya kencur. Bertani kencur, ungkapnya cukup sederhana. Sebab, tidak terlalu membutuhkan penyitaan waktu yang lama. Karena, dalam olah tanahnya hanya memerlukan peralatan yang seadanya. Serta, bibit benihan kencur juga terkesan mudah didapat. Bahkan, tak jarang memanfaatkan benihan sisa pemanenan sebelumnya. Pun, jika bagi petani yang baru mengawali bercocok tanam dapat memperoleh bibit dengan meminta kepada petani lainnya. “Sangat mudah menanam kencur. Tanah yang sudah bersih dari rerumputan lalu diberi lobang dengan kedalam 15 centimeter. Kemudian, ditanam bibit kencur yang telah diberi taburan debu bakaran tanah damar( gambut, red) sebagai pupuknya,” ulasnya.

Dalam ukuran tanah satu rante, tambahnya, akan menghasilkan lobang sebanyak lebih kurang 3000-an dan tentu saja membutuhkan bibit kencur setara dengan banyak lobang semaian tersebut. Dalam hal perawatannya, katanya, hanya membutuhkan beberapa jenis pupuk ketika memasuki usia tanaman berumur 3 bulan. “Usia 3 bulan butuh pupuk urea,” ujarnya.

Dan, memasuki usia tanaman enam bulan sesekali diberi taburan pupuk NPK. “Hanya agar umbi kencur dapat lebih besar,” katanya. Bahkan, tambahnya, beberapa petani justru tanpa melakukan pemupukan. Namun, hasil panen akan berbeda dengan lahan yang mendapat perawatan terlebih dengan pemberian pupuk. “Ya berbeda hasilnya. Bahkan, sebaiknya diberi pupuk perangsang pengembangan umbi. Itu lebih baik,” jelasnya.

Setiap tanah seukuran satu rante, tambahnya akan menghasilkan umbi kencur sebanyak 2 ton. Bahkan, jika perawatan lebih baik, tidak tertutup kemungkinan akan mencapai lebih banyak. “Ada juga kencur yang baik itu menghasilkan kencur 1 Kg perlobangnya,” imbuhnya. Namun, tambahnya dengan tingginya harga nilai beli pupuk di daerah itu menyebabkan banyaknya tanaman kencur yang tak memperoleh pupuk. Sehingga, ketika hasil panenan yang dilakukan akan memprihatinkan. Panen yang dilakukan, tamb ahnya terkesan sesuai keinginan petani. Tapi, idealnya sepuluh bulan usia tanam. “Semakin lama usia tanam justru lebih baik,” paparnya.

Namun, melihat kondisi penghasilan kaum pria sebagai nelayan di daerah itu yang kian memperihatinkan pasca semakin banyaknya kapal-kapal penangkap ikan dengan ukuran besar, membuat hasil tangkapan semakin kecil. Tak ayal, untuk mencukupi kebutuhan keluarga, hasil panen tanaman kencur dijadikan sebagai penopang keuangan keluarga. “Walau harga jual turun, namun mesti tetap dijual untuk mencukupi keuangan keluarga,” ujarnya.

Butuh Perhatian Pemerintah

Rukiyah mengakui peran sebagai petani kencur sudah relative lama digelutinya. Disela-sela sebagai ibu rumahtangga, dirinya sudah berperan dalam budidaya kencur selama sepuluh tahun belakangan.

Namun, sepanjang rentang waktu yang telah dilaluinya, dirinya serta para petani kencur lainnya belum pernah menerima bantuan dari pihak Pemerintah setempat. Padahal mereka, tambahnya sangat mendambakan hal itu.

Mereka membutuhkan suntikan penyediaan pupuk dan sarana pertanian lainnya. Bahkan, mengharapkan penambahan wawasan dalam olah tanah budidaya tanaman kencur. Dan,khususnya dalam hal pemasaran hasil panen yang lebih dapat menjamin harga pasar relative tinggi. Sehingga, menunggu peran pihak terkait untuk dapat memberikan perhatian dan pembinaan terhadap mereka. “Tidak pernah sekalipun kami mendapatkan bantuan pemerintah,” paparnya. Untuk itu, katanya, mereka bersedia membentuk kelompok jika memang dibutuhkan.

Apalagi, ujarnya nilai jual tanaman itu mengalami kemerosotan yang signifikan disbanding penjualan sebelumnya. Sebab, untuk harga penolakan kepada para sub agen di kawasan itu, mereka hanya mendapatkan Rp2000 hingga Rp2200 perkilogramnya. Sedangkan sebelumnya, harga kencur tersebut sempat menembus level Rp5000 perkilogramnya. Dia katanya tidak mengetahui permasalahan penyebab penurunan harga itu. Bahkan, mereka kurang mengetahui secara pasti pangsa pasar perdagangan kencur. “Memang kabarnya kencur kami dijual ke Rantauprapat dan kota Medan. Tapi, kalau ternyata sampai ke kota Jakarta, itu diluar pengetahuan kami,” ujarnya. Sehingga, keterbatasan wawasan penyebab para petani setempat tidak mampu membaca pangsa pasar dan upaya yang dibutuhkan dalam mempertahankan kestabilan harga jual.

Bahkan, ujarnya, mereka bakal terancam tidak dapat lagi berprofesi sebagai petani kencur ketika lahan yang dijadikan sebagai areal kebun sawit telah habis keseluruhannya se kecamatan Panai Hilir itu.

Sebab, pengalihfungsian lahan hutan menjadi areal perkebunan sawit terus terjadi di kawasan itu. “Ya, begitu tanaman sawit sudah beranjak besar, maka penanaman kencur diberhentikan. Tak bisa lagi,” ungkapnya.

Kencur Lebih Menjanjikan Dibanding Sawit

Sepanjang adanya budidaya tanaman kencur di daerah itu, jumlah luasan areal perkebunan sawit yang terbakar menurun drastic. Bahkan sama sekali tidak pernah terjadi. Sebab, selain terjadinya proses pemeliharaan lahan yang dilakukan petani kencur, juga tanaman kencur sendiri mampu mengurangi kebakaran lahan perkebunan sawit. Padahal, tekstur tanah gambut yang notabene mudah terbakar ketika musim kemarau.

Rukiyah menyebutkan, nihilnya kebakaran lahan di tanah gambut dikawasan itu factor utamanya karena tanaman kencur. Sebab, tanaman tersebut relative basah dan mengandung air. Sehingga, menjadi penghambat rambatan api di lahan perkebunan sawit dan pertanian kencur. “Daun kencur basah dan umbinya juga mengandung air. Sehingga tidak mudah terbakar. Serta, petani kencur juga menjaga lahan tersebut,” paparnya.

Tidak hanya itu, katanya potensialitas tanaman kencur sebenarnya relative lebih menjanjikan untung disbanding budidaya komoditi kelapa sawit. Sebab, dalam perhektar tanah yang menurut kalkulasinya menghasilkan sebanyak 25 rante ukuran tanah akan lebih menjanjikan prekonomian. Asumsinya, dengan lahan seluas satu hektar dengan pola tanam perbulannya sebanyak dua rante tanaman kencur, maka dalam perbulannya akan menghasilkan dua rante kebun kencur. Dan, kalkulasinya, perbulan akan menghasilkan minimal 4 ton kencur. “Jika perrante mampu menghasilkan dua ton, maka perbulan akan mendapatkan empat ton kencur,” ulasnya.

Jika dibanding dengan harga jual belakangan ini, katanya mereka menjual dengan harga Rp2ribu perkilo, maka setiap rante akan menghasilkan Rp2juta. “Pertahun akan mendapatkan hasil kotor Rp44 juta perhektar. Hanya saja untuk tanaman kencur lebih butuh jumlah tenaga kerja yang relative banyak,” tambahnya.
(fdh)

Budidaya Nenas Pane tak Semanis Rasanya

Bicara Labuhanbatu, tentu belum lengkap jika tak membahas Labuhan Bilik. Soalnya, sejarah daerah tersebut bermula dari muara pertemuan arus sungai Barumun dan DAS Bilah. Jika dikatakan kota Rantauprapat sebagai jantungnya Labuhanbatu, justru Labuhan Bilik adalah alat vital kelahiran Labuhanbatu. Dan, bicara Labuhan Bilik, maka tak lepas dari bahasan kian punahnya ikan spesifik yang ada disana. Ikan Terubuk. Serta, buah nenas yang tak lekang dengan nama daerah itu. Nenas Pane.

Diantara keduanya, memiliki persamaan yang erat. Selain berasal dari

satu wilayah, juga upaya untuk melestarikannya sama-sama terkesan

kurang menjadi perhatian khusus. Padahal, symbol dari kawasan tersebut

adalah keduanya.

Dan, tak lengkap rasanya pertanda pernah menginjakkan kaki dan bukti

usai berkunjung ke kota Labuhan Bilik sebagai ibukota kecamatan Panai

Tengah, Labuhanbatu bila belum mencicipi rasa buah nenas pane. Jika

ingin menuju ke kawasan itu, pendatang dapat menempuh dua jalur.

Yakni, via perairan dan via daratan. Semenjak dahulu, untuk dapat

mencapai kawasan tersebut, warga mesti menuju kawasan Tanjung Sarang

Elang, yang memiliki jarak tempuh sekira 80-an kilometer dari

Rantauprapat. Itu dapat dilakukan dengan menumpangi berbagai sarana

transportasi darat. Selanjutnya, mesti menyeberangi muara dengan

kenderaan air. Dengan sarana transportasi air, maka membutuhkan waktu

sekira 10 menit.

Tapi, setelah ditembusnya akses prasarana transportasi darat dari Kota

A Jamu, kecamatan Panai hulu, Labuhanbatu dengan pembangunan jembatan

Sei Rakyat, maka transposrtasi darat lebih mudah. Walau, infrastruktur

jalan daratnya masih terkesan jauh dari optimal. Sebab, puluhan

kilometer belum memperoleh pengerasan dan pengaspalan dengan hotmix.

Sehingga, ketika dimusim penghujan akan mengakibatkan badan jalan yang

labil dan lembek berlumpur. Sementara, ketika dimusim kemarau akan

dihiasi dengan debu-debu yang berterbangan.

Labuhan Bilik adalah wilayah yang ketika masa kolonial Belanda dahulu

sudah cukup terkenal. Itu terbukti dengan masih banyaknya keterdapatan

dan bertahannya berbagai bangunan tua zaman colonial Belanda. Meski,

terkesan tidak mendapatkan perawatan yang memadai.

Dan, karakteristik warga sekitar terkesan ramah tamah. Serta, tentu

saja dengan logat bahassa special daerah setempat yang dikenal dengan

bahasa Bilah/Pane.

Sabtu kemarin, penulis dan beberapa insan pers yang turut

dalam rombongan anggota Legislatif Labuhanbatu, melakukan kunjungan ke

daerah itu. Tujuan utama tentu saja ingin melihat dari dekat kondisi

warga setempat. Terlebih kondisi ekonomi para petani Nenas Pane

disana.

Ironis memang, pemberdayaan para petani nenas sangat minim. Padahal,

potensialitas buah tersebut sangat bagus untuk menembus pasar. Karena,

selain memiliki rasa yang gurih, nenas tersebut juga memiliki aoma

spesifik dan khas. Jangankan untuk mendapatkan kucuran bantuan

perrmodalan dalam pengelolaan areal perkebunan, bahkan peningkatan

sumber daya manusia (SDM) petaninya terkesan sangat minim dilakukan

pihak pemerintah setempat.

Filosofi Nenas

Tampilan buah tersebut sangat menarik. Memiliki mahkota yang tertata

rapi. Ya, Nanas adalah buah yang sangat filosofis. Sebab, memiliki

warna kekunjingan laksana emas. Dan, tentu saja itu melambangkan

keceriaan dan ekspresif. Sementara, daun mahkotanya yang hijau itu,

diyakini melambangkan hayat. Ya, warga setempat ada yang memiliki

pemahaman tentang itu. Filosofi itulah terkadang membuat buah tersebut

tak jarang menjadi lambang gelar demokrasi desa dalam pemilihan kepala

desa. Acapkali calon Kades memilih symbol nenas sebagai citra dirinya.

“Nenas adalah buah raja,” ujar seorang warga setempat ketika

disambangi Penulis. Sebab, kata dia, Nenas memiliki mahkota, layaknya

raja dan seorang Ratu. Selanjutnya, kata dia, keunikan buah nenas

dilihat dari tatanan dan teksturnya yang berduri, sebahagian kalangan

menilai melambangkan perlindungan dan sikap tidak bersahabat. “Daging

buah nanas juga melambangkan kekayaan jiwa,” ujarnya. Pastinya, kata

dia, rasa nanas melambangkan kekayaan jiwa itu punya sifat yang

beragam.

Juga, di berbagai tempat di belahan bumi negeri ini, bahkan ada yang

melambangkan buah tersebut memiliki pandagan yang khusus dalam menilai

buah itu. Bahkan, ada banyak tempat bisa ditemukan ornament bangunan

yang di design dengan mengambil sifat corak nenas. Seperti halnya,

rumah-rumah tradisioni Banjar. Warga disana memiliki kesan dan makna

yang dalam bagi arsitektur banjar. Diyakini, merupakan perlambangan

dan dianalogikan sebagai pembersihan dari kekotoran sifat-sifat buruk

seperti sombong, dengki, takabur, berprasangka buruk, dan semua sifat

jelek lainnya. Ornamen nanas yang ada di Rumah Banjar, atau bangunan

dengan arsitektur Banjar memiliki makna simbolik untuk mengundang

setiap orang datang bersilaturrahmi ke rumah tersebut. Dan, sebagai

lambing kebudayaan setempat.

Sementara, Nanas juga diakui merupakan buah yang terasa nikmat, dapat

diolah menjadi beragam makanan yang menyegarkan. Dapat tumbuh dimana

saja, tanpa memikirkan air yang cukup. Tak heran buah ini mudah

dijumpai diberbagai tempat. Selain itu, diakui buah nenas (pineapple)

memiliki khasiat dan mengandung vitamin B dan C. Nanas diakui dapat

mencegah terkena serangan jantung dan stroke / struk. Dapat mengobati

beragam penyakit dan gangguan kesehatan seperti, penyembuhan luka dan

menyembuhkan infeksi pada saluran pencernaan.

Petani Nenas Tersandung Pemasaran

Nenas Pane memiliki sejarah panjang tersendiri. Diakui warga, awal

kehadiran nenas jenis itu sudah berlangsung sejak tahun 1902 lalu.

Itu, ketika Alm Husein seorang perantauan dari kota Bogor datang ke

wilayah itu dengan membawa bibit buah nenas.

Syahdan, Alm Husein lah sebagai awal petani yang membudidayakan nenas

di daerah itu. Didukung tekstur tanah yang memiliki unsure hara jenis

gambut, pengembangan buah nenas kian berhasil. Dan, Desa Pasar III,

dengan memiliki 4 Dusun menjadi sentra budidaya buah nenas di Labuhan

bilik. Dahulu seluruh Desa tersebut menjadi lokasi penanaman nenas.

Tapi seiring perkembangan jaman. Ditimpali lagi kurang optimalnya pola

budidaya dan masuknya berbagai jenis komoditas pertanian dan

perkebunan, luasan lahan perkebunan nenas kian berkurang. Bahkan,

memasuki tahap mengkhawatirkan. Kini, wilayah budidaya buah tersebut

hanya terdapat di dua dusun. Yakni, dusun III dan IV, Desa Pasar Tiga

Labuhan Bilik.

Kurangnya perhatian pihak pemerintah kabupaten Labuhanbatu dituding

sebagai ‘bencana’ bagi petani. Apa lacur, pembinaan yang pernah

dilakukan terkesan hanya perrnah dilakukan sekira 25-an tahun silam.

Selebihnya, warga hanya melakukan eksperimen dan tata kelola tanah

sendiri dalam mempertahankan budidaya perkebunan nenas pane.

Selain terbentur ketersediaan bantuan-bantuan olah tanah dan

peningkatan wawasan SDM. Petani juga mengakui memiliki soalan mendasar

dalam menembus Pasar. “Kesulitan memasarkan kendala utama,” aku Jumono

(51) dan Mahfud (46) petani nenas setempat. Kata mereka, soal bantuan

pemerrintah hanya pernah diterima ketika dua decade lalu. “Pernah

menerima bantuan. Sekitar 25 tahun silam,” ujar mereka polos. Bantuan

tersebut, tambah Jumono berupa bantuan pupuk urea. Selebihnya, hingga

kini tidak ada lagi bentuk perhatian yang diberikan pemerintah. “Tak

pernah mendapatkan penambahan wawasan dan ilmu,” tegasnya. Padahal,,

aku mereka, petani juga merindukan pembinaan dari pihak penyuluh

pertanian lapangan (PPL) terrkait cara budidaya nenas yang baik.

Termasuk, dalam olah tanah yang bertekstur gambut. “Daerah sini

kawasan gambut. Tentu butuh cara tersendiri untuk melakukan budidaya

tanaman,” paparnya.

Dikatakannya, dalam mengatur tatacara dan jadwal penanaman dan

pemanenan, para petani hanya melakukan eksperimen-eksperimen

tersendiri. Dan, kisah yang tak dapat mereka lupakan ketika para

anak-anak setempat beberapa tahun lalu, ketika tanpa sengaja menyiram

sisa larutan bahan kimia karbet ke tanaman nenas. Tak lama, pohon

tersebut mengeluarkan buah. “Aneh. Pohon nenas lebih cepat berbuah,”

aku Jumono diamini Mahfud. Sejak itu, para petani jadi dapat lebih

mudah mengatur jadwal penanaman dan jadwal panen. “Biasanya pohon

nenas berbuah setahun sekali. Tapi dengan bantuan karbet dapat lebih

cepat, setidaknya 4 bulan sudah bias panen,” ulas mereka. Sehingga,

untuk luasan tanah dengan ukuran 20×20 meter dapat ditanami sebanyak

400 pohon. Dan, menghasilkan sekira 350 buah nenas. “Ukuran satu rante

tanah hasilnya sekitar 350 buah,” ujar Jumono. Sementara, katanya,

harga jual untuk buah yang benar-benar matang/masak ditolak dengan

harga jual Rp2000 perbuah. Dan, untuk harga yang masih setengah

matang/mentah dijual dengan harga Rp1000/buah.

Tumpang Sari Tanaman

Kondisi itu memang cukup memprihatinkan bagi kalangan petani nenas.

Khususnya, untuk perekonomian keluarga petani. Tapi, untuk

mempertahankan kawasan itu sebagai sentra penghasil nenas pane, petani

juga terpaksa mencari cara untuk terus membantu penghasilan keluarga.

Salahsatunya dengan pola tumpang sari tanaman. Berbagai jenis tanaman

pernah dicoba untuk penumpangsarian tanaman dengan nenas. Tapi, belum

diperoleh tanaman yang pasti. Sebab, salah-salah bahkan merusak untuk

tanaman nenas. Khususnya kehadiran komoditi tanaman Kelapa Sawit,

sangat mempengaruhi psikologi para petani. Secara ekonomi, komoditi

tanaman keras itu jelas merusak bagi tanaman nenas. Selain, penyebab

dampak negatif keringnya persediaan air yang dibutuhkan tanaman nenas

pane yang butuh kelembaban tanah, juga penghambat proses fotosintesis

kebutuhan penyerapan cahaya matahari. “Daunan pohon sawit menghambat

masuknya cahaya matahari,” imbuh Jumono. Dan, anehnya, tambah Mahfud

petani juga pernah uji coba tumpang sari penanaman buah kakao, juga

mengalami kegagalan. Karena, tanaman tersebut mengalami kematian.

“Pohon kakao jadi mati semua. Kami tak mengetahui penyebabnya. Mungkin

karena pengetahuan kami kurang untuk hal-hal seperti itu,” kata

mereka.

Mendapat Simpatik

Kalangan DPRD Labuhanbatu terkesan prihatin dengan penuturan para

petani nenas pane di kawasan itu. Bahkan, anggota Legislatif yang

dipimpin langsung Ketua DPRD setempat Hj Elya Rosa Siregar mengaku

prihatin. Dan, berjanji akan menampung aspirasi warga.

Pertemuan Sabtu (20/3), lalu, usai mengunjungi langsung kebun nenas

pane milik warga, pertemuan antara rombongan Legislatif digelar di

balai desa setempat. Hadir ketika itu, Sekcam Panai Tengah Agus Tiar,

Kades Pasar Tiga Salikin dan puluhan warga lainnya. Terungkap, sejak

puluhan tahun yang lalu perkebunan nenas milik warga tidak berkembang

dengan baik. Sebabnya, mereka tidak dapat memasarkan dengan

sendirinya. Sehingga untuk pemasaran terpaksa kepada penampung yang

harganya jauh lebih murah.

Untuk itu mereka berharap agar rombongan DPRD Kabupaten Labuhanbatu

dapat menerima aspirasi warga setempat. Disana juga mereka meminta

perhatian dari Pemkab Labuhanbatu dan DPRD untuk dapat merealisasikan

mesin pembuat sirup nenas. “Kami berharap agar DPRD dapat membantu

kami memberikan mesin pembuat sirup nenas, agar nenasnya dapat

dikelola langsung dan dijual dengan harga yang lebih tinggi, atau

tolong diberikan solusi bagaimana cara kami memasarkan nenas ini agar

budi daya nenas ini tidak punah sama sekali,” terang Kades Pasar Tiga

kala itu.

Lebih jauh diterangkan Salikin dan warga lainnya, dahulunya, nenas

yang berasal dari Labuhanbilik rasanya masih unggul bahkan pernah

merambah negara Tailand dan sampai ke Istana Kepresidenan saat

kepemimpinan Presiden RI Megawati Sukarno Putri. Namun lama-kelamaan,

akibat susahnya sistem pengangkutan untuk memasarkannya, petani disana

semakin sulit menjualnya dengan harga yang layak. Jika dikelola dengan

mesin pembuat keripik yang dibantu pemerintah tahun 2006 lalu, harga

jualnya tidak terjangkau pembeli kelas menengah kebawah. “Rasa nenas

daerah ini tidak kalah dengan daerah lain. Namun kami terbentur sistem

pemasaran,” ujarnya.

Di kawasan itu, kata dia, dari sekitar 483 kepala keluarga, sedikitnya

223 kepala keluarga merupakan petani nenas pane. Dengan luas lahan

nenas tinggal hanya sekira 200-an hektar. “Mereka (Petani nenas)

terpaksa membuat lahan tumpang sari,” ujarnya.

Katanya, untuk meningkatkan taraf ekonomi warga, pihak aparat desa dan

warga telah berulang kali melakukan rembug desa untuk mencari solusi.

Terlebih mempertahankan kebun sawit agar tidak dialihfungsikan menjadi

perkebunan komoditi lainnya. Dan, hasil didapat agar dicipta industry

kecil penghasil sirup berbahan dasar dan beresense buah nenas. Tapi,

aspirasi itu tak belum dapat terealisasi. Karena minimnya, pendanaan

pengadaan pelbagai peralatan produksi.

Bahkan, dalam beberapa kali Musrenbang antar Desa dan Kecamatan, hal

penyediaan mesin pembuat sirup telah diusulkan, tetapi tidak kunjung

berhasil. “Kami khawatir budidaya nenas ini akan hilang kemudian

hari,” paparnya.

PAdahal, warga desa memiliki wadah perkumpulan. Tapi, terkesan tidak

mendapat perhatian. “Apalagi kami disini punya koperasi tapi tidak

berfungsi. Kalaulah bisa kami berharap melalui koperasi dilakukan

pemasaran nenas ini, sekali lagi kami minta perhatian DPRD,” harap

Salikin dan diamini puluhan warga lainnya.

Ketua DPRD Labuhanbatu Hj Elya Rosa Siregar dan wakil rakyat lainnya

Ir David Siregar dari Fraksi Golkar, Lahmuddin Hasibuan Fraksi

Demokrat, Ponimin Fraksi PPP, Rudi Hartono Fraksi PBR dan Maya Sofa

Fraksi Golkar mengatakan akan memperjuangkan aspirasi warga terutama

kepada petani nenas yang saat ini kondisinya kurang beruntung.

Untuk itu mereka berharap agar warga setempat membuat surat atau

proposal tentang permohonan pengadaan mesin pembuat sirup.

Selanjutnya, kalangan legislative berjanji akan merealisasikan

perjuangan petani di tingkat birokrasi Pemkab Labuhanbatu.

Wakil rakyat tersebut yang mengaku turun kelokasi akibat mendengar

keluhan warga dari berbagai sumber juga menyarankan agar petani

mempertahankan luas areal tanaman nenas dan tidak lagi mengalihkan

dengan tanaman apapun. Terlebih, lokasi desa itu dinilai sangat

strategis untuk tempat pengembangan usaha demi meningkatkan

perekonomian ditengah masyarakat. Jika melihat kondisi Pemkab

Labuhanbatu, pengelolaan kebun nenas sudah tidak layak memakai cara

lama. “Kondisi ini pastinya menjadi beban bagi kami untuk melakukan

perubahan, terlebih kita mendengar besarnya biaya untuk pengembangan

berbagai potensi daerah,” jelas Lahmuddin kala itu. (fdh)

Pengumuman Hasil Ujian CPNSD Kabupaten Labusel

BUPATI LABUHANBATU SELATAN

P E N G U M U M A N
Nomor : 810/2391/BKD/III/2010

T E N T A N G

HASIL SELEKSI PENERIMAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH
DARI PELAMAR UMUM DI LINGKUNGAN PEMERINTAH
KABUPATEN LABUHANBATU SELATAN TAHUN 2010 Baca selebihnya »

Pengumuman Hasil Ujian CPNSD Kabupaten Labuhanbatu

P E N G U M U M A N
Nomor : 810 / / BKD–III / 2010
TENTANG
PENETAPAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH DARI
PELAMAR UMUM DI LINGKUNGAN PEMERINTAH
KABUPATEN LABUHANBATU TAHUN 2010

Baca selebihnya »

Pengumuman Hasil Ujian CPNSD se Sumut

UNTUK DAPAT MELIHAT HASIL UJIAN CPNSD DI BEBERAPA KABUPATEN/KOTA SE SUMATERA UTARA,
SILAHKAN KLIK LINK BERIKUT INI :

http://www.medanbisnisdaily.com/e-paper/2010-12-22/1.pdf

http://www.medanbisnisdaily.com/e-paper/2010-12-22/1A.pdf

http://www.medanbisnisdaily.com/e-paper/2010-12-22/2.pdf

http://www.medanbisnisdaily.com/e-paper/2010-12-22/2A.pdf

http://www.medanbisnisdaily.com/e-paper/2010-12-22/3.pdf

http://www.medanbisnisdaily.com/e-paper/2010-12-22/3A.pdf

http://www.medanbisnisdaily.com/e-paper/2010-12-22/4.pdf

http://www.medanbisnisdaily.com/e-paper/2010-12-22/4A.pdf

Pemenang Pertama Lomba Karya Tulis Pilkada Labuhanbatu

Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Labuhanbatu, Sumut mengumumkan pemenang lomba karya tulis Pilkada Labuhanbatu.

Keluar sebagai pemenang pertama adalah Fajar Dame Harahap dari pers, juara kedua Zulfa Elya Nasution (pers). Dan Juara ketiga Irwan Safii (pengajar).

Ketua KPUD Labuhanbatu Suhari Pane menyerahkan hadiah lomba karya tulis tersebut di secretariat KPU Labuhanbatu. Dia mengatakan, naskah yang ikut serta dalam kegiatan tersebut belasan naskah. Akan tetapi, lanjut dia, setelah dilakukan seleksi dan proses penilaian yang melibatkan unsur KPU, akademisi dan pers, ditetapkan tiga pemenang. “Tim penilai yang menentukan pemenang lomba,” ujarnya.

Dia mengatakan, KPU Labuhanbatu menyelenggarakan kegiatan tersebut karena merupakan dari bahagian pendidikan politik. Sehingga dapat merangsang masyarakat untuk menuangkan harapan dalam pelaksanaan Pemilukada yang lebih baik.

“Kami akan mendapatkan masukan seputar harapan masyarakat tentang pelaksanaan Pilkada,” paparnya.

Selain itu, tambah Suhari, kegiatan serupa diharapkan dapat dilakukan pihak lainnya. Tujuannya, agar dapat merangsang kreatifitas warga, khususnya generasi muda Labuhanbatu dalam bidang kepenulisan dan sastra. “Semoga upaya memotivasi kreatifitas generasi muda dapat dipicu salahsatunya dengan melaksanakan lomba-lomba kepenulisan,” ujar dia.

Pemenang pertama, lomba tersebut kata Suhari memperoleh hadiah berupa uang sebesar Rp2juta. Sedangkan juara dua mendapatkan uang senilai Rp1,5 juta dan juara III menerima uang senilai Rp1juta. “Serta ditambah masing-masing mendapatkan sertifikat,” tandasnya.

Pemkab Labusel Terima 524 Orang PNS

Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Selatan berdasarkan Pengumuman Bupati Labuhanbatu Selatan No. 810/60/KPEG/2009 tentang Penerimaan calon pegawai Negeri Sipil daerah dari pelamar umum di lingkungan pemerintah kabupaten Labuhanbatu Selatan tahun 2009, akan menerima Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) sebanyak 524 orang. Baca selebihnya »

Penerimaan CPNSD di Pemkab Labuhanbatu

Bupati Labuhanbatu melalui surat no 810/2657/bkd/2009 menerima calon pns daerah dari pelamar umum. itu, sebagai implementasi dari surat menpan no179.P/M.PAN/9/2009. Baca selebihnya »

Anggota DPRD Belum Laporkan Kekayaan Kepada KPK

Kejujuran anggota legislatif melapor kekayaannya layak dipertanyakan, menyusul setelah dilantiknya 50 orang anggota DPRD Labuhanbatu periode
2009-2014. Baca selebihnya »

DAU Sudah Dibagi Pusat, Dana Pendamping Pemekaran Tidak Diberikan

Berdalih Dana Alokasi Umum (DAU) sudah dibagi pemerintah pusat kepada kabupaten pemekaran, Pemkab Labuhanbatu merasa tak perlu memberikan dana pendamping pemekaran ke kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) dan Labuhanbatu Selatan (Labusel). Baca selebihnya »

Minta Simulasi Pengisian Dewan, KPUD Labuhanbatu Surati KPU Pusat

Penyelenggara Pemilihan Umum (Pemilu) di Labuhanbatu menyurati pihak KPU Pusat agar melakukan simulasi teknis pengisian anggota DPRD Labuhanbatu, Labusel, dan Labura. Baca selebihnya »

Dewan Hanya Jalan-jalan ke Pemkab Labusel

Anggota DPRD Labuhanbatu melakukan silaturahmi ke Pemkab Labuhanbatu Selatan (Labusel) tanpa sepengetahuan kesekretariatan dewan setempat. Baca selebihnya »

Setahun Pemekaran Labusel dan Labura, Aset Belum Ada yang Diserahkanterimakan

Pemkab Labuhanbatu terus melakukan inventarisir asetnya di dua kabupaten yang dimekarkan. Sampai saat ini menjelang setahun pemekaran kedua daerah otonomi baru itu, belum satupun aset yang diserahterimakan. Baca selebihnya »

Pemkab Labuhanbatu Butuhkan 436 PNS

Pemkab Labuhanbatu membutuhkan tenaga pegawai negeri sipil (PNS) baru 436 orang. Kebutuhan PNS tersebut akan direkrut melalui seleksi calon pegawai negeri sipil daerah (CPNSD) yang  segera dilakukan. Baca selebihnya »

Pengadaan Alkes di Labusel Dipertanyakan

Proyek pengadaan alat kesehatan (alkes) di Labuhanbatu Selatan (Labusel) senilai Rp7,3 miliar dari APBD Tahun 2009 di lingkungan Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat diduga  tidak sesuai aturan karena hingga kini belum memiliki Kepala Dinas (Kadis). Baca selebihnya »

KPUD dan Berbagai Ormas dan Parpol Galang Dana untuk Korban Gempa Sumbar

Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Labuhanbatu, menghimpun dana untuk korban bencana alam gempa Pariaman, Sumatra Barat. Kegiatan menghimpun dana ini, dilakukan seusai melaksanakan acara halal bi halal di kantornya, Sabtu (3/10)siang. Baca selebihnya »

Pilkada di Labuhanbatu, kemungkinan Tidak Serentak Dilaksanakan

Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) dan Labuhanbatu Selatan (Labusel) masih belum jelas, karena kedua pemerintah otonom baru tersebut, samasekali belum memberikan laporan persiapan keuangann untuk Pilkada April 2010. Baca selebihnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.